- Polisi menggerebek markas sindikat judi online internasional di gedung perkantoran kawasan Hayam Wuruk, Jakarta, sejak Jumat (8/5/2026).
- Aparat menangkap 320 warga negara asing dan satu WNI yang diduga mengelola 75 situs judi secara terorganisir.
- Sindikat ini diduga merupakan migrasi operator judi dari Kamboja yang menjadikan Indonesia sebagai lokasi operasional baru mereka.
Suara.com - Kawasan gedung perkantoran di Hayam Wuruk, Jakarta Barat dijaga ketat oleh pasukan Brimob Polda Metro Jaya sejak Jumat (8/5/2026) malam.
Situasi di lapangan sempat memantik perhatian publik yang bertanya-tanya tentang apa yang sebenarnya terjadi di sana.
Rasa penasaran publik terjawab pada Sabtu (9/5/2026), setelah kepolisian memberikan penjelasan resmi soal keberadaan markas sindikat judi online atau judol berskala internasional yang melibatkan 320 warga negara asing (WNA) dan satu WNI di sana.
Di lokasi tersebut polisi juga menyita uang tunai dalam berbagai mata uang, mulai dari rupiah hingga dolar Amerika Serikat dan Dong Vietnam.
Namun yang membuat kasus ini jauh lebih besar dari sekadar penggerebekan judol biasa adalah satu fakta penting: jaringan tersebut diduga merupakan bagian dari migrasi besar-besaran operator judi online dari kawasan Indocina ke Indonesia.
Dari Kamboja ke Jakarta
Selama beberapa tahun terakhir, Kamboja dikenal sebagai salah satu pusat operasi judi online dan scam digital terbesar di Asia Tenggara.
Ribuan operator bekerja di balik gedung-gedung tertutup, menjalankan penipuan daring, perjudian, hingga manipulasi investasi lintas negara.
Tetapi ketika pemerintah Kamboja mulai melakukan razia dan pengetatan besar-besaran, sebagian jaringan itu diduga mulai mencari “rumah” baru.
Baca Juga: Waktu Makin Mepet, Puan Buka Suara Soal Arah Pembahasan RUU Pemilu
Indonesia tampaknya menjadi salah satu tujuan mereka.
“Di Kamboja dilakukan razia besar-besaran, mereka berpindah dan menjadikan Indonesia sebagai lokasi baru untuk beroperasi,” ujar Menteri Imigrasi dan Pemasyarakatan Agus Andrianto.
Dugaan itu diperkuat oleh komposisi para pelaku yang ditangkap. Mayoritas berasal dari negara-negara Asia Tenggara daratan: Vietnam, Laos, Thailand, Myanmar, hingga Kamboja.
“Bisa kita lihat, warga negara-warga negara yang datang ke sini adalah Vietnam, Kamboja, Laos, Thailand, Myanmar. Itu daerah Indocina,” kata Sekretaris NCB Interpol Indonesia Divhubinter Polri, Brigjen Untung Widyatmoko.
Di tengah ratusan WNA tersebut, polisi juga menemukan satu WNI yang ternyata memiliki rekam jejak bekerja di Kamboja.
“Datang ke sini, dan bekerja lagi di sini,” ujar Dirtipidum Bareskrim Polri Brigjen Wira Satya Triputra.
Potongan-potongan fakta itu membentuk dugaan baru: ada “alumni” jaringan Kamboja yang mencoba membangun ulang mesin bisnis judi online mereka di Jakarta.
Mengapa Melibatkan WNA?
Sekilas, muncul pertanyaan sederhana: mengapa jaringan ini justru dipenuhi pekerja asing?
Kriminolog Universitas Indonesia (UI), Adrianus Meliala, melihat ada alasan strategis di baliknya.
Menurut dia, para operator sengaja menggunakan WNA karena mereka berperan bukan hanya sebagai pekerja teknis, tetapi juga alat manipulasi psikologis.
“Pemanfaatan WNA itu dalam rangka komunikasi agar nyambung, mengingat mereka bisa mengaku sebagai orang Hongkong misalnya. Bagi wanita yang terpikat, atau nasabah judol yang baru mulai, maka komunikasi bisa lancar,” ujar Adrianus kepada Suara.com.
