News / Nasional
Kamis, 28 Mei 2026 | 17:45 WIB
Foto sebagai ILUSTRASI: Petugas menyiapkan menu Makan Bergizi Gratis (MBG) di SPPG Mutiara Keraton Solo, Tamansari, Bogor, Selasa (16/12/2025). [Suara.com/Alfian Winanto]
Baca 10 detik
  • Ketua Umum NBI, Gus Lilur, menyatakan Program Makan Bergizi Gratis Presiden Prabowo menghadapi ancaman serius akibat praktik pemotongan anggaran.
  • Berbagai kasus keracunan dan buruknya kualitas dapur di lapangan diduga terjadi karena adanya praktik pemburu rente serta pungutan liar.
  • Gus Lilur menyarankan pemerintah mengambil alih pengelolaan dapur melalui sekolah demi menjaga kualitas gizi dan transparansi anggaran program tersebut.

Suara.com - Program Makan Bergizi Gratis (MBG) disebut adalah salah satu program paling mulia pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.

Namun gagasan besar itu kini menghadapi ancaman serius karena dinilai pelaksanaannya di lapangan dirusak oleh dapur yang asal-asalan, kasus keracunan, menu yang tidak sesuai standar, hingga dugaan praktik pungutan dan pemotongan anggaran yang membuat nilai makanan anak-anak menyusut sebelum sampai ke piring mereka.

Ketua Umum Netra Bakti Indonesia (NBI), HRM. Khalilur R Abdullah Sahlawiy atau Gus Lilur mengatakan, MBG seharusnya menjadi wajah kasih negara kepada anak-anak Indonesia, terutama siswa miskin.

Tetapi ketika anggaran makan dipotong, ketika dapur tidak layak tetap beroperasi, ketika pihak ketiga masuk hanya untuk mengejar keuntungan, maka program yang semestinya menjadi warisan besar Presiden justru berisiko berubah menjadi beban moral dan politik.

Karena itu, kata Gus Lilur, MBG harus segera diselamatkan dari para “copet” anggaran yang merusak idealisme program ini.

“MBG ini program sangat mulia. Saya pendukung MBG. Tetapi MBG akan rusak kalau ada copet di tengah jalan. Anak-anak miskin harusnya menerima makanan yang layak, sehat, dan disukai. Bukan makanan yang anggarannya dipotong, dicopet, atau dikenthit sebelum sampai ke piring mereka,” ujar Gus Lilur, Kamis (28/6/2026).

Gus Lilur lantas mengutip Alquran Surat Al-Insan ayat 8 "Wa yuth‘imûnath-tha‘âma ‘alâ ubbihî miskînaw wa yatîmaw wa asîrâ" (Mereka memberikan makanan yang disukainya kepada orang miskin, anak yatim, dan tawanan.)

Menurut Gus Lilur, ayat tersebut memberikan pesan yang sangat jelas: makanan untuk orang miskin, anak yatim, dan mereka yang membutuhkan haruslah makanan yang baik, disukai, dan layak.

Karena itu, ia menilai siapa pun yang mengurangi jatah makan anak-anak miskin dalam program MBG telah melakukan pelanggaran moral yang sangat serius.

Baca Juga: Dua Kali Purbaya Kebobolan Soal APBN, Sapi Kurban Prabowo dan Motor Listrik MBG

“Alquran menyebut makanan yang disukai. Makanan yang disenangi. Makanan yang digemari. Bukan makanan yang dipotong anggarannya. Bukan makanan yang dicopet anggarannya. Bukan makanan yang dikenthit alokasinya. Bagi saya, mencopet dana MBG jelas melanggar Alquran. Dan melanggar Alquran bagi saya adalah melanggar prinsip,” tegasnya.

Menurut Gus Lilur, publik melihat sendiri bahwa berbagai kasus keracunan MBG di sejumlah daerah bukan lagi kejadian kecil yang bisa dianggap sekadar kekeliruan teknis.

Anak-anak mengalami mual, muntah, diare, pusing, bahkan harus mendapatkan perawatan medis.

Pada saat yang sama, muncul pula temuan bahwa sebagian dapur belum memenuhi standar higiene sanitasi, belum memiliki kelengkapan sertifikasi, atau tidak diawasi dengan disiplin sebagaimana mestinya.

Menurutnya, jika dapur MBG dikelola secara asal-asalan, tanpa pengawasan gizi yang kuat, tanpa standar kebersihan yang ketat, dan tanpa rasa tanggung jawab moral terhadap anak-anak, maka program yang semestinya menjadi kebanggaan Presiden bisa berubah menjadi beban politik bagi Presiden.

“Yang salah bukan MBG-nya. Yang salah adalah aplikasinya. Presiden punya niat besar memberi makan anak-anak bangsa. Tetapi di bawah, kalau dapurnya asal-asalan, menunya asal jadi, higienitasnya lemah, dan ada oknum yang bermain fee, maka cita-cita Presiden akan dirusak oleh para pemburu untung,” ujarnya.

Load More