/
Sabtu, 22 Juli 2023 | 22:35 WIB
Pertumpahan darah tahun 1996 (Tangkapan layar CNN Indonedia)

PURWOKERTO.SUARA.COM- Pertumpahan darah tahun 1996 terkait partai PDI (Partai Demokrasi Indonesia) merupakan salah satu peristiwa tragis yang mengguncang Indonesia. 

Peristiwa ini dikenal sebagai Kuda Tuli yang terkait dengan Partai Demokrasi Indonesia (PDI) dan terjadi pada masa pemerintahan Orde Baru yang dipimpin oleh Presiden Soeharto.

Konflik ini mencatatkan babak kelam dalam sejarah politik Indonesia dan menandai pecahnya persatuan dalam partai tersebut.

Pada tahun 1996, Indonesia berada di tengah-tengah suasana politik yang panas jelang pemilihan umum (pemilu). 

Partai-partai politik bersaing ketat untuk merebut kekuasaan. Di tengah situasi ini, Partai Demokrasi Indonesia (PDI) menjadi saksi bagi pecahnya persatuan internalnya.

PDI merupakan partai yang memiliki sejarah panjang dalam perjuangan politik Indonesia. Partai ini didirikan pada 10 Januari 1973 oleh Megawati Soekarnoputri, putri dari Presiden pertama Indonesia, Soekarno. 

Salah satu partai oposisi terhadap rezim Orde Baru yang dipimpin oleh Presiden Soeharto. Namun, pada masa itu, PDI diberikan peluang oleh penguasa untuk ikut serta dalam politik dengan syarat patuh pada aturan yang ditetapkan oleh penguasa.

Peristiwa Pertumpahan Darah 1996

Pada tanggal 27 Juli 1996, pertumpahan darah terjadi di gedung PDI di Jalan Diponegoro, Jakarta. 

Baca Juga: Melihat Ada yang Tidak Beres, Deklarator Projo se-Pulau Jawa Nyatakan Dukung Ganjar di Pilpres 2024

Saat itu, ada dua kubu yang berseteru di dalam partai, yaitu kelompok yang mendukung Megawati Soekarnoputri (yang waktu itu menjabat sebagai ketua umum PDI) dan kelompok yang mendukung Soerjadi, seorang politisi yang diangkat oleh penguasa Orde Baru sebagai ketua umum baru PDI melalui kongres yang kontroversial.

Konflik ini semakin memuncak ketika Megawati, yang saat itu telah menjabat sebagai ketua umum PDI selama dua periode sejak 1993, dicopot dari jabatannya melalui kongres luar biasa yang dinilai curang. 

Hasilnya, Soerjadi diangkat sebagai ketua umum baru, yang kemudian diakui oleh penguasa Orde Baru.

Puncak pertumpahan darah terjadi ketika pasukan keamanan dikerahkan oleh penguasa Orde Baru untuk membubarkan demonstrasi yang berlangsung di gedung PDI. 

Bentrokan antara pasukan keamanan dengan para pendukung Megawati menyebabkan terjadinya kerusuhan dan aksi kekerasan. Tidak sedikit korban tewas dan luka-luka akibat insiden tersebut.

Peristiwa pertumpahan darah tahun 1996 mengakibatkan dampak yang sangat besar dalam politik Indonesia. Berikut adalah beberapa akibat yang ditimbulkannya:

Pecahnya PDI

Konflik internal ini mengakibatkan pecahnya partai PDI menjadi dua kubu yang berbeda. Kelompok yang mendukung Megawati Soekarnoputri membentuk partai baru dengan nama PDI Perjuangan, sementara kelompok yang mendukung Soerjadi tetap menggunakan nama PDI yang diakui oleh penguasa Orde Baru.

Penguatan Oposisi

Dengan terbentuknya PDI Perjuangan, menjadi sebuah partai oposisi yang kuat terhadap penguasa Orde Baru, sehingga menambah tekanan terhadap rezim yang sudah semakin terguncang akibat krisis ekonomi yang melanda Indonesia pada masa itu.

Pemilu 1997

Peristiwa ini turut berpengaruh pada pemilihan umum tahun 1997, di mana PDI Perjuangan menjadi salah satu partai yang meraih dukungan besar dari masyarakat dan berhasil memperoleh sejumlah kursi penting di parlemen.

Runtuhnya Orde Baru

Peristiwa pertumpahan darah 1996 menjadi salah satu momen penting yang turut menyumbang pada runtuhnya rezim Orde Baru. 

Krisis politik dan ekonomi yang semakin memburuk serta desakan reformasi dari berbagai kalangan menyebabkan Soeharto mengundurkan diri sebagai Presiden pada tahun 1998.***

Load More