- Dokter Zulkifli S Ekomei mengkritik proyek IKN sebagai ambisi pribadi Jokowi yang dianggap tidak terencana dan bermasalah.
- Zulkifli menuduh adanya gangguan kejiwaan megalomania pada diri Jokowi yang memengaruhi pengambilan keputusan pembangunan Ibu Kota Nusantara tersebut.
- Aktivis tersebut mendesak audit korupsi IKN serta menyatakan bahwa penerbitan Kepres pemindahan ibu kota dapat merugikan negara.
Suara.com - Aktivis senior kebangsaan sekaligus penggugat pemindahan ibu kota negara ke IKN, Dokter Zulkifli S Ekomei, melontarkan pernyataan kontroversial soal latar belakang ambisi Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi) dalam membangun Ibu Kota Nusantara (IKN) di Kalimantan Timur.
Dalam podcast Madilog di kanal YouTube Forum Keadilan TV, Zulkifli secara terang-terangan menyebut Jokowi mengidap gangguan kejiwaan berupa megalomania, waham kebesaran yang dianggapnya menjadi akar dari keputusan-keputusan yang dinilai tidak terencana.
“Saya kira ini ambisi pribadi saja. Megalomania kalau saya lihat sejak awal saya melihat sosok ini ada gangguan kejiwaan gitu. Ada waham kebesaran ya, misalnya raja itu cuma punya satu kereta kencana, dia bawa delapan kereta kencana gitu lho," ujarnya, dikutip pada Sabtu (16/5/2026).
Zulkifli, yang juga seorang dokter, mengaku melihat tanda-tanda klinis tersebut dalam perilaku dan keputusan Jokowi selama menjabat. Ia menyoroti banyaknya keputusan yang dinilai dibuat secara spontan tanpa perencanaan matang.
"Tiba-tiba kayak orang nggak punya plan gitu kan? Nanti 17 Agustus kita adakan di sana, nggak jadi," sindir Zulkifli, merujuk pada wacana upacara kemerdekaan di IKN yang sempat menuai polemik.
Warisan IKN Disebut "Kerusakan", Bukan Legasi
Ditanya soal legasi yang ingin ditinggalkan Jokowi lewat IKN, Zulkifli tak memberikan penilaian positif. Menurutnya, apa yang ditinggalkan bukan legasi, melainkan persoalan yang mencoreng nama institusi negara.
"Kerusakan. Dalam hal banyak hal kerusakan, sudah institusinya rusak ya kan? Kalau legasi apa ini yang berbau aroma korupsi ya bukan legasi namanya, persoalan yang ditinggalkan," katanya.
Ia juga mempertanyakan absennya mekanisme koreksi terhadap Presiden. Zulkifli menyebut hilangnya Dewan Pertimbangan Agung dalam konstitusi lama sebagai salah satu sebab presiden bisa melenggang tanpa kontrol yang efektif.
Baca Juga: IKN Disebut 'Gegabah Terstruktur', Prabowo Diminta Evaluasi Proyek Era Jokowi
Sindir Prabowo: Kalau Waras Tidak Keluar Kepres
Zulkifli turut menyoroti langkah Presiden Prabowo Subianto yang pada Januari lalu mengunjungi IKN. Ia menilai kunjungan itu sebagai bentuk penghormatan yang berlebihan kepada pendahulunya.
Soal kemungkinan Prabowo menerbitkan Keputusan Presiden (Kepres) resmi pemindahan ibu kota ke IKN, Zulkifli menjawab dengan kalimat yang tajam, "Kalau waras tidak keluar. Kalau waras tidak keluar."
Menurutnya, menerbitkan Kepres itu sama saja dengan "bunuh diri" secara politik, mengingat banyaknya persoalan lain yang lebih mendesak untuk diselesaikan dan tingginya mudharat yang ditanggung negara.
Minta Korupsi IKN Diaudit, Jokowi Harus Bertanggung Jawab
Dalam konteks putusan Mahkamah Konstitusi (MK) yang menetapkan Jakarta tetap sebagai ibu kota negara hingga ada Kepres pemindahan, Zulkifli mendorong agar ada tindak lanjut hukum atas potensi korupsi dalam proyek IKN.
Berita Terkait
-
IKN Disebut 'Gegabah Terstruktur', Prabowo Diminta Evaluasi Proyek Era Jokowi
-
Singgung Nasib Bambang Tri hingga Jonan, Sobary Beberkan Cara Jokowi Matikan Karier Politik Lawan
-
Projo Bicara Soal Kesehatan Jokowi, PSI Langsung Buka Suara
-
Pengamat Sebut Akan Bawa PSI ke Senayan, Agenda Jokowi Keliling Indonesia Bukan Silaturahmi Biasa
-
PSI Siap Kawal Jokowi Safari ke Penjuru Nusantara, Bestari Barus: Sudah Agenda Sejak Awal
Terpopuler
- Link Download Logo dan Tema HUT Bhayangkara ke-80 2026 untuk Ulang Tahun Polri
- 4 Sepatu Lari Skechers yang Diskon sampai 50 Persen di Sport Station, Mulai Rp500 Ribuan
- Sunscreen Apa yang Bikin Glowing? Ini 7 Pilihan Terbaik sesuai Review dan Harga
- 6 Sunscreen di Alfamart untuk Flek Hitam Usia 40 Tahun ke Atas sesuai Review
- 5 Sepeda Gunung MTB Polygon Termurah, Tangguh dan Awet Untuk Harian
Pilihan
-
Rupiah Nyaris ke Rp18.000 Lagi Hari Ini
-
Ole Romeny Bakal Satu Tim dengan Justin Hubner di Liga Belanda, Fortuna Sittard Siapkan Tawaran
-
Antar Timnas Perancis ke 16 Besar, Mbappe Pecahkan Sejumlah Rekor Piala Dunia 2026
-
Prabowo ke Polisi: Gaji dan Senjata Kalian dari Rakyat, Jadi Jangan Menyusahkan Rakyat
-
Prabowo: Hukum Tak Boleh Dipakai untuk Balas Dendam Politik
Terkini
-
Bukan Cuma Rokok, Ini Alasan Kanker Paru Masih Sulit Ditangani di Indonesia
-
Ini Lirik Lagu Lalaki Langit Ciptaan Bupati Purwakarta yang Tuai Kecaman, Dinilai Rendahkan Wanita
-
Teka-teki Pertemuan 2 Juni: Menhut Raja Juli Bakal Dicecar Soal Skandal Izin Hutan Kuansing
-
Libur Sekolah Mau Habis? Cek 64 Ribu Tiket Kereta Daop 1 dan Diskon Gede 30 Persen!
-
32 Ibu Hamil Lolos Skrining Latsarmil, Komnas Perempuan Bongkar Bobroknya Seleksi SPPI!
-
Kasus GMS di SMA Strada Bukti Kegagalan Sistemik Negara Lindungi Siswa Disabilitas
-
Sindir Prabowo Soal 'Kebocoran', JPPI: Program MBG Pelaku Utama Pencaplok Dana Guru!
-
Skandal Suap Hutan Kuansing Merembet ke Kemenhut, Peran Pusat Kini Mulai Didalami!
-
Dulu Disekap, Kini Dipolisikan! Karyawan Toko Padel Jaksel Diduga Curi 10 Raket
-
Ada di Rumah Saat OTT, Istri Kedua Bupati Kuansing Sempat Diamankan KPK Terkait Suap Jabatan