- Mahasiswa dan masyarakat sipil menggelar konsolidasi di Universitas Indonesia untuk merespons pelemahan nilai tukar rupiah nasional.
- Peserta aksi menyepakati lima tuntutan ekonomi dan politik yang akan disampaikan di Bundaran HI, Jakarta, pada 12 Juni 2026.
- Tuntutan mencakup penghentian pemborosan APBN, penurunan harga kebutuhan pokok, hingga desakan agar Presiden Prabowo Subianto mengakui kesalahan kebijakan.
Suara.com - Pelemahan nilai tukar rupiah memicu konsolidasi nasional mahasiswa dan kelompok masyarakat sipil.
Dalam pertemuan yang digelar di Universitas Indonesia, Depok, Rabu (10/6/2026), mereka menyepakati lima tuntutan yang akan dibawa dalam aksi demonstrasi di Bundaran Hotel Indonesia, Jakarta, pada Jumat (12/6/2026).
Bagi para peserta konsolidasi, depresiasi rupiah bukan sekadar persoalan kurs. Mereka menilai kondisi tersebut mencerminkan masalah yang lebih mendasar dalam tata kelola ekonomi dan kebijakan pemerintah.
Lima tuntutan yang disepakati dalam forum tersebut meliputi penghentian pemborosan APBN, penurunan harga kebutuhan pokok dan BBM, penghentian program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan pembangunan Koperasi Desa Merah Putih, penghentian militerisme di ranah sipil, serta tuntutan agar Presiden Prabowo Subianto mengakui kesalahan pemerintah.
Koordinator Bidang Sosial Politik, Hafidz Haernanda, mengatakan Bundaran HI dipilih sebagai lokasi aksi karena dinilai memiliki nilai simbolis sekaligus membuka ruang advokasi yang lebih luas kepada pemerintah.
"Mungkin Bundaran HI terkesan ekstravaganza, mewah, tapi apa bedanya kita ke depan DPR apakah akan didengar juga? Nanti ketika turun mau banyak mau sedikit, (aksi ini) merupakan statement bahwa Indonesia sudah capek," ujarnya.
Menurut Hafidz, aksi tersebut merupakan bentuk upaya masyarakat mencari jalan keluar atas berbagai ketidakadilan yang mereka rasakan sekaligus menuntut respons konkret dari pemerintah.
Soroti Kredibilitas Fiskal
Dalam forum yang sama, Ketua BEM Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia, Jundi Al Muhandis, menilai persoalan pelemahan rupiah tidak bisa dilepaskan dari kredibilitas fiskal pemerintah.
Baca Juga: Prabowo Jawab Kritik Sering ke Luar Negeri: Dulu Pak Jokowi Jarang Lawatan Juga Disalahkan
"Kita bisa tuntut kredibilitas fiskal dengan stop pemborosan APBN. Kita masih enggak tahu kestabilan rupiah di masa depan, tapi stop pemborosan APBN dapat membuahkan dalam jangka panjang sehingga uang dialokasikan pada sektor produktif," kata Jundi.
Ia juga menyoroti program Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDMP) yang menurutnya berpotensi menimbulkan crowding out effect atau menekan investasi akibat meningkatnya belanja dan utang pemerintah.
Jundi menilai keberadaan koperasi tersebut berpotensi menggeser pelaku usaha kecil yang selama ini bertahan secara mandiri.
"Rupiah menjadi seperti ini karena kredibilitas fiskal dan koperasi desa merah putih. Jadi lebih baik diganti dengan stop pemborosan APBN. Jika minta stabilitas rupiah, (penguatan) tidak akan bertahan lama," ujarnya.
Prabowo Jadi Sasaran Utama
Konsolidasi berlangsung dinamis dengan berbagai pandangan yang berkembang di antara peserta.
Berita Terkait
Terpopuler
- 5 Kulkas 1 Pintu Anti Bunga Es dan Hemat Listrik, Harga Mulai Rp1 Jutaan
- Tok! Panja DPR Sepakati RUU Polri: Usia Pensiun Bintara 59 Tahun, Perwira 60 Tahun
- Resmi! Chatib Basri Dapat Jabatan Baru Hari Ini
- Anaknya Terlibat di Program MBG, Wamenaker Afriansyah Noor Beri Penjelasan Usai Namanya Terseret
- Beda Cushion Wardah Colorfit Hijau dan Krem: Intip Harga, Kandungan, dan Manfaatnya
Pilihan
-
Haji Bolot Dikabarkan Terkena Serangan Jantung, Posisi Masih di Rumah Sakit
-
Derita Masyarakat RI Bertambah Kini Harga Pertamax Naik, Apa yang Harus Dilakukan?
-
Anaknya Terlibat di Program MBG, Wamenaker Afriansyah Noor Beri Penjelasan Usai Namanya Terseret
-
Namanya Terseret Isu Dugaan Korupsi BGN, Yahya Golkar: Semua Anggota Komisi IX DPR Tak Terlibat!
-
Perhatian! Harga Pertamax Naik Jadi Rp 16.250/Liter
Terkini
-
Survei: Publik Disebut Optimistis dengan Pemberantasan Korupsi yang Dilakukan Pemerintah
-
Menteri Perang Amerika ke Iran: Kalau Perlu Negosiasi Pakai Bom, Kami Lakukan
-
Pertamax Tembus Rp16.250! Ojol dan Mahasiswa Menjerit Terpaksa Turun Kelas ke Pertalite
-
Perang Lanjut! Serangan Balasan Iran Bobol Pangkalan Udara Israel, Hanggar Jet Tempur Luluh Lantak
-
'Bapak dan Anak Saya Juga Prajurit!' Isak Warga Diusir Paksa dari Asrama Eks Yon Zikon Lenteng Agung
-
Aksi Koboi Kades: Panjat Pagar dan Todong Pistol ke Warga Bekasi, Kini Disidik Polisi
-
Menenun Harapan Perempuan Penenun di Timur Indonesia Bersama Giro Kartini
-
Khofifah Bangga Program ADEM Cetak Generasi Papua Berprestasi, 51 Murid Lolos PTN
-
Lagi Ujian Diciduk Polisi! 2 Pelajar Palmerah Ditangkap usai Bacok Siswa SMK secara Acak
-
Satgas PRR Minta Optimalisasi TKD dan Hibah Antardaerah Tak Terhambat Birokrasi