- Pangsa pasar pabrikan otomotif Jepang di Thailand anjlok drastis akibat serbuan mobil China.
- Era mobil listrik dan otomatisasi pabrik memicu ancaman PHK massal bagi pekerja otomotif.
- Serikat pekerja mendesak adanya pelatihan ulang, bukan sekadar pesangon bagi buruh yang terdampak.
Suara.com - Persaingan sengit industri otomotif di Thailand kini menjadi perhatian serius bagi negara tetangga seperti Indonesia. Dominasi pabrikan Jepang yang selama ini mengakar kuat mulai runtuh secara perlahan.
Kehancuran takhta merek lawas ini bukan satu-satunya masalah besar yang sedang terjadi. Ada bom waktu yang siap meledak di balik transisi industri menuju kendaraan listrik.
Nasib sekitar satu juta pekerja pabrik kini berada di ujung tanduk. Mereka terancam kehilangan mata pencaharian akibat masifnya penggunaan robot dan pergeseran teknologi perakitan.
Tsunami Mobil China dan Runtuhnya Raksasa
Data Automotiveworld pada awal 2026 menunjukkan fakta yang cukup mengejutkan. Penguasaan pasar merek Jepang di negeri Gajah Putih menyusut dari 90 persen menjadi 70 persen.
Sebaliknya, merek-merek asal China justru sedang menikmati masa kejayaan. Nama-nama besar seperti BYD, GWM, dan Chery mencatat lonjakan pasar hingga empat kali lipat.
Kondisi ini memaksa para pemain lama melakukan konsolidasi besar-besaran untuk bertahan hidup. Bahkan, Suzuki dan Subaru telah memilih angkat kaki dan menutup pabrik mereka di sana.
Robot Datang, Manusia Terbuang?
Gempuran mobil listrik dari China benar-benar mengubah cara pabrik beroperasi. Kapasitas produksi jutaan unit per tahun kini lebih banyak mengandalkan otomatisasi canggih.
Baca Juga: Tren Baru Belanja Aksesoris Kendaraan Mengusung Konsep Experience di Pusat Perbelanjaan
Mobil listrik membutuhkan komponen yang jauh lebih sedikit ketimbang kendaraan konvensional. Hal ini otomatis memangkas kebutuhan tenaga kerja manusia di jalur perakitan.
Merespons krisis ini, federasi serikat pekerja internasional, IndustriALL Global Union, langsung angkat bicara. Mereka meminta perusahaan tidak mengambil langkah sepihak.
"Dari perspektif serikat pekerja, hal paling mendasar adalah adanya serikat itu sendiri. Perusahaan tidak boleh menutup ruang bagi pekerja untuk memiliki suara kolektif dan terlibat dalam dialog," ujar Direktur Industri Otomotif dan Dirgantara IndustriALL Global Union Georg Leutert.
Pesangon Saja Tidak Cukup
Keterlibatan pekerja dalam menentukan arah perusahaan kini menjadi sangat vital. Keputusan manajemen akan berdampak langsung pada kelangsungan hidup ratusan ribu keluarga.
"Harus ada pertukaran yang berkelanjutan antara manajemen dan pekerja untuk mencari solusi bersama. Selain itu, perusahaan juga harus melihat dampaknya terhadap masyarakat luas," jelasnya.
Berita Terkait
Terpopuler
- Bedak Wardah Apa yang Cocok untuk Usia 40 Tahun? Ini 5 Rekomendasi Terbaik agar Flawless dan Fresh
- Tak Lagi Disamping Prabowo, Kursi Wapres Gibran Geser Sejajar Menteri di Sidang Kabinet
- 7 Statistik Miris Argentina Saat Dipecundangi Spanyol di Final Piala Dunia 2026
- Persib dan Persija Dikabarkan Tak Lolos IPO di Bursa Efek Indonesia
- Perbedaan Eau De Parfum dan Eau De Toilette, Mana yang Sesuai Kebutuhanmu?
Pilihan
-
Laporkan Hotman Paris ke Polda Metro, PWI Ragukan Ketulusan Permohonan Maaf Sang Pengacara
-
Mendukung Working Mom Mengelola Keuangan Keluarga Lebih Efisien dengan AstraPay
-
Usai Nobar Final Piala Dunia, Bupati Lombok Barat Lalu Ahmad Zaini Kena OTT KPK
-
Menteri PU Dody Hanggodo Bakal Dicopot Agustus? 'Prabowo Tak Suka Menteri yang Bikin Gaduh'
-
Tersangka Don Ritto Dikawal Rantis Brimob saat Tiba di Kejagung, Emas hingga Brankas Ikut Dibawa
Terkini
-
FIFA Buka Voting Tim Terbaik Piala Dunia 2026: Argentina Sumbang 5 Pemain, Spanyol?
-
Dari Pameran Kudatuli, Megawati Titip Pesan untuk Generasi Muda Indonesia
-
Kasus Dugaan Penculikan Atlet Golf Jesslyn Wijaya, Polisi Telusuri Perjalanan hingga Kuala Lumpur
-
Bukan Sekedar Catatan Masa Lalu, Peristiwa Kudatuli Merupakan Simbol Perjuangan Lawan Ketidakadilan
-
Usut Aliran Rp 91 Miliar Suap Bea Cukai, KPK Tetapkan Tersangka Baru
-
Korupsi Disebut Kejahatan HAM, Mengapa Hak Korban Belum Jadi Perhatian?
-
Aksesori Estetik Makin Digemari, Ini Tempat Belanja Lengkap Incaran Reseller hingga Jastiper
-
Salah Setting Aplikasi Navigasi, Pemotor RX-King Nekat Masuk Tol Jagorawi
-
Anggaran Jasa Belanja Tenaga Ahli Banten Tembus Rp55,47 Miliar, Kepala BPKAD Mengaku Kaget
-
Jembatan di Serang Mulai Dibangun Andra Soni Usai 25 Tahun Tak Tersentuh Perbaikan