Suara.com - Kebakaran hutan merupakan fenomena yang kerap terjadi di Indonesia. Menurut Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), sepanjang tahun 2025 tercatat sebanyak 546 kejadian kebakaran hutan dan lahan. Angka tersebut menjadikan kebakaran hutan dan lahan sebagai bencana alam terbesar ketiga yang terjadi di Indonesia.
Kebakaran hutan tidak hanya menyebar melalui kobaran api besar yang terlihat jelas. Dilansir dari Phys.org pada(29/5/2026), bara api kecil atau embers yang beterbangan di udara ternyata menjadi salah satu penyebab utama meluasnya kebakaran ke area baru. Bara api ini dapat terbawa angin hingga jarak tertentu, lalu memicu titik api baru ketika jatuh di area yang mudah terbakar.
Penelitian terbaru dari Oregon State University menemukan bahwa bangunan yang lebih tinggi justru dapat menghasilkan lebih banyak embers dibanding bangunan rendah. Temuan ini menjadi perhatian penting karena kebakaran hutan kini semakin sering menjalar hingga ke kawasan permukiman.
Studi Mengenai Pengaruh Tinggi Bangunan Terhadap Besarnya Kebakaran
Dalam studi bertajuk “Firebrands Generated from Structures in Built Environment” menguji berbagai jenis struktur bangunan dengan material dan tinggi yang berbeda. Hasilnya menunjukkan bahwa bangunan bertingkat mampu menghasilkan ribuan embers lebih banyak dibanding bangunan rendah. Jumlah bara api yang dihasilkan berkisar antara 2.000 hingga 24.000 partikel kecil, tergantung pada bahan bangunan dan ukuran struktur.
Profesor teknik mesin dari Oregon State University, David Blunck, mengatakan bahwa embers menjadi tantangan terbesar dalam penyebaran kebakaran hutan.
“Bara api adalah cara paling sulit bagi kebakaran hutan untuk menyebabkan penyebarannya,” ungkapnya.
Ia menjelaskan bahwa pemahaman mengenai bagaimana embers terbentuk dan bergerak di udara dapat membantu ilmuwan memprediksi penyebaran api dari satu lokasi ke lokasi lainnya.
Tak Hanya Tinggi Bangunan, Material Bangunan Juga Menjadi Penyebab
Baca Juga: Kebakaran TPA Jatiwaringin Meluas Hingga 15 Hektare
Selain tinggi bangunan, para peneliti juga menemukan bahwa material konstruksi sangat memengaruhi jumlah embers yang terbentuk. Bangunan dengan material mudah terbakar, seperti cedar siding atau pelapis kayu cedar, menghasilkan lebih banyak bara api dibanding bangunan dengan material tahan api.
Peneliti utama dalam studi tersebut, Deepak Sharma, mengatakan bahwa ukuran struktur dan jenis material bangunan menjadi faktor penting dalam produksi embers.
“Diperlukan lebih banyak penelitian, tetapi tampaknya skala struktur dan material bangunan eksterior merupakan faktor dalam produksi percikan api karena bagaimana skala tersebut memengaruhi intensitas api dan dinamika sebaran api akibat angin,” jelas Sharma.
Melalui riset ini, para peneliti berharap hasil studi tersebut dapat menjadi acuan dalam perencanaan kota dan desain bangunan di wilayah rawan kebakaran hutan. Dengan memahami bagaimana embers terbentuk dan menyebar, pemerintah maupun masyarakat diharapkan dapat menentukan jenis konstruksi yang lebih aman guna mengurangi risiko kebakaran besar di masa depan.
Penulis: Natasha Suhendra
Berita Terkait
Terpopuler
- 30 Wakil Menteri Rangkap Jabatan Jadi Komisaris BUMN, Ini Daftar Namanya
- Petinggi FPI Novel Bamukmin Ditunjuk Jadi Komisaris Hotel Indonesia Natour
- 'Daripada Liburan Mending Melawan', Ibu-ibu di Jogja Geruduk Bundaran UGM Gugat Kebijakan Korup
- Kacamata Cat Eye Cocok untuk Bentuk Wajah Apa? Ini 3 Pilihan dengan Harga Ramah di Kantong
- 5 Sepatu Running Asics Diskon di Sports Station, Potongan Harga hingga 64 Persen
Pilihan
-
Cristiano Ronaldo Umumkan Perpisahan! Piala Dunia 2026 Jadi Panggung Terakhir
-
Tangis Bayi Pecah Pagi Hari, Warga Temukan Bayi Perempuan Baru Lahir di Teras Rumah
-
Rupiah Nyaris ke Rp18.000 Lagi Hari Ini
-
Ole Romeny Bakal Satu Tim dengan Justin Hubner di Liga Belanda, Fortuna Sittard Siapkan Tawaran
-
Antar Timnas Perancis ke 16 Besar, Mbappe Pecahkan Sejumlah Rekor Piala Dunia 2026
Terkini
-
Dua Aksi Demo Digelar di Jakarta Pusat, 700 Personel Gabungan Dikerahkan
-
Lebih dari 16 Ribu Lulusan SD di Tangsel Tak Kebagian SMP Negeri saat SPMB 2026
-
120 Rumah di Tamansari Tak Punya Septic Tank
-
Kelangkaan Kursi Sekolah Jadi Akar Dugaan Jual Beli Bangku di SPMB 2026
-
Raja Juli Laporkan Dugaan Amplop dari Bupati Kuansing, KPK Mulai Verifikasi
-
Dino Patti Djalal Kritik RI Tak Hadir di Iran: Indonesia Takut sama Amerika?
-
SPMB 2026: Dari Dugaan Gratifikasi hingga Siswa Titipan
-
Setengah Abad Menanti Sertifikat: Perjuangan Warga Dua RW di Jaksel Mencari Kepastian Hak Tanah
-
Shopee Belanja Instant 1 Jam Tiba, Solusi Praktis Penuhi Kebutuhan Harian
-
Tragedi Ibu Hamil Tewas di Sugapa, Komnas HAM Desak Akhiri Kekerasan di Wilayah Sipil