- Jika penggunanya tidak memiliki literasi yang kuat, AI tidak akan menjadi alat bantu.
- Pustakawan berperan penting sebagai pemandu literasi yang menghubungkan pembaca dengan buku.
- Pelatihan rekayasa perintah diberikan agar pustakawan mampu memvalidasi informasi dari mesin AI guna menangkal potensi halusinasi atau hoaks.
Suara.com - Di tengah gegap gempita revolusi kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI), kita sering kali melupakan satu fondasi paling mendasar: apakah kita sudah benar-benar bisa membaca?
Pertanyaan ini terdengar retoris, bahkan mungkin menyinggung. Namun, pesan kuat yang muncul dalam kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) yang digelar Fakultas Teknologi Informasi (FTI) Universitas YARSI bersama Asosiasi Tenaga Perpustakaan Sekolah Indonesia (ATPUSI), pada Senin (6/4/2026) lalu, menyentak kesadaran kita.
Sebelum kita beradu canggih dengan "Akal Imitasi", literasi manusiawi kita harus beres terlebih dahulu.
Krisis Global: Saat Buku Menjadi Barang Mewah
Kehadiran Prof. James Swart dari Central University of Technology, Afrika Selatan, dalam acara tersebut membawa perspektif yang pahit namun nyata.
Krisis literasi ternyata bukan "penyakit" khas Indonesia semata.
Di Afrika Selatan, 81 persen pelajar kelas 4 SD belum mampu membaca dengan pemahaman yang utuh.
Akar masalahnya sangat akrab di telinga kita: minimnya infrastruktur. Bayangkan, 74 persen sekolah di sana tidak memiliki perpustakaan yang berfungsi.
Namun, Prof. James membagikan satu titik balik yang personal. Karier gemilangnya—berkeliling ke 24 negara dan mempublikasikan lebih dari 200 karya ilmiah—ternyata bukan bermula dari laboratorium canggih, melainkan dari satu buku yang tepat yang diberikan oleh seorang guru yang peduli.
Baca Juga: Rincian Besaran Gaji Ke-13 Pegawai Non-ASN 2026 Berdasarkan Jenjang Pendidikan
Di sinilah peran pustakawan menjadi krusial. Prof. James mengajak kita mendefinisikan ulang posisi pustakawan: mereka bukan sekadar penjaga rak yang berdebu, melainkan seorang "makcomblang".
Pustakawan sebagai "Makcomblang" Peradaban
Mengutip Teori 5 Hukum Ilmu Perpustakaan dari S.R. Ranganathan (1931), tugas utama pustakawan adalah mempertemukan setiap pembaca dengan bukunya (Every reader his/her book).
Ketika seorang pustakawan berhasil menjodohkan seorang anak dengan buku yang sesuai minatnya, di situlah letupan literasi terjadi.
Namun, di era digital, peran "makcomblang" ini berevolusi.
Pustakawan kini harus bertransformasi dari sekadar kurator fisik menjadi pemandu literasi informasi. Kita tidak lagi sekadar butuh "bisa membaca", tapi butuh kemampuan "4i": Kenali, Cari, Evaluasi, dan Pakai.
Berita Terkait
-
Gandeng OpenAI, Novo Nordisk Percepat Revolusi AI di Sektor Kesehatan
-
Wamenkomdigi: Generative AI Bikin Lansia Bingung, Konten Rekayasa Wajib Watermark
-
Wamenkes Dante Blak-blakan: AI Percepat Diagnosis Penyakit, Tapi RI Masih Bergantung Impor
-
Mengintip Pengembangan Robot Cerdas Sektor Energi di Guangdong
Terpopuler
- 5 Sabun Cuci Muka yang Bagus untuk Memutihkan Kulit Wajah di Indomaret dan Harganya
- 7 Sabun Cuci Muka dengan Kolagen untuk Kencangkan Wajah, Bikin Kulit Kenyal dan Glowing
- Oki Setiana Dewi Jadi Kunci Kasus Pelecehan Syekh Ahmad Al Misry Terbongkar Lagi, Ini Perannya
- 6 HP Realme Kamera Bagus dan RAM Besar, Paling Murah Mulai Rp1 Jutaan
- Cushion Apa yang Tahan 12 Jam Tanpa Luntur? Ini 4 Pilihan Terbaiknya
Pilihan
-
BREAKING NEWS! Iran Resmi Buka Blokade Selat Hormuz Sepenuhnya
-
Kisah di Balik Korban Helikopter Sekadau, Perjalanan Terakhir yang Tak Pernah Sampai
-
DPR Minta Ombudsman RI Segera Konsolidasi Internal Usai Ketua Jadi Tersangka Korupsi Nikel
-
Siti Nurhaliza Alami Kecelakaan Beruntun di Jalan Tol
-
Timnas Indonesia U-17 Diganyang Malaysia, Kurniawan Ungkap Borok Kekalahan
Terkini
-
Menepis Hoaks Izin Lintas Udara: Strategi Cerdik Prabowo Mengunci AS, Rusia, dan China
-
Cikeas, Anies, dan Seni Menyembunyikan Politik di Balik Kata 'Tidak Diundang'
-
Wasiat Jurgen Habermas untuk Bos dan Manajer Perusahaan agar Kantor Tak Jadi Penjara
-
Momentum Ramadan: Mengubah Tragedi 'Perang Sarung' Menjadi Ruang Kreasi Melalui Masjid Ramah Anak
-
Di Balik Valentine: Memaknai Ulang Cinta, Mencegah Femisida dalam Pacaran
-
Kasus YBS dan Keberpihakan Anggaran Perlindungan Anak
-
Jangan Tunggu Negara! Lindungi Dirimu Sendiri dari Serangan Kanker
-
Homeless Media dan Negosiasi Kredibilitas dalam Masyarakat Jaringan
-
Membedah Potensi Gangguan Asing terhadap Kondusivitas Negara
-
Risiko Siber dan Keberlanjutan Keuangan