Rizki Nurmansyah | Arief Apriadi
Senin, 16 Desember 2019 | 15:22 WIB
Wasekjen NPC Indonesia Rima Ferdianto usai konferensi pers terkait ASEAN Para Games 2020 di Gedung Kemenpora, Senayan, Jakarta, Senin (16/12/2019). [Suara.com/Arief Apriadi]

Suara.com - Komite Paralimpiade Nasional (NPC) Indonesia bertindak cepat dalam merespons banyaknya masalah pada penyelenggaraan SEA Games 2019 Filipina.

Kendati belum mengetahui apakah buruknya pelayanan negara tuan rumah bakal terulang di ajang ASEAN Para Games 2020, organisasi pembina atlet penyandang disabilitas Tanah Air itu telah menyiapkan antisipasi.

Salah satu bentuk antisipasi NPC terhadap potensi buruknya pelayanan bagi atlet-atlet Indonesia adalah dengan menyediakan shuttle penjemput secara mandiri, di luar persediaan panitia.

"Jadi nanti kita disetiap cabang olahraga itu bakal menyewa satu kendaraan untuk keadaan darurat," ujar Wasekjen NPC Indonesia, Rima Ferdianto, di Kemenpora, Senin (16/12/2019).

"Jadi ketika kita tak bisa menggunakan kendaraan dari panitia, kita bisa gunakan kendaraan sendiri," sambungnya.

Ketua Umum NPC Indonesia, Senny Marbun (keempat dari kiri) dalam konferensi pers terkait ASEAN Para Games 2020 Filipina di Gedung Kemenpora, Senayan, Jakarta, Senin (16/12/2019). [Suara.com/Arief Apriadi]

Disamping itu, Ketua Umum NPC Indonesia Senny Marbun juga mengatakan, tak akan banyak mengeluh kepada Filipina apabila penyelenggaraan ASEAN Para Games 2020 nanti kurang maksimal.

Kontingen Indonesia, kata Senny, akan lebih berusaha mandiri agar segala keperluan atlet dan ofisial selama berlaga di Filipina bisa terpenuhi dengan baik.

"Memang banyak masalah di Filipina. Kita sudah tahu kelemahan Filipina di mana, angaran mereka dan sebagainya belum siap," beber Senny.

"Karena itu kita tak akan banyak menuntut, tapi bagaimana caranya kita bertanding dan menang. Urusan lain belakangan kita selesiakan," sambungnya.

Di sisi lain, pemerintah melalui Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) turut mendukung NPC Indonesia dalam mencari solusi terkait masalah pelayanan ASEAN Para Games 2020.