- Ahli waris Saamah melakukan eksekusi lahan di Kedoya Selatan, Jakarta Barat, karena dikuasai ilegal oleh PT HD Arjuna sejak 2013.
- Sengketa terjadi akibat perbedaan lokasi administrasi SHGB milik perusahaan dengan fisik tanah yang kini dikuasai secara sepihak tersebut.
- Kuasa hukum menduga PT HD Arjuna menggunakan modus surat mencari tanah dengan dokumen yang tidak terdaftar di buku kelurahan.
Suara.com - Sengketa lahan yang menyeret PT HD Arjuna (Arjuna Group) di Kelurahan Kedoya Selatan, Jakarta Barat, berlanjut dengan eksekusi lahan oleh pihak ahli waris almarhum Saamah binti Abdullah Dul Doing.
Kuasa hukum ahli waris bersama Aliansi Masyarakat Anti Mafia menegaskan langkah ini diambil sebagai bentuk pertahanan hak atas tanah yang diklaim telah diokupasi secara ilegal sejak 2013 oleh PT HD Arjuna.
Perwakilan hukum dari ahli waris sekaligus Ketua Bidang Hukum di Dewan Pengurus Pusat Gerakan Rakyat Indonesia Bersatu Jaya (GRIB Jaya), Novianus Martin Bau, menepis narasi yang dibangun oleh pihak PT HD Arjuna di media sosial terkait legalitas Sertifikat Hak Guna Bangunan (SHGB) Nomor 1114.
Berdasarkan fakta persidangan pidana dengan nomor perkara 680/Pid.B/2024/PN Jkt.Br serta dokumen resmi dari pemerintah setempat, SHGB induk milik perusahaan tersebut secara administrasi terdaftar di Jalan Arjuna Terusan RT 001 / RW 002.
Sebaliknya, fisik tanah milik ahli waris yang saat ini dikuasai secara sepihak dan didirikan bangunan oleh perusahaan justru berada di Jalan Arjuna Utara RT 005 / RW 03.
"Kami tidak punya kepentingan hukum untuk melakukan gugatan perbuatan melawan hukum, karena objek (tanah) kita berbeda. Kalau dia mau, dia angkat gedung ini. Ini tanah ahli waris, tidak pernah dilepaskan, dijual, atau dihibahkan ke PT HD. Arjuna." ujar Martin di depan Club de Arjuna, Kedoya Selatan, Jakarta, Selasa (30/6/2026).
Surat Mencari Tanah
Pihak kuasa hukum menyentil modus operandi yang disebutnya sebagai fenomena "surat mencari tanah". Hal itu diartikan sebagai dokumen hak diterbitkan terlebih dahulu baru kemudian objek tanahnya dicari di lapangan.
Tim kuasa hukum menyatakan pihak Kelurahan Kedoya Selatan telah mengeluarkan surat keterangan resmi yang menyatakan bahwa sembilan girik yang digunakan sebagai dasar penerbitan SHGB induk PT HD. Arjuna tidak pernah terdaftar di buku kelurahan.
Baca Juga: Buntut Penjemputan Paksa Putri Ahmad Bahar, Komisi III Desak Usut Dugaan Intimidasi di Markas GRIB
Tim kuasa hukum memperjelas, modus operandi mafia tanah yang selalu bermain sekarang ini adalah "surat mencari tanah".
Hal itu diartikan bahwa mafia tanah membuat surat/sertifikat palsu terlebih dahulu. Setelah surat itu ada di tangan, mereka baru mencari tanah kosong dan strategis yang belum bersertifikat untuk dicocokkan dengan surat yang mereka pegang.
Tim kuasa hukum bersama organisasi masyarakat GRIB Jaya menyatakan tidak akan mundur dari lokasi. Mereka akan terus menduduki lokasi tersebut sampai ada penyelesaian hak yang konkret.
"Kami tidak akan kosongkan (gedung), tidak akan tinggalkan (gedung), perjuangkan sampai kapanpun dan mereka tidak akan melakukan kegiatan apapun atau ada olahraga dan lain-lain karena ini adalah tanah milik ahli waris," tegas Martin.
Reporter: Cornelius Juan Prawira
Berita Terkait
-
Sengketa Lahan 2,4 Hektare Memanas di Jakarta, Massa Desak Dugaan Mafia Tanah Diusut
-
Dari Video Viral ke Laporan Polisi: Mengapa Konflik GRIB Jaya dan Ahmad Bahar Terus Membesar?
-
Tak Terima Dituduh Menyekap dan Todong Senjata, Hercules Laporkan Balik Putri Ahmad Bahar ke Polisi!
-
Takut Teror Susulan, Ahmad Bahar Minta Perlindungan LPSK Usai Konflik dengan Hercules
Terpopuler
- 4 Sepatu Kanky Terlaris di Shopee, Nyaman Dipakai Seharian Sesuai Review Pembeli
- 5 Shio yang Menarik Keberuntungan 28 Juni 2026, Hari Penuh Hoki dan Kesempatan
- 4 Sepatu Lari Skechers yang Diskon sampai 50 Persen di Sport Station, Mulai Rp500 Ribuan
- 10 Promo Sepatu Lari di Sports Station: Adidas, Reebok, dan New Balance Mulai Rp299 Ribuan
- 6 Sunscreen di Alfamart untuk Flek Hitam Usia 40 Tahun ke Atas sesuai Review
Pilihan
-
Selain 10 Tahun Penjara, Nadiem Makarim Wajib Bayar Uang Pengganti Rp809,59 Miliar
-
Nadiem Makarim Divonis 10 Tahun Penjara!
-
Jangan Puji Pemerintah karena Kerja: Mengapa Publik Begitu Mudah Terpesona?
-
Kabar Duka! Legenda Persija Si Macan Betawi Tan Liong Houw Tutup Usia
-
Takut PHK, Prabowo Putuskan Harga LNG untuk Industri USD 13/MMBTU
Terkini
-
Dokter Icha Tewas Diduga Diintimidasi Anggota DPRD, Puan Maharani Murka: Usut Tuntas!
-
Anggaran Riset Rp4 Triliun Belum Cukup! DPR Dorong Prabowo Naikkan hingga Rp8 Triliun
-
Hakim Sebut Nadiem Makarim Rugikan Negara Rp1,5 Triliun
-
Bukan Musibah Biasa, Pemerintah Didesak Bentuk Tim Independen Usut Kematian 5 Peserta Latsarmil
-
Bukan Cuma Soal Injak Kepala Kerbau, Lukas Luwarso Soroti Tokoh di Balik Acara Jokowi di Lampung
-
Modus PKBM Indonesia Negeriku Korupsi Dana Pendidikan Ratusan Pelajar
-
Gus Yaqut Jalani Tindakan Medis di RS Polri, KPK Berharap Segera Kembali Hadapi Proses Hukum
-
Prabowo Bentuk Satgas Guru Besar, Komisi X DPR Siap 'Pelototi' Lewat Pengawasan
-
Fakta Mengerikan di Balik Tato 'Love Topik TH' Korban Penyekapan Bandung
-
Alasan Meringankan Vonis 10 Tahun Penjara Nadiem: Jadi Tokoh Inovasi Pendidikan dan Teknologi