- Kominfo bersama IOH meluncurkan Sahabat-AI, aplikasi AI yang diklaim paling memahami bahasa dan budaya Indonesia.
- Peluncuran Sahabat-AI di Jakarta bertujuan memperkuat kedaulatan digital dan membangun ekosistem AI nasional yang inklusif.
- Platform multi-model ini dirancang aman, berlandaskan norma lokal, serta dapat digunakan oleh beragam lapisan masyarakat Indonesia.
Namun di balik pendekatan lokal tersebut, platform ini tetap diperkuat dengan teknologi kelas dunia untuk memastikan performa, akurasi, dan skalabilitasnya mampu bersaing secara global.
Kolaborasi lintas sektor dalam ekosistem nasional menjadi fondasi pengembangannya, menjadikan Sahabat-AI sebagai simbol gotong royong digital Indonesia.
Di tengah kekhawatiran global terhadap penyalahgunaan AI, Sahabat-AI dibangun dengan guardrails berlapis yang selaras dengan norma sosial, nilai budaya, dan standar etika Indonesia.
Pendekatan ini sejalan dengan upaya pemerintah dalam memerangi konten negative, menjaga ruang digital nasional tetap sehat, dan melindungi pengguna dari penyalahgunaan teknologi.
Dengan sistem ini, inovasi tetap berkembang tanpa mengorbankan keamanan publik.
Bukan untuk Indosat tapi untuk Indonesia
President Director & CEO Indosat Ooredoo Hutchison, Vikram Sinha, menekankan bahwa Sahabat-AI lahir dari misi besar pemberdayaan nasional.
“Sahabat-AI kami hadirkan bukan untuk Indosat, tetapi untuk Indonesia. Platform ini dibangun di atas keyakinan kami bahwa teknologi harus membawa manfaat bagi semua orang,” ucapnya.
Ia menambahkan bahwa keterbukaan akses menjadi kunci utama.
Baca Juga: Google dan Komdigi Gaspol Kembangkan Startup AI Indonesia, 63 Perusahaan Dapat Akses Google Cloud
“Dengan menjadikan Sahabat-AI terbuka, mudah diakses, dan dapat dimanfaatkan secara luas, kami menghadirkan fondasi inovasi yang bisa digunakan individu, startup, pelaku usaha, maupun institusi publik di seluruh penjuru negeri,” jelas dia.
Peluncuran Sahabat-AI menandai babak baru transformasi digital Indonesia. Di tengah dominasi platform AI global, Indonesia kini memiliki platform sendiri yang tidak hanya canggih, tetapi juga memahami identitas dan karakter bangsanya.
Berita Terkait
-
Pertama Kali, WhatsApp Call Pelanggan IM3 Aman dari Spam dan Scam
-
Dokumen Digital Jadi Senjata Baru Penipuan, Privy dan Komdigi Dorong Budaya Verifikasi
-
Platform Digital Bikin Kerja Lebih Cerdas dan Produktif
-
Cuan Gila! Modal Rp200 Ribu, Pria Malaysia Jual Domain ai.com Seharga Rp1,1 Triliun
-
Indosat Gelar Indonesia AI Day for Supply Chain, Bocorkan Jurus AI Pangkas Biaya
Terpopuler
- Singapura Diguncang Gelombang Protes Rakyatnya, Buntut Rencana Penggundulan Hutan untuk Perumahan
- Daihatsu Kenalkan Mobil 120 Jutaan, 1 Liter Jalan 27 Km
- Cara Membersihkan Bunga Es dengan Aman dan Cepat Tanpa Merusak Freezer
- 6 HP Realme RAM 12 GB dengan Performa Kencang, Mulai Rp2 Jutaan
- Erick Thohir Buka Hasil Evaluasi Timnas Indonesia usai Gagal di Piala AFF 2026
Pilihan
-
Diseret dari Gang ke Jalan! Kronologi Pedagang Cermin Tewas Dikeroyok Saat Demo Ricuh
-
Senayan Kondusif: Tol Dalam Kota Normal dan Blokade Jalan Dibuka Pasca Bentrok 27 Agustus
-
Ada Isu Aksi Demo Lanjutan, BEI Minta Investor Tak Panik
-
Admin Medsos dan Pengkritik Jadi Target Penangkapan Jelang Demo Agustus
-
3 Pesawat Tempur F16 'Rally' di Langit Jakarta Jumat Pagi, Ini Klarifikasi TNI AU
Terkini
-
Sering Tertukar? Ini Cara Mudah Membedakan Soal Cerita KPK dan FPB dalam Matematika
-
Sejumlah Pejabat Polda Riau Dimutasi, Karo SDM hingga 3 Kapolres
-
Terdampak Kabut Asap, Penerbangan Bandara Tjilik Riwut Lumpuh
-
Selat Hormuz Memanas, Harga Minyak Tembus US$90 Lagi
-
Profil Gus Kikin, Ketum Baru PBNU: Pewaris Sanad Hasyim Asyari hingga Pengusaha
-
Profil KH Abdul Hakim Mahfudz (Gus Kikin): Silsilah, Karier, dan Gurita Bisnis
-
Pemilik Lahan di Bengkalis Jadi Tersangka Karhutla
-
Bukan Cuma Koruptor, UU Perampasan Aset Bakal Sasar 13 Jenis Kejahatan
-
Menelusuri Jejak Rahasia 3.427 Arsip Kuno: Ketika Batik Indonesia Menggebrak Pasar Global
-
Emas Antam Diprediksi Fluktuatif, Rupiah Jadi Penopang Harga di Rp2,81 Juta