- Presiden Prabowo Subianto melakukan kunjungan kerja ke Prancis, Austria, dan Hungaria pada akhir Mei 2026 untuk diplomasi ofensif.
- Tujuan kunjungan adalah mengamankan investasi sektor nikel, memperkuat teknologi militer, serta mempererat kerja sama rantai pasok kendaraan listrik.
- Langkah ini merupakan strategi menjaga keseimbangan geopolitik guna menjamin kedaulatan nasional serta kesejahteraan rakyat di tengah krisis global.
Suara.com - Juru Bicara Partai Gerindra, Sugiat Santoso, memberikan pembelaan terkait rangkaian kunjungan kerja Presiden Prabowo Subianto ke sejumlah negara di Eropa.
Ia menilai, anggapan bahwa perjalanan tersebut merupakan pemborosan anggaran adalah pandangan yang parsial dan tidak melihat kepentingan strategis nasional yang lebih besar.
Sugiat menjelaskan, bahwa kunjungan tersebut merupakan bagian dari strategi "diplomasi ofensif" yang proaktif dalam memperjuangkan kepentingan Indonesia, terutama dalam memperkuat hubungan diplomatik dan mengamankan investasi di sektor komoditas strategis seperti nikel.
"Indonesia tidak sekadar berkunjung. Pak Prabowo sedang mengonversi keunggulan komoditas nikel dan posisi geopolitik kita menjadi investasi nyata dan benteng keamanan sebelum jendela peluang global ini tertutup," kata Sugiat dalam keterangannya, Kamis (28/5/2026).
Menurut Sugiat, diplomasi ofensif ini dilakukan untuk mengantisipasi krisis global dengan cara mengambil inisiatif dalam membangun aliansi dan menetapkan agenda internasional.
"Prabowo melangkah lebih awal sebelum didikte oleh negara lain. Dia mengambil posisi tegas dalam menyatakan kedaulatan, posisi politik, dan membela warga negaranya dengan terukur," lanjut Wakil Ketua Komisi XIII DPR RI tersebut.
Pada akhir Mei 2026 ini, Presiden Prabowo dijadwalkan mengunjungi tiga negara Eropa, yakni Prancis, Austria, dan Hungaria.
Sugiat memaparkan bahwa masing-masing negara memiliki nilai strategis bagi Indonesia. Prancis, misalnya, dipandang sebagai mitra penting dalam transfer teknologi militer mutakhir.
Sugiat menekankan bahwa kedekatan personal dengan pemimpin dunia seperti Presiden Emmanuel Macron adalah kunci.
Baca Juga: Mengapa Tuduhan Amien Rais soal Teddy Mudah Dipercaya Publik?
"Kedekatan politik yang dibangun bertahap melalui kunjungan berulang adalah syarat mutlak dalam bekerja sama dengan Macron," ujarnya.
Sementara itu, kunjungan ke Austria dan Hungaria difokuskan pada penguatan posisi Indonesia dalam rantai pasok global kendaraan listrik (EV).
Hungaria saat ini menjadi pusat pembangunan gigafactory baterai di Uni Eropa, sementara Austria unggul dalam industri manufaktur presisi.
Mengingat Indonesia menguasai 65 persen cadangan nikel dunia, Sugiat menegaskan posisi tawar Indonesia sangat kuat.
"Pak Prabowo datang ke sana bukan sebagai peminta-minta bantuan, tetapi sebagai pemilik komoditas strategis yang menentukan masa depan industri otomotif dunia," tegas legislator asal Dapil Sumut III itu.
Selain urusan ekonomi, Sugiat menjelaskan bahwa langkah Presiden Prabowo adalah bentuk praktik hedging atau menjaga keseimbangan geopolitik di tengah persaingan kekuatan besar dunia. Hal ini dilakukan demi menjamin keamanan kedaulatan sekaligus kesejahteraan rakyat, seperti pasokan energi murah.
Berita Terkait
-
Ungkit UU, Habiburokhman Sebut 1.098 Sapi Kurban Presiden Pakai Dana APBN Sah Secara Syari
-
Dua Kali Purbaya Kebobolan Soal APBN, Sapi Kurban Prabowo dan Motor Listrik MBG
-
Oliver Glasner Bawa Crystal Palace Juara Liga Konferensi Eropa: Ini Pertandingan Terakhir Saya
-
Mengapa Tuduhan Amien Rais soal Teddy Mudah Dipercaya Publik?
-
Ketua MUI Soal Sapi Kurban Prabowo Pakai APBN: Sah Secara Syar'i
Terpopuler
- 3 HP Android dengan Kualitas Kamera Selevel iPhone 17 Pro Max, Cocok untuk Bikin Konten
- 3 Sepatu New Balance Tanpa Tali, Bantalan Nyaman untuk Jalan Kaki Jauh
- Gugurkan Klaim Santriwati 'Hamil Tanpa Hubungan Badan', Polisi Tangkap Kiai di Pekalongan
- Persija Sudah Temukan Pengganti Mauricio Souza, Target Juara Super League Musim Depan
- 5 Moisturizer Mengandung SPF untuk Pagi Hari, Melembapkan dan Mencerahkan Kulit
Pilihan
-
Kebakaran RSUD Syekh Yusuf Gowa, Begini Kondisi Terkini Pasien
-
Israel Bombardir Lebanon, 74 Warga Jadi Korban Satu Keluarga Tewas Saat Kabur
-
AS-Iran Kembali Sepakati Gencatan Senjata, Harga Minyak Stabil di USD 90
-
Skandal! Jaksa AS Selidiki FIFA, Penjualan Tiket Piala Dunia 2026 Diduga Bermasalah
-
Live 'Pocong Jadi-Jadian' Hebohkan Warga Sragen, 3 Pelajar Diamankan Polisi
Terkini
-
Polemik Kurban Uang Negara: Dasar Hukum, Pandangan MUI, dan Alasan Pemerintah
-
Geger Eks Pegawai Sudin LH Jakpus Tewas Usai Diduga Lompat dari Jembatan Cawang
-
Gen Z Lebih Berani dan Tak Kenal Takut Dibanding Generasi Orde Baru
-
Kejagung Seret Marcella Santoso ke Kasasi, Incar Pencabutan Izin Praktik Advokat
-
Deretan Tokoh Top Bakal Turun Gunung ke UGM Besok, Bahas Nasib Bangsa Lewat Konferensi Republik
-
MAKI Desak Jaksa Tak Gentar Usut Dugaan Tambang Ilegal Kaltara yang Seret Nama Karuna Murdaya
-
Gegana Tak Sanggup? Ahli Nuklir UGM Turun Tangan Selidiki Api Misterius di Sleman
-
Misteri Belasan Luka Tusuk Balita di Bekasi Terungkap, Paman Sendiri Jadi Tersangka
-
Bawa Bukti ke Kejagung, PT PMM Bantah Tuduhan Penyelundupan: Itu Fitnah, Kasum TNI Salah Info
-
Sahroni Geram WNA Brunei Bikin Onar di Blok M: Segerakan Deportasi dan Blacklist