- Laporan Google per 15 Juli 2026 menunjukkan adopsi aplikasi Gemini melonjak signifikan di kawasan Asia Tenggara, termasuk Indonesia.
- Pengguna di Asia Tenggara lebih memilih berinteraksi menggunakan bahasa lokal melalui perangkat seluler untuk kebutuhan produktivitas sehari-hari.
- Indonesia menjadi pemimpin regional dalam pemanfaatan teknologi multimodal dengan jutaan kreasi visual berbasis AI setiap harinya.
Indonesia Pimpin Inovasi AI Visual
Indonesia muncul sebagai salah satu pasar paling progresif dalam pemanfaatan AI generatif.
Sekitar 82 persen penggunaan Gemini di Indonesia dilakukan melalui perangkat seluler.
Bahkan, hampir 80 persen prompt dikirimkan dalam Bahasa Indonesia, menunjukkan tingginya adopsi AI yang mampu memahami konteks lokal.
Lebih menarik lagi, masyarakat Indonesia tidak lagi mengandalkan teks sebagai satu-satunya cara berinteraksi dengan AI.
Sekitar 50 persen prompt telah menggunakan pendekatan multimodal, memanfaatkan kombinasi foto, suara, maupun gambar. Tren tersebut menempatkan Indonesia sebagai pemimpin regional dalam kreativitas visual berbasis AI.
Google mencatat pengguna Indonesia menghasilkan hampir 9 juta gambar berbasis AI setiap hari, menjadikannya salah satu negara dengan aktivitas kreasi visual tertinggi di Asia Tenggara.
AI Bergeser dari Chatbot Menjadi Mitra Produktivitas
Laporan Google juga memperlihatkan perubahan perilaku pengguna. AI tidak lagi digunakan hanya untuk menjawab pertanyaan sederhana.
Baca Juga: Gemini Catat Pertumbuhan Tercepat di Asia Tenggara, AI Kini Makin Fasih Memahami Bahasa Indonesia
Hampir 40 persen permintaan kepada Gemini kini berupa pembuatan konten baru, mulai dari gambar, video, musik hingga dokumen.
Dalam satu tahun terakhir, pengguna di Asia Tenggara telah menghasilkan sekitar 5 miliar gambar menggunakan model pembuat gambar Google Nano Banana, serta hampir 1 juta lagu melalui model musik Lyria 3.
Selain sebagai alat kreatif, Gemini juga semakin sering dimanfaatkan sebagai asisten riset, peringkas dokumen, pengolah data, hingga teman berdiskusi dalam mencari ide, rekomendasi, maupun solusi atas berbagai persoalan sehari-hari.
Google Siapkan Era AI Agent Lewat Gemini Spark
Tidak berhenti pada AI percakapan, Google juga mulai memperkenalkan Gemini Spark, teknologi AI agent yang dirancang mampu bekerja secara lebih mandiri.
Berbeda dengan chatbot konvensional, Spark dikembangkan untuk menjalankan berbagai tugas secara proaktif melalui integrasi dengan Gmail, Google Docs, hingga Google Slides.
Sistem ini dapat bekerja di belakang layar untuk membantu pengguna menyelesaikan pekerjaan tanpa harus terus memberikan instruksi secara manual.
Saat ini Gemini Spark tersedia dalam bahasa Inggris bagi pelanggan Google AI Ultra, dan mulai pekan ini Google akan meluncurkannya secara bertahap dalam berbagai bahasa lokal Asia Tenggara.
Langkah tersebut memperlihatkan arah baru perkembangan AI generatif, dari sekadar menjawab pertanyaan menuju agen digital yang mampu membantu menyelesaikan pekerjaan secara otomatis.
Dengan pertumbuhan pengguna yang terus meningkat, kemampuan bahasa lokal yang semakin matang, serta perkembangan AI agent, Asia Tenggara diperkirakan akan menjadi salah satu laboratorium terbesar bagi evolusi kecerdasan buatan global.
Indonesia, dengan dominasi penggunaan AI berbasis perangkat seluler dan tingginya kreativitas multimodal, berada di posisi strategis untuk menjadi salah satu penggerak utama transformasi tersebut.
Berita Terkait
-
5 Fitur AI Galaxy A Series yang Memudahkan Aktivitas Harian
-
Rahasia Sukses Transformasi AI di Perusahaan, Bukan Dimulai dari Teknologinya
-
Xiaomi Siapkan Kejutan di IFA 2026, Investasi AI Rp151 Triliun Perkuat Ekspansi ke Eropa
-
Indosat Tancap Gas Bangun AI Indonesia, Vikram Sinha Lanjut Pimpin Transformasi hingga 2031
-
Ramadan 2026 Makin Canggih: Gemini AI Bantu Atur Puasa, Olahraga, hingga UMKM
Terpopuler
- LHKPN Tembus Rp7,2 Miliar, Kendaraan Plt Jampidsus Rudi Margono Cuma Motor Honda Seharga Rp5 Juta
- HP Murah Tapi Bagus HP Apa? Ini 9 Rekomendasi Terbaik Mulai Rp1 Jutaan
- 5 Sepatu Kanky Warna Putih Mulai Rp160 Ribuan, Nyaman dan Stylish
- 5 HP Murah dengan NFC Harga Rp1 Jutaan untuk Multitasking dan Transaksi Cashless Lancar
- Tan Kian Orang Terkaya ke Berapa di Indonesia?
Pilihan
-
Isu Mutasi Besar-besaran di Kementerian PU Buntut Dokumen Menteri Dody Tersebar
-
Gianni Infantino Resmi Digugat! Hubungan Gelap dengan Donald Trump Dibongkar
-
Niat Hindari Ribut dengan Alasan Beli Kuota, Pria Palembang Malah Dikejar dan Ditembak
-
Kejagung Akhirnya Buka Suara Soal Temuan 74 Kg Emas di Rumah Febrie Adriansyah: Kami Tak Tahu
-
Ada Ancaman Teror Bom, