Suara.com - Paparan panas ekstrem di perkotaan tidak dirasakan secara merata oleh seluruh masyarakat. Kelompok rentan, khususnya orang-orang tanpa tempat tinggal tetap, terus saja menghadapi risiko lebih besar ketika suhu meningkat.
Minimnya akses terhadap tempat berlindung membuat mereka harus menghabiskan waktu lebih lama di ruang terbuka. Kondisi tersebut semakin berat saat lingkungan sekitar tidak cukup mampu memfasilitasi pepohonan sebagai peneduh.
Penelitian dari University of Utah yang dipublikasikan dalam Journal of Urban Health mengungkapkan betapa pentingnya keberadaan pepohonan bagi perlindungan kelompok rentan dari panas perkotaan.
Studi tersebut berjudul Trees Reduce Daytime Extreme Urban Heat Risk for People Experiencing Unsheltered Homelessness itu mengkaji paparan panas yang dialami oleh orang-orang tanpa tempat berlindung di Salt Lake City, Amerika Serikat.
Penelitian ini bahkan melibatkan delapan peserta yang dipantau selama 29 Juli hingga 3 Agustus 2024. Mereka membawa telepon seluler berteknologi GPS dan sensor panas portabel untuk mengukur paparan suhu sepanjang aktivitas sehari-hari.
Peneliti mengakumulasikan hampir 10.000 pengamatan indeks panas. Data tersebut digunakan untuk meninjau intensitas paparan panas sekaligus mengkomparasikannya dengan keberadaan tutupan pepohonan.
Hasil penelitian memperlihatkan para peserta mengalami paparan panas dengan tingkat risiko sedang selama hampir 20 persen waktu aktivitas siang hari.
Bahkan paparan ekstrem juga dijumpai meskipun frekuensinya lebih rendah. Kondisi inilah yang memperlihatkan bahwa kelompok tanpa tempat berlindung menghadapi risiko lingkungan yang tidak bisa diabaikan.
Situasinya pun bertambah parah ketika malam hari. Sebab, tidak punya cukup waktu utnuk memulihkan diri dari suhu panas. Peserta cenderung menghabiskan rata-rata 69 persen waktu malam dalam kondisi bersuhu di atas ambang malam panas, yakni 20 derajat Celsius.
Pepohonan Bantu Turunkan Paparan Panas
Di tengah kondisi tersebut, keberadaan pepohonan memberikan perlindungan yang cukup berarti. Peneliti menemukan bahwa waktu yang dihabiskan di bawah naungan pohon berkaitan dengan penurunan indeks panas.
Pada rentang pukul 12.00 hingga 18.00, naungan pepohonan mampu menurunkan indeks panas sekitar 1,7 hingga ,2 derajat Farenheit.
Manfaat pendinginan tersebut mengalami peningkatan seiring bertambahnya waktu seseorang berada di bawah kanopi pohon. Dampaknya kemudian mulai melandai setelah sekitar 15 menit.
Temuan ini membuktikan bahwa pepohonan bukan sekadar bagian dari penghias kawasan perkotaan. Lebih dari itu, keberadaannya juga berperan penting sebagai bagian dari infrastruktur kesehatan masyarakat.
Peneliti utama sekaligus profesor madya di University of Utah, Jeff Rose, menekankan betapa pentingnya pepohonan bagi masyarakat yang tidak memiliki tempat berlindung.
"Pepohonan sering dipandang sebagai fasilitas ekologis. Namun, pepohonan juga merupakan bentuk infrastruktur kesehatan masyarakat," kata Rose.
Menurutnya, keberadaan pepohonan menjadi kian penting bagi kelompok yang tidak memiliki perlindungan dari peningkatan suhu perkotaan.
Namun, akses terhadap ruang teduh ternyata tidak selalu mudah. Peserta penelitian terkadang hanya menghabiskan waktu kurang dari 10 hingga 15 menit di bawah naungan pohon.
Hambatan akses tersebut membuat mereka tidak bisa memperoleh manfaat pendinginan secara maksimal. Bahkan, sejumlah ruang publik yang memiliki pepohonan belum menjamin dapat digunakan secara leluasa.
Pentingnya Pemerataan Ruang Hijau
Peneliti merekomendasikan agar penanaman pohon lebih diutamakan di kawasan yang lebih panas. Selain itu, memiliki banyak permukaan beraspal, dan selama ini kurang mendapatkan pelayanan lingkungan.
Pembangunan taman, koridor hijau di sepanjang sungai, ruang publik, serta ruang bersama lainnya juga menjadi bagian dari rekomendasi tersebut.
Tak hanya itu, pemerintah juga harus memastikan kelompok rentan dapat mengaksesnya tanpa menghadapi pengusiran atau pembatasan penggunaan ruang publik.
Peneliti turut menekankan bahwa orang-orang tanpa tempat tinggal tetap perlu dilibatkan dalam pengambilan keputusan mengenai penanaman pohon dan pengelolaan taman.
Sebab, kebijakan yang justru menggusur mereka dari kawasan teduh sama saja dengan menghilangkan manfaat investasi dari ruang hijau perkotaan itu sendiri.
Pepohonan memang tidak dapat menggantikan kebutuhan terhadap hunian yang aman maupun pendingin ruangan yang nyaman. Namun, keberadaan naungan tetap menjadi salah satu perlindungan penting ketika suhu perkotaan meningkat.
Dengan adanya penelitian ini menjadi pengingat bahwa penyediaan ruang hijau tidak selalu mengutamakan segi estetikanya saja. Pemerataan akses terhadap lingkungan yang lebih sejuk juga berkaitan dengan keselamatan dan kualitas hidup masyarakat, terutama kelompok yang paling rentan menghadapi panas ekstrem.
Penulis: Chairunisa