Suara.com - Indonesia menargetkan mencapai net zero emission pada 2060, namun jalan menuju target tersebut masih penuh tantangan. Meski teknologi energi baru terbarukan (EBT) semakin murah dan berkembang pesat, implementasinya di Indonesia dinilai masih berjalan lambat.
Berdasarkan data Joint Research Centre (JRC) yang dihimpun GoodStats.id, Indonesia menempati peringkat keenam sebagai negara penghasil emisi gas rumah kaca terbesar di dunia pada 2024.
Di sisi lain, target bauran EBT nasional pada 2025 sebesar 15,75 persen masih berada di bawah target 17-19 persen yang tercantum dalam Rancangan Peraturan Pemerintah tentang Kebijakan Energi Nasional (RPP KEN).
Berbagai hambatan tersebut menjadi sorotan dalam diskusi "Cheap and Clean Energy Now: Dari Persepsi ke Aksi, Dari Suara ke Kebijakan" yang digelar Generasi Energi Bersih bersama METI Indonesia dan Yayasan Indonesia Bebas Emisi.
Infrastruktur Listrik Belum Siap
Presiden Project Case IESR, Fadhil Ahmad Qamar, mengatakan tantangan utama pengembangan energi terbarukan saat ini bukan lagi berasal dari teknologi.
Menurutnya, biaya energi terbarukan terus menurun dalam dua dekade terakhir seiring perkembangan teknologi dan semakin matangnya rantai pasok. Namun, pemanfaatannya masih terkendala oleh keterbatasan infrastruktur kelistrikan.
"Salah satu problem kenapa energi terbarukan lambat berkembang karena ada bottleneck di pengembangan jaringan sistem transmisi dan distribusi," ujarnya.
Ia menjelaskan pembangunan jaringan transmisi dan distribusi listrik berjalan lambat karena terbatasnya sumber pendanaan. Akibatnya, banyak potensi energi terbarukan yang belum dapat terserap secara optimal ke dalam sistem kelistrikan nasional.
Baca Juga: Cara Ampuh Jaga Konsumsi BBM Tetap Irit dengan Rutin Uji Emisi
Rendahnya Rasa Urgensi
Selain persoalan infrastruktur dan regulasi, rendahnya kesadaran publik juga dinilai menjadi hambatan besar.
Community Action Manager The Climate Reality Project Indonesia, Arifah Handayani, mengatakan masih banyak masyarakat yang belum melihat transisi energi sebagai kebutuhan mendesak.
"Tantangan terbesar mungkin satu adalah urgensi. Urgensi, kenapa sih kita harus melakukan transisi energi?" ujarnya.
Menurut Arifah, tanpa kesadaran mengenai dampak krisis iklim dan pentingnya perubahan pola konsumsi energi, transisi energi akan sulit berjalan secara luas.
Ia juga menyoroti pentingnya pendekatan yang lebih inklusif. Masyarakat perlu dilibatkan dalam perencanaan transisi energi agar solusi yang dihasilkan sesuai dengan kebutuhan dan potensi lokal.
Sementara itu, Sekretaris METI Energi Muda, Anggira Libratama, menilai tantangan terbesar yang ia rasakan adalah rendahnya kesadaran generasi muda terhadap isu energi bersih.
Menurutnya, banyak anak muda yang peduli pada isu lingkungan secara umum, tetapi belum memahami keterkaitan antara energi, emisi, dan krisis iklim.
Penulis: Natasha Suhendra
Berita Terkait
Terpopuler
- Bedak Wardah Apa yang Cocok untuk Usia 40 Tahun? Ini 5 Rekomendasi Terbaik agar Flawless dan Fresh
- Tak Lagi Disamping Prabowo, Kursi Wapres Gibran Geser Sejajar Menteri di Sidang Kabinet
- 7 Statistik Miris Argentina Saat Dipecundangi Spanyol di Final Piala Dunia 2026
- Persib dan Persija Dikabarkan Tak Lolos IPO di Bursa Efek Indonesia
- Perbedaan Eau De Parfum dan Eau De Toilette, Mana yang Sesuai Kebutuhanmu?
Pilihan
-
Laporkan Hotman Paris ke Polda Metro, PWI Ragukan Ketulusan Permohonan Maaf Sang Pengacara
-
Mendukung Working Mom Mengelola Keuangan Keluarga Lebih Efisien dengan AstraPay
-
Usai Nobar Final Piala Dunia, Bupati Lombok Barat Lalu Ahmad Zaini Kena OTT KPK
-
Menteri PU Dody Hanggodo Bakal Dicopot Agustus? 'Prabowo Tak Suka Menteri yang Bikin Gaduh'
-
Tersangka Don Ritto Dikawal Rantis Brimob saat Tiba di Kejagung, Emas hingga Brankas Ikut Dibawa
Terkini
-
Kasus Dugaan Penculikan Atlet Golf Jesslyn Wijaya, Polisi Telusuri Perjalanan hingga Kuala Lumpur
-
Bukan Sekedar Catatan Masa Lalu, Peristiwa Kudatuli Merupakan Simbol Perjuangan Lawan Ketidakadilan
-
Usut Aliran Rp 91 Miliar Suap Bea Cukai, KPK Tetapkan Tersangka Baru
-
Korupsi Disebut Kejahatan HAM, Mengapa Hak Korban Belum Jadi Perhatian?
-
Aksesori Estetik Makin Digemari, Ini Tempat Belanja Lengkap Incaran Reseller hingga Jastiper
-
Salah Setting Aplikasi Navigasi, Pemotor RX-King Nekat Masuk Tol Jagorawi
-
Anggaran Jasa Belanja Tenaga Ahli Banten Tembus Rp55,47 Miliar, Kepala BPKAD Mengaku Kaget
-
Jembatan di Serang Mulai Dibangun Andra Soni Usai 25 Tahun Tak Tersentuh Perbaikan
-
Langkah Kecil yang Diam-Diam Bisa Membuat Perempuan Lebih Percaya Diri
-
JPMorgan Optimistis Kepada BBRI, Saham Dinilai Masih Murah