News / Nasional
Sabtu, 23 Mei 2026 | 11:06 WIB
Sastrawan dan sosiolog, Okky Madasari, berbicara kepada audiens tentang kehadiran militerisme pada beberapa aspek di ranah sipil dalam acara "Terus Terang Goes to Campus UII Yogyakarta #1". | (tangkapan layar Youtube @MahfudMD)
Baca 10 detik
  • Sastrawan Okky Madasari menyatakan bahwa supremasi sipil melemah karena menguatnya pengaruh militerisme dalam berbagai sektor pemerintahan Indonesia saat ini.
  • Militer kini menduduki posisi strategis di BUMN, mengelola program pangan, serta terlibat dalam kebijakan pendidikan dan sektor kebudayaan.
  • Dalam diskusi di Yogyakarta, Okky menyimpulkan bahwa penguatan militerisme menandakan matinya cita-cita reformasi dalam kehidupan bernegara di Indonesia.

Suara.com - Agenda utama reformasi adalah menegakkan supremasi sipil. Namun, menguatnya militerisme dalam pemerintahan kini menjadi keresahan tersendiri. Reformasi pun dipertanyakan: apakah masih hidup atau justru sudah mati?

Gagasan itu menjadi refleksi sastrawan dan sosiolog Okky Madasari. Ia melihat setidaknya ada lima area tempat militerisme bekerja dan semakin menguat dalam kehidupan bernegara.

Dalam area politik pemerintahan, Okky menilai keberadaan Sekretaris Kabinet Letnan Kolonel Teddy Indra Wijaya sebagai contoh nyata militerisme. Ia juga menyinggung kepala daerah dan anggota kabinet yang menjalani retreat di Magelang dengan mengenakan busana loreng.

“Ada pendisiplinan dan penyeragaman cara berpikir dalam cara mengelola negara. Jadi semuanya ingin diajari cara-cara militer,” ungkapnya, dikutip Jumat (22/5/2026) dalam acara “Terus Terang Goes to Campus UII Yogyakarta #1”.

Pada sektor ekonomi, ia menyoroti banyaknya purnawirawan militer yang menduduki posisi strategis, baik sebagai komisaris maupun eksekutif di BUMN. Menurutnya, militer kini masuk ke sektor-sektor ekonomi strategis.

Di bidang lingkungan dan pangan, Okky menyinggung keterlibatan militer dalam penanaman komoditas pertanian hingga pengelolaan program Makan Bergizi Gratis (MBG). Ia menilai militer juga masuk ke konflik agraria dan berpihak pada pemodal yang mampu merepresi rakyat.

Militer, lanjutnya, juga masuk ke sektor pendidikan. Ia mencontohkan penerima beasiswa LPDP yang akan dilatih untuk berpikir dan bersikap layaknya tentara.

Okky menilai model pendidikan di era pemerintahan Presiden Prabowo kental dengan gaya SMA Taruna Nusantara. Karena itu, ia menilai tidak mengherankan jika muncul program seperti Sekolah Rakyat dan Sekolah Garuda.

Terakhir, di sektor kebudayaan, ia menyoroti Presiden Soeharto yang menurutnya seharusnya diadili justru kini diposisikan sebagai pahlawan.

Baca Juga: 'Pengadilan Jadi Dagelan', Kritik Keras Mahfud MD di 28 Tahun Reformasi

“Belum nanti narasi dalam sejarah, termasuk penghapusan fakta pemerkosaan terhadap perempuan di seputar Mei 1998,” katanya.

Bagi Okky, reformasi sesungguhnya sudah mati, dan menguatnya militerisme semakin menjauhkan Indonesia dari cita-cita reformasi.

Reporter: Cornelius Juan Prawira 

Load More