- Peneliti LIPI Mohamad Sobary mengkritik Presiden terpilih Prabowo Subianto yang dinilai antikritik dan menutup ruang dialektika intelektual secara terbuka.
- Sobary menegaskan bahwa program Makan Bergizi Gratis Prabowo tidak memiliki akar ideologi sosialisme kerakyatan yang jelas bagi masyarakat.
- Sikap fanatisme Prabowo terhadap program gagasannya dinilai sebagai ancaman yang mematikan nalar sehat bagi masa depan bangsa Indonesia.
Suara.com - Peneliti Senior Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Mohamad Sobary menilai ada kecenderungan fanatisme buta terhadap program buatan Presiden terpilih Prabowo Subianto yang menutup ruang dialektika dan kritik intelektual.
Dalam podcast Madilog di kanal YouTube Forum Keadilan TV, Sobary menyoroti bagaimana Prabowo memandang dunia intelektual dengan sebelah mata.
Menurutnya, Prabowo cenderung melihat dirinya sebagai sosok militer yang produktif, sementara kaum intelektual dianggap hanya penghasil kata-kata tanpa aksi nyata.
"Kemarahan dia itu urusannya dengan ketersinggungan pribadi, dengan cara dia memandang dirinya sebagai militer yang produktif dan kaum intelektual yang dianggap hanya memproduksi kata-kata mungkin jadi esai, mungkin jadi puisi," ujar Sobary, dikutip Jumat (15/5/2026).
Padahal, menurut Sobary, esai, puisi, dan cara berpikir kultural adalah instrumen penting untuk melawan apa yang ia sebut sebagai 'kedzaliman' (kezaliman) politik yang terencana.
Sobary juga membantah anggapan banyak pihak yang menyebut program-program Prabowo kental dengan nuansa sosialisme kerakyatan.
Ia menegaskan bahwa apa yang dijalankan Prabowo tidak memiliki akar pada sosialisme kerakyatan. Menurutnya, tidak memiliki baik itu sosialisme komunis maupun sosialisme Islam.
"Enggak, enggak ada. Gak ada urusannya dengan sosialisme. Baik sosialisme komunis, sosialisme Islam, tidak ada hubungannya itu semua," tegasnya.
Ia membandingkan dengan konsep “Rahmatan lil Alamin” dalam Islam yang menjamin keadilan bagi seluruh golongan. Sobary mempertanyakan apakah Prabowo pernah bersentuhan dengan gagasan tersebut.
Baca Juga: Sobary Kritik Cara Prabowo Mengagumi Bung Karno: Kagum, tapi Tak Pahami Political Wisdom-nya
Sebaliknya, ia melihat Prabowo hanya terjebak pada fanatisme terhadap program buatannya sendiri.
Soroti Program MBG: 'Dia Memandang Gagasannya Suci'
Salah satu poin krusial yang dikritik Sobary adalah program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Ia menilai Prabowo menunjukkan sikap antikritik dan fanatik terhadap program tersebut, meskipun banyak pihak mempertanyakan kelayakan di dalamnya.
"Prabowo mempunyai program yang itu dia jatuh cinta kepada programnya itu sendiri, tidak bisa diganggu gugat. MBG itu kan program yang membuat dia fanatik. Bung, dalam dunia berpikir tidak boleh ada fanatisme," kata Sobary.
Lebih lanjut, Sobary menyindir sikap Prabowo yang seolah memposisikan gagasannya sebagai sesuatu yang maksum atau tidak bisa salah.
Berita Terkait
-
Sobary Kritik Cara Prabowo Mengagumi Bung Karno: Kagum, tapi Tak Pahami Political Wisdom-nya
-
Mohamad Sobary Tegas Bantah Gus Dur Pernah Puji Prabowo Orang Paling Ikhlas: Tak Ada Kitabnya!
-
Kapitalisme Negara ala Prabowo, Mengulangi Kegagalan Venezuela?
-
Tepis Isu Intimidasi, Dudung Sebut Presiden Prabowo Terbuka pada Kritik: Jangan Dipelintir!
-
Satgas PKH Setor Rp10,27 Triliun dan 2,37 Juta Hektare Lahan Hutan ke Negara
Terpopuler
- Cara Menata Isi Dompet yang Baik Menurut Feng Shui agar Rezeki Lebih Lancar
- Amplop Raja Juli Menyusut SGD2.000, KPK Buka Peluang Periksa Ajudan hingga Kapolres Kuansing
- Masuk Desil 10 Padahal Penghasilan Pas-pasan? Jangan Panik, Ini Arti dan Penjelasan Resminya
- Contoh Teks Sambutan Ketua RT Malam Tirakatan 17 Agustus yang Singkat, dan Penuh Makna
- 4 Rice Cooker Mini Murah yang Cepat Matang dan Hemat Listrik Sesuai Review Pembeli
Pilihan
-
Prabowo: Ojol Sekarang Dapat 92 Persen Hasil Kerja, Pendapatannya Naik 3 Kali Lipat
-
Hadiri Sidang Tahunan, Intip Gaya Prabowo dan Gibran saat Tiba di Gedung Parlemen Senayan
-
Kampung Bahari Memanas! Massa Lawan BNN dan Brimob Pakai Petasan saat Gerebek Narkoba
-
Sudah Dibangun Sejak 2023, Sejauh Mana Bibit Sriwijaya Kemampo Pulihkan Hutan Sumsel?
-
Napak Tilas Jejak Kolonial Londo Ireng di Makam Kherkof Purworejo
Terkini
-
Local Media Community Gandeng Google Dukung Penguatan Ekosistem Media Lokal
-
Tegas! Menkeu Purbaya Ungkap Tak Ada Kenaikan Gaji Guru di 2027
-
Renjana Perca, Saat Fashion Indonesia Bertemu Ekonomi Sirkular
-
Modal Foto AI Berseragam Polisi, Pria di Bandung Tipu Korban dan Bawa Lari Uang
-
Insentif Guru Ngaji di Bogor Jadi Rp1,2 Juta per Tahun
-
Jaga Gajah Sumatera, Pertamina Kilang Plaju Perkuat Upaya Melestarikan Warisan Alam Sumsel
-
Temukan 1.500 Warga Terjebak Grup LGBT Daring, Pemkab Serang Siapkan Langkah Pembinaan
-
Bank Sumsel Babel dan Unsri Bersinergi Menyiapkan Generasi Pemimpin Masa Depan
-
Havaianas Debut Kitten Heel di Copenhagen Fashion Week
-
Perombakan Buku Sekolah, Solusi Literasi atau Cuma Proyek Bisnis Baru?