“Saya melihat potensi pertanian di sini luar biasa. Keluarga kami selama 15 tahun mampu bertahan hidup, bahkan membiayai sekolah saya sampai sarjana, murni dari hasil hortikultura. Kehadiran industri justru menjadi katalis; mereka membuka akses pasar yang selama ini kami butuhkan,” kata Darwan.
Melalui program Sentra Ketahanan Pangan Obi (SENTANI), Harita Nickel memberikan pendampingan kepada kelompok-kelompok tani terkait penerapan metode pertanian modern, penggunaan benih unggul, hingga pemanfaatan teknologi pertanian yang lebih efektif. Hasilnya terlihat nyata. Produktivitas padi yang dihasilkan petani binaan mencapai 8 ton per hektare, jauh di atas rata-rata nasional yang berada pada angka 5,31 ton Gabah Kering Giling per hektare.
Kolaborasi ini terus berkembang. Pada 2024, Harita Nickel mendorong para petani melakukan transisi menuju sistem pertanian organik. Para petani dibekali kemampuan membuat pupuk kompos dan pestisida nabati secara mandiri sehingga biaya produksi dapat ditekan sekaligus menjaga kualitas lingkungan.
Di saat yang sama, perusahaan juga membantu menciptakan kepastian pasar. Para petani diarahkan untuk membentuk koperasi dan menjalin kemitraan dengan vendor perusahaan sehingga hasil pertanian dapat diserap secara berkelanjutan. Skema ini menciptakan hubungan yang saling menguntungkan. Perusahaan memperoleh pasokan pangan segar untuk memenuhi kebutuhan operasional, sementara petani mendapatkan akses pasar yang jelas serta harga yang lebih pasti.
Dampak ekonominya mulai terlihat. Sepanjang 2025, total transaksi kelompok tani SENTANI dengan perusahaan mencapai Rp133 juta. Sementara kelompok-kelompok perempuan yang tergabung dalam KWT mampu membukukan omzet hingga puluhan juta rupiah setiap bulan.
Keberhasilan ini turut mengubah cara pandang masyarakat terhadap sektor pertanian. Jika sebelumnya banyak yang menganggap pertanian sebagai pekerjaan sampingan dengan prospek terbatas, kini semakin banyak warga yang melihatnya sebagai sumber penghidupan yang menjanjikan. Darwan bahkan menargetkan jumlah petani aktif yang terlibat dalam gerakan PELANGI terus bertambah dalam beberapa tahun ke depan.
“Harapan saya sederhana, melalui PELANGI, masyarakat sadar bahwa sektor pertanian mampu menghidupi kita secara layak dan berkelanjutan, bahkan di daerah yang dikenal sebagai pusat pertambangan sekalipun,” tandasnya.
Kisah para petani di Pulau Obi menunjukkan bahwa industrialisasi dan pertanian tidak harus berjalan berlawanan arah. Dengan pendampingan yang tepat, transfer pengetahuan, akses teknologi, serta pembukaan pasar yang dilakukan secara konsisten, sektor pertanian justru dapat berkembang bersama industri.
Di Pulau Obi, Harita Nickel tidak hanya menghadirkan aktivitas ekonomi melalui hilirisasi nikel, tetapi juga membantu menumbuhkan ekosistem pertanian yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat lokal. Dari kebun-kebun sederhana yang kini menghasilkan jutaan rupiah setiap bulan, lahir bukti bahwa pertanian dan industri dapat tumbuh berdampingan untuk menciptakan kesejahteraan yang lebih luas dan berkelanjutan. ***
Baca Juga: Kemnaker dan Kemenekraf Kolaborasi Perluas Peluang Kerja di Industri Ekonomi Kreatif
Berita Terkait
-
Kemnaker dan Kemenekraf Kolaborasi Perluas Peluang Kerja di Industri Ekonomi Kreatif
-
Dolar AS Tembus Rp18.000, Kemenkeu, BI, dan OJK Kompak Jaga Stabilitas Pasar
-
Bertemu S&P, Purbaya Jelaskan Fondasi Ekonomi Indonesia Masih Kokoh
-
Warga Bantah Isu Eksodus di PSN Wanam, Justru Harap Ekonomi dan Lapangan Kerja Makin Tumbuh
-
Rupiah Anjlok Tembus Rp18 Ribu per Dolar, Dokter Tirta Bereaksi Sarkas: Jaya Jaya Jaya!
Terpopuler
- Bedak Wardah Apa yang Cocok untuk Usia 40 Tahun? Ini 5 Rekomendasi Terbaik agar Flawless dan Fresh
- Tak Lagi Disamping Prabowo, Kursi Wapres Gibran Geser Sejajar Menteri di Sidang Kabinet
- 7 Statistik Miris Argentina Saat Dipecundangi Spanyol di Final Piala Dunia 2026
- Persib dan Persija Dikabarkan Tak Lolos IPO di Bursa Efek Indonesia
- Perbedaan Eau De Parfum dan Eau De Toilette, Mana yang Sesuai Kebutuhanmu?
Pilihan
-
Laporkan Hotman Paris ke Polda Metro, PWI Ragukan Ketulusan Permohonan Maaf Sang Pengacara
-
Mendukung Working Mom Mengelola Keuangan Keluarga Lebih Efisien dengan AstraPay
-
Usai Nobar Final Piala Dunia, Bupati Lombok Barat Lalu Ahmad Zaini Kena OTT KPK
-
Menteri PU Dody Hanggodo Bakal Dicopot Agustus? 'Prabowo Tak Suka Menteri yang Bikin Gaduh'
-
Tersangka Don Ritto Dikawal Rantis Brimob saat Tiba di Kejagung, Emas hingga Brankas Ikut Dibawa
Terkini
-
FIFA Buka Voting Tim Terbaik Piala Dunia 2026: Argentina Sumbang 5 Pemain, Spanyol?
-
Dari Pameran Kudatuli, Megawati Titip Pesan untuk Generasi Muda Indonesia
-
Kasus Dugaan Penculikan Atlet Golf Jesslyn Wijaya, Polisi Telusuri Perjalanan hingga Kuala Lumpur
-
Bukan Sekedar Catatan Masa Lalu, Peristiwa Kudatuli Merupakan Simbol Perjuangan Lawan Ketidakadilan
-
Usut Aliran Rp 91 Miliar Suap Bea Cukai, KPK Tetapkan Tersangka Baru
-
Korupsi Disebut Kejahatan HAM, Mengapa Hak Korban Belum Jadi Perhatian?
-
Aksesori Estetik Makin Digemari, Ini Tempat Belanja Lengkap Incaran Reseller hingga Jastiper
-
Salah Setting Aplikasi Navigasi, Pemotor RX-King Nekat Masuk Tol Jagorawi
-
Anggaran Jasa Belanja Tenaga Ahli Banten Tembus Rp55,47 Miliar, Kepala BPKAD Mengaku Kaget
-
Jembatan di Serang Mulai Dibangun Andra Soni Usai 25 Tahun Tak Tersentuh Perbaikan