/
Sabtu, 09 Juli 2022 | 10:48 WIB
suara.com

Selebtek.suara.com - Elon Musk dikabarkan batal membeli Twitter karena alasan banyak masalah dengan kesepakatan senilai USD 44 miliar itu. Berdasarkan keterangan pengacara Musk, Twitter telah membuat pernyataan palsu dan menyesatkan saat ketika memasuki Merger Agreement. 

Dalam perjanjian, Elon Musk tetap harus membayar biaya perpisahan senilai USD 1 miliar jika kesepakatan berakhir di tengah jalan.

Meski demikian, tim hukum Musk tampaknya menunjukkan bahwa miliarder itu menganggap perjanjian tersebut tidak valid. Sementara Twitter mengatakan perjanjian itu masih berlaku dan perusahaan media sosial akan mendesak Musk untuk melanjutkannya.

"Dewan Twitter berkomitmen untuk menutup transaksi pada harga dan persyaratan yang disepakati dengan Musk dan berencana untuk mengambil tindakan hukum untuk menegakkan perjanjian merger. Kami yakin kami akan menang di Delaware Court of Chancery," kata Bret Taylor, ketua Twitter, seperti dikutip dari The Independent, Inggris pada Sabtu (9/7/2022).

Musk sebelumnya berulang kali mengatakan kalau eksekutif Twitter menyembunyikan data bot dan akun spam di platform. Twitter menyatakan perusahaannya hanya memiliki kurang dari lima persen akun bot dari pengguna aktifnya.

Musk ragu dengan hal tersebut sampai dia bisa meemriksanya sendiri. "Selama hampir dua bulan, Musk telah mencari data dan informasi yang diperlukan untuk membuat penilaian independen terhadap prevalensi akun palsu atau spam di Twitter," tulis pengajuan tersebut.

Twitter sering mengabaikan permintaan Musk, bahkan terkadang menolaknya dengan lasan yang tidak dapat dibenarkan. Mereka mengklaim akan mematuhinya dengan memberikan informasi yang tidak lengkap atau tidak dapat digunakan kepada Musk.

Pengacara mengatakan bahwa Musk telah meminta informasi terperinci tentang bagaimana Twitter menemukan akun spam dan akun palsu, dan menangguhkannya, serta detail lebih lanjut tentang cara kerjanya bagi pengguna aktif harian.

Hampir semua laporan itu berfokus pada masalah-masalah dengan akun palsu dan spam. Tetapi juga disebutkan bahwa Twitter telah mengubah bisnisnya secara signifikan sejak Musk membuat tawaran untuk membelinya, merujuk pada pemecatan sejumlah karyawan tingkat tinggi dalam beberapa pekan terakhir. (*)

Baca Juga: Pertemuan G20 di Bali Diwarnai Insiden, Sikap Menlu Rusia Dianggap tak Hormati G20

Sumber: Suara.com

Load More