Dalam praktik judi online modern, operator bukan sekadar penjaga server. Mereka menjadi “aktor” yang membangun identitas palsu, menciptakan kedekatan emosional, hingga memancing korban agar terus bermain.
Karena itu, kemampuan bahasa, logat, dan identitas asing menjadi bagian penting dari strategi bisnis.
Dan semua itu dijalankan secara profesional.
75 Situs dalam Satu Atap
Dari luar, gedung di Hayam Wuruk itu tampak seperti kantor biasa. Karyawan keluar masuk. Laptop dan perangkat elektronik dibawa setiap hari. Aktivitasnya nyaris tak berbeda dengan perusahaan digital pada umumnya.
Namun di balik pintu-pintu kantor itulah, polisi menemukan fakta mencengangkan. Ada 75 situs yang dikelola dari satu gedung itu saja.
"Dilakukan secara terselubung, dengan memanfaatkan sarana elektronik dan pola operasional digital lintas negara yang terorganisir," beber Wira.
Ratusan pekerja dibagi dalam berbagai divisi. Ada bagian pemasaran yang bertugas mencari pemain baru. Ada customer service yang melayani transaksi dan keluhan. Ada pula tim accounting yang mengatur arus uang.
Strukturnya menyerupai perusahaan teknologi modern.
Mereka juga menggunakan berbagai cara untuk menghindari pemblokiran pemerintah, mulai dari pergantian domain hingga permainan karakter pada nama situs.
Itulah sebabnya gedung perkantoran dipilih sebagai markas. Di tempat seperti itu, aktivitas digital besar dan lalu lintas perangkat elektronik justru tampak normal.
Aliran Dana & Pencucian Uang
Saat penggerebekan dilakukan, polisi menyita uang tunai Rp1,9 miliar, 53,82 juta Dong Vietnam, dan 10.210 dolar AS.
Tetapi aparat meyakini angka itu hanyalah “uang receh” dari operasi yang jauh lebih besar.
Sebab skala bisnis judi online di Indonesia memang sudah berada di level mengkhawatirkan.
Data PPATK menunjukkan total perputaran dana judi online sepanjang 2017 hingga 2025 mencapai sekitar Rp1.163 triliun dengan lebih dari 956 juta transaksi.
“Praktik judi online ini masih dijalankan secara terorganisir dan melibatkan jaringan yang kompleks,” ujar Ketua Tim Humas PPATK Tri Andriyanto.
Masalahnya, uang hasil judi online hampir tidak pernah bergerak secara sederhana.
Jaringan biasanya memakai rekening nominee atau rekening pinjaman untuk menyamarkan transaksi. Satu kelompok bisa mengoperasikan ratusan bahkan ribuan rekening sekaligus.
“Upaya penindakan harus melalui analisis dan penelusuran transaksi keuangan yang terindikasi aktivitas judi online, termasuk identifikasi rekening nominee, pola transaksi mencurigakan hingga aliran dana lintas platform dan lintas rekening,” jelas Tri.
Karena itu, Bareskrim kini menggandeng PPATK untuk memburu siapa pemodal utama di balik operasi Hayam Wuruk.
Sebab bagi penyidik, ratusan operator hanyalah lapisan paling bawah dari sebuah bisnis bernilai triliunan rupiah.
Proses Hukum di Indonesia
Kasus ini juga membuka tantangan hukum baru: bagaimana menangani ratusan tersangka asing dalam satu perkara besar?
Bareskrim memastikan para WNA yang telah ditetapkan sebagai tersangka tidak akan dipulangkan begitu saja. Mereka akan diproses pidana di Indonesia hingga tahap persidangan.
“Terhadap mereka nanti yang sudah kita tetapkan sebagai tersangka akan tetap kami proses secara pidana dan akan kami limpahkan ke kejaksaan sampai dengan sidang pengadilan,” ujar Wira.
Dari total 320 WNA yang diamankan, sebanyak 275 orang sudah berstatus tersangka. Mereka berasal dari China, Vietnam, Laos, Myanmar, Malaysia, Thailand, dan Kamboja.
Di saat bersamaan, polisi masih menelusuri siapa pihak yang menyewa gedung, mendatangkan pekerja asing, hingga menyediakan fasilitas operasional jaringan tersebut.
“Untuk melakukan penelusuran baik itu aliran dana maupun sponsor daripada mereka atau pelaku yang mendatangkan ke sini,” ujar Wira.
Alarm untuk Negara
Kasus Hayam Wuruk pada akhirnya memunculkan pertanyaan besar: bagaimana jaringan internasional sebesar ini bisa beroperasi di tengah Jakarta tanpa cepat terdeteksi?
Wakil Ketua Komisi III DPR RI, Ahmad Sahroni, menilai mustahil ratusan WNA dapat bekerja begitu lama tanpa dukungan aktor kuat di belakangnya.
“Siapa yang menggaji mereka? Siapa yang memfasilitasi? Pasti ada pemodalnya,” ujar Sahroni.
“Tidak mungkin 300 lebih WNA bisa beroperasi tanpa ada aktor kuat di belakangnya,” lanjutnya.
Sementara Anggota Komisi A DPRD DKI Jakarta, Kevin Wu, meminta pengawasan gedung perkantoran dan hunian diperketat agar kasus serupa tidak terulang.
Di sisi lain, pakar keamanan siber Alfons Tanujaya menilai jawaban utama dari kasus ini justru berada di perangkat digital yang disita polisi.
“Yang perlu diinvestigasi adalah semua perangkat digital yang ada di sana, lalu dilakukan forensik digital untuk mengetahui server pusatnya di mana,” ujarnya kepada Suara.com.
Dan mungkin di situlah inti persoalannya.
Kasus Hayam Wuruk bukan sekadar cerita tentang penggerebekan markas judi online. Ia memperlihatkan bagaimana Indonesia mulai dilihat sebagai lahan baru bagi jaringan internasional — tempat di mana bisnis ilegal dapat menyamar di balik gedung perkantoran biasa, bergerak senyap di tengah hiruk-pikuk kota.
Tag
Berita Terkait
Terpopuler
- Xiaomi 17 Jadi Senjata Baru Konten Kreator, Laura Basuki Tunjukkan Hasil Foto Leica
- 5 Bedak Lokal yang Awet untuk Kondangan, Tahan Hingga Belasan Jam
- Awal Keberuntungan Baru, 4 Shio Ini Akhirnya Bebas dari Masa Sulit pada 11 Mei 2026
- 6 Rekomendasi Sepeda 1 Jutaan Terbaru yang Cocok untuk Bapak-Bapak
- 5 Bedak Tabur Translucent Lokal yang Bikin Makeup Tampak Halus dan Tahan Lama
Pilihan
-
Fenomena Tim Musafir Masih Hiasi Super League, Ketegasan PSSI dan I.League Dipertanyakan
-
Nyanyi Bareng Jakarta: Melodi Penenang bagi Jiwa yang Terpapar Debu Ibu Kota
-
Salah Satu Korban Dikunci dari Luar, Dengar Kiai Ashari Lakukan Aksi Bejat di Kamar Sebelah
-
Review If Wishes Could Kill: Serial Horor Korea yang Bikin Kamu Mikir Sebelum Buat Permintaan!
-
Suporter Persipura Rusuh, Momen Menegangkan Pemain Adhyaksa FC Dilempari Botol
Terkini
-
TelkomGroup Resmikan Community Gateway Wamena
-
Kisruh LCC Empat Pilar, DPR Usul Juri Pakai Headset dan Rekaman Audio agar Penilaian Tak Bermasalah
-
Studi Ungkap Banyak Eksperimen Laut Salah Prediksi Dampak Pemanasan Global, Apa Dampaknya?
-
Kejagung Lawan Vonis Bebas 3 Bankir Kasus Sritex, Ini Alasannya
-
Michael Jackson Dituding Predator Seks Berantai Gunakan Juice Jesus hingga Xanax
-
Eks Dirut Pertamina Patra Niaga Divonis 6 Tahun dalam Kasus Korupsi Minyak Rp285 Triliun
-
Terbongkar dari Nyanyian Penjual Pecel Lele: Kronologi Sopir MBG Ditangkap saat Nyambi Kurir Sabu
-
Kejagung Jemput Paksa Bos PT Toshida, Jadi Tersangka Suap Ketua Ombudsman Nonaktif
-
Puan Maharani Tak Tinggal Diam Soal Larangan Nobar Film Pesta Babi: Memang Sensitif!
-
Palang Bambu dan HT Patungan, Warga Pertaruhkan Nyawa Jaga Perlintasan Liar