Suara.com - Di tengah populasi dunia yang telah melampaui 8 miliar jiwa, perdebatan mengenai ketahanan pangan kembali menguat. Sistem pangan berbasis petani kecil kerap dipandang kurang efisien untuk memenuhi kebutuhan global yang terus meningkat.
Namun, pandangan tersebut dinilai mengabaikan aspek lain yang semakin relevan di era krisis iklim: daya tahan ekologis.
Dalam konteks ini, pangan lokal endemik disebut memiliki keunggulan dalam beradaptasi dengan kondisi lingkungan spesifik tanpa harus bergantung pada intervensi input pertanian yang tinggi.
Jurnalis sekaligus pegiat pangan lokal, Ahmad Arif, menjelaskan bahwa banyak pangan lokal justru tumbuh secara alami sesuai karakter ekosistemnya, sehingga tidak memerlukan perubahan besar pada lingkungan.
“Yang endemik misalnya sagu, dia tumbuh di rawa-rawa gambut bahkan yang tanaman lain tidak bisa tumbuh. Kalau tanaman lain mau ditumbuhkan di situ perlakuannya banyak, mengubah pH tanah, dan sebagainya,” ujar Ahmad dalam Raksa Loka Fest 2026, Sabtu (23/5/2026).
Menurutnya, pendekatan pertanian monokultur yang umum digunakan dalam sistem pangan industri justru membutuhkan biaya tinggi dan berpotensi meningkatkan emisi. Sebaliknya, banyak pangan lokal diproduksi dengan input kimia yang lebih rendah, sehingga dinilai lebih ramah lingkungan.
Ahmad juga menyoroti adanya biaya tersembunyi dalam sistem pangan modern, terutama pada komoditas utama seperti beras yang masih sangat bergantung pada pupuk kimia bersubsidi.
“Minimal dari pupuk aja, subsidi kita terhadap pupuk kimia per tahun itu 40-an triliun. Bayangkan dengan produk sagu itu gak ada input pertanian yang harus kita keluarkan,” tambahnya.
Selain sagu, tanaman sukun juga disebut memiliki potensi besar sebagai sumber pangan berkelanjutan. Satu pohon sukun dapat menghasilkan hingga 200 kilogram buah per tahun dan terus berproduksi dalam rentang waktu panjang, sekitar 6 hingga 60 tahun.
Baca Juga: Suhu Bumi Naik 75 Persen, Pakar UGM Ungkap Dampak Cuaca Ekstrem hingga Krisis Pangan
Pandangan bahwa sistem pangan berbasis komunitas kecil tidak mampu menjawab kebutuhan pangan global juga dibantah oleh sejumlah data. Gastronom sekaligus peneliti pangan lokal, Mei Batubara, mengutip data Food and Agriculture Organization (FAO) yang menunjukkan bahwa sebagian besar pangan dunia justru berasal dari produksi skala kecil.
“Dari data FAO dinyatakan bahwa 70 persen pangan dunia itu disuplai dari kebun masyarakat, bukan korporasi bukan pemerintah,” ujar Mei.
Berdasarkan pengalamannya di berbagai daerah di Indonesia, Mei menilai masyarakat desa yang masih menjaga pangan lokal cenderung lebih tahan terhadap krisis pangan karena keragaman sumber pangan yang tersedia di sekitar mereka.
Ia juga menekankan bahwa kerentanan pangan kerap muncul bukan karena ketiadaan sumber daya, melainkan hilangnya pengetahuan lokal dalam memanfaatkan pangan yang ada di sekitar.
“Masyarakat di desa tidak kekurangan pangan. Sebenarnya mereka jadi kekurangan pangan itu karena mereka gak tahu bahwa daun itu bisa dimasak,” kata Mei.
Sementara itu, di wilayah lain, ketahanan pangan lokal juga terbukti mampu menjadi penyangga saat krisis. Aktivis pangan lokal, Zadrakh Mengge, menceritakan pengalamannya memetakan keanekaragaman pangan di Nusa Tenggara Timur (NTT), yang mencatat sedikitnya 35 jenis pangan lokal adaptif.
Berita Terkait
Terpopuler
- LHKPN Tembus Rp7,2 Miliar, Kendaraan Plt Jampidsus Rudi Margono Cuma Motor Honda Seharga Rp5 Juta
- 4 Shio yang Menarik Keberuntungan 12 Juli 2026, Masa Sulit Diprediksi Berakhir
- 5 Sepatu Kanky Warna Putih Mulai Rp160 Ribuan, Nyaman dan Stylish
- 5 Pilihan Motor Anti Low Back Pain, Cocok Buat Touring di Akhir Pekan
- Tan Kian Orang Terkaya ke Berapa di Indonesia?
Pilihan
-
Ada Ancaman Teror Bom, Seluruh Siswa dan Guru SDN 15 Srengseh Sawah Dipulangkan
-
Hari Pertama Sekolah Mencekam! SDN Srengseng Sawah 15 Diteror Bom, Gegana dan Densus 88 Turun Tangan
-
Iran Luncurkan Serangan Balasan ke Amerika, Serbuan Drone Meluncur
-
Garda Revolusi Iran Tutup Lagi Selat Hormuz Sampai Batas Waktu Tak Ditentukan
-
Jadi Tersangka Bareng Eks Jampidsus Febrie, Don Ritto Sudah Ditahan di Rutan Polda Metro Jaya
Terkini
-
Sengaja Dibakar atau Kecelakaan? Misteri Tewasnya Santri di Lombok Tengah Masuk Meja DPR
-
Kejagung Bantah Febrie Umrah: Nggak Bener, Dia Sudah Dicekal dan Tak Dijaga TNI Lagi!
-
MPLS Sekolah Rakyat Fokus Bangun Literasi Digital, Siswa Baru Dibekali Etika Pakai Medsos
-
KPK Dalami Alasan Bupati Kuansing Beri Amplop ke Menhut Raja Juli
-
Pakar UGM Ingatkan Mutasi ASN Tak Boleh Jadi Alat Balas Dendam Menteri
-
FBI Turun Tangan! Dolar dan Emas 74 Kg Bukti Korupsi Eks Jampidsus Febrie Dicek Keasliannya
-
Ada Pihak Coba Adu Domba? Kapolri di Mabes TNI: Silakan Langsung Berkomunikasi, Kami Terbuka!
-
IUCN Apresiasi Komitmen Menhut RI Perkuat Konservasi Gajah
-
Perancang Masjid Istiqlal hingga Monas Friedrich Silaban Diusulkan Jadi Pahlawan Nasional
-
Macet 850 Meter! Pembetonan Jalan Kebon Sirih 'Caplok' Dua Lajur Hingga September