Tekno / Tekno
Jum'at, 10 Juli 2026 | 16:41 WIB
Wakil Menteri Komunikasi dan Digital (Wamen Komdigi), Nezar Patria. [Komdigi]
Baca 10 detik
  • Wamen Komdigi Nezar Patria menekankan pentingnya diplomasi chip dan pemanfaatan mineral kritis dalam memperkuat posisi geopolitik digital Indonesia.
  • Indonesia memanfaatkan cadangan nikel, kobalt, dan tembaga sebagai daya tawar untuk memperoleh akses teknologi serta kemitraan manufaktur semikonduktor.
  • Pemerintah mengintegrasikan sumber daya mineral, bonus demografi, dan pasar digital untuk menjadi pemain kunci dalam ekosistem AI global.

Suara.com - Di tengah perebutan dominasi kecerdasan artifisial (Artificial Intelligence/AI) antara negara-negara besar, akses terhadap chip semikonduktor, pusat data, hingga mineral kritis kini menjadi aset strategis yang menentukan posisi sebuah negara dalam peta ekonomi digital dunia. Indonesia pun dinilai memiliki peluang besar untuk mengambil peran lebih dari sekadar menjadi pasar teknologi.

Wakil Menteri Komunikasi dan Digital (Wamen Komdigi), Nezar Patria, menegaskan bahwa diplomasi chip dan pemanfaatan mineral kritis harus menjadi strategi utama Indonesia dalam membangun geopolitik digital nasional sekaligus memperkuat posisi di industri AI global.

Menurut Nezar, kekayaan sumber daya mineral strategis yang dimiliki Indonesia dapat dimanfaatkan sebagai daya tawar untuk memperoleh akses terhadap teknologi komputasi, transfer teknologi, hingga kerja sama manufaktur semikonduktor.

"Indonesia perlu menggunakan mineral kritis untuk menegosiasikan akses yang lebih baik ke komputasi, transfer teknologi, dan kemitraan manufaktur," tegas Nezar saat berbicara dalam Jakarta Geopolitical Forum dalam keterangan resminya, Jumat (10/7/2026).

Ia menjelaskan, Indonesia memiliki modal strategis yang sulit ditandingi banyak negara karena menguasai berbagai komoditas mineral yang menjadi fondasi industri teknologi modern.

Nezar mengungkapkan Indonesia merupakan pemilik cadangan nikel terbesar di dunia yang berperan penting dalam rantai pasok baterai global.

Ilustrasi pasokan baterai. [Pexel]

Selain itu, Indonesia juga menjadi produsen kobalt terbesar kedua di dunia yang digunakan dalam baterai berperforma tinggi dan semikonduktor, serta eksportir bijih tembaga terbesar ketiga yang dibutuhkan untuk sistem pengkabelan dan pendinginan pusat data AI.

"Kami memiliki cadangan nikel terbesar di dunia, yang memberi kami posisi yang kuat dalam rantai pasokan baterai global. Kami adalah produsen kobalt terbesar kedua di dunia, material kunci untuk baterai berkinerja tinggi dan semikonduktor canggih. Selain itu, kami adalah eksportir bijih tembaga terbesar ketiga, mineral penting untuk sistem pengkabelan dan pendinginan pusat data yang menampung infrastruktur AI," bebernya.

Menurut Nezar, kekayaan mineral tersebut harus menjadi modal Indonesia untuk naik kelas dalam ekosistem AI global, bukan sekadar menjadi pemasok bahan mentah ataupun pasar teknologi asing.

Baca Juga: Komdigi Ancam Blokir 22 Platform Digital, Ada Qatar Airways dalam Daftar

"Kekayaan mineral ini merupakan keunggulan strategis kami. Hal ini memungkinkan kami untuk melampaui sekadar menjadi konsumen teknologi dan menjadi pemain kunci dalam ekosistem AI global," ujarnya.

Di tengah rivalitas teknologi antara Amerika Serikat dan Tiongkok, pemerintah juga menilai Indonesia perlu menentukan jalur strategisnya sendiri melalui diplomasi digital yang berorientasi pada kepentingan nasional.

Nezar mengatakan terdapat empat kekuatan utama yang dimiliki Indonesia, yakni cadangan mineral kritis, pasar digital terbesar di Asia Tenggara, bonus demografi, dan potensi kapasitas komputasi.

Seluruh potensi tersebut harus diintegrasikan dengan pengembangan talenta digital, penguatan data, serta pembangunan industri teknologi agar Indonesia mampu bersaing di era AI.

Ia menambahkan, keunggulan sebuah negara di masa depan tidak lagi hanya ditentukan oleh kemampuan menciptakan inovasi, melainkan oleh kemampuan membangun ekosistem AI secara menyeluruh yang mencakup talenta, infrastruktur komputasi, data, hingga industri.

Sebagai implementasi strategi tersebut, pemerintah memprioritaskan pengembangan diplomasi chip, penguatan pasokan energi untuk pusat data, pembangunan talenta AI dan semikonduktor, penguatan kedaulatan data, serta pengembangan teknologi AI yang sesuai dengan kebutuhan Indonesia.

Nezar menegaskan, keberhasilan Indonesia menuju visi Indonesia Emas 2045 bergantung pada konsistensi dalam membangun fondasi digital nasional, mulai dari infrastruktur, pusat data, institusi, hingga sumber daya manusia.

Ilustrasi chip. [Freepik]

"Kekuatan digital pada akhirnya bukan hanya tentang teknologi semata. Ini tentang kemauan politik, kemauan untuk mempertahankan strategi lintas pemerintahan, untuk membangun institusi secara bertahap, dan memutuskan masa depan geopolitik baru Indonesia," pungkas Nezar.

Load More