Otomotif / Mobil
Sabtu, 06 Juni 2026 | 14:10 WIB
Xiaomi YU7 dikritik karena menggunakan prosesor Snapdragon 8 Gen 3 yang biasa digunakan pada HP. Dinilai tidak aman. [Dok Xiaomi]
Baca 10 detik
  • Xiaomi Group melaporkan penjualan 80.856 unit mobil listrik sepanjang kuartal pertama 2026 dengan pertumbuhan 6,6 persen tahunan.
  • Segmen otomotif mencatat kerugian operasional Rp8,2 triliun, setara Rp101 juta per unit mobil yang berhasil terjual ke konsumen.
  • Penurunan margin kotor disebabkan oleh tingginya biaya komponen inti serta pergeseran proporsi penjualan model kendaraan yang lebih murah.

Suara.com - Xiaomi Group baru saja merilis laporan keuangan kuartal pertama 2026. Meski penjualan mobil listrik mereka meningkat, segmen otomotif justru mencatat kerugian besar.

Dengan total 80.856 unit terjual, Xiaomi kehilangan sekitar Rp100 juta untuk setiap mobil yang keluar dari showroom, menurut Car News China.

Segmen smart EV dan inovasi AI Xiaomi menghasilkan pendapatan Rp52,2 triliun (USD 2,9 miliar). Namun, kerugian operasional mencapai Rp8,2 triliun (USD 457 juta).

Artinya, setiap mobil yang dijual membuat perusahaan merugi Rp101 juta. Tahun lalu, kerugian per unit hanya sekitar Rp16 juta.

Sepanjang kuartal pertama, Xiaomi berhasil mengirimkan 80.856 unit mobil, naik 6,6 persen dibanding periode sama 2025. Rata-rata harga jual mobil listrik Xiaomi sekitar Rp623 juta (USD 34.600).

Pertumbuhan ini didorong oleh seri YU7, yang dalam 10 bulan sudah terjual 232.000 unit. Sementara generasi baru SU7 yang diluncurkan Maret 2026 langsung mengantongi lebih dari 80.000 pesanan.

Sedan Listrik Xiaomi SU7 Generasi Baru (mi.com)

Meski pendapatan naik, margin kotor segmen EV turun menjadi 20,1 persen dari sebelumnya 23,2 persen. Penyebabnya antara lain:

  • Subsidi pajak pembelian kendaraan.
  • Penurunan proporsi penjualan SU7 Ultra yang margin-nya lebih tinggi.
  • Biaya komponen inti yang semakin mahal.

Pada April 2026, Xiaomi mencatat penjualan 36.702 unit mobil, naik 28,4 persen dibanding tahun lalu dan melonjak 71,2 persen dibanding Maret. Angka ini menunjukkan permintaan masih kuat, meski profitabilitas belum tercapai.

Kerugian besar menunjukkan bahwa Xiaomi masih dalam fase investasi besar untuk membangun ekosistem mobil listrik. Konsumen mendapat keuntungan berupa harga kompetitif dan fitur canggih, tapi bagi perusahaan, jalan menuju profit masih panjang.

Baca Juga: Nasib Garansi Seumur Hidup Mobil Listrik Wuling Saat Berpindah Tangan

Load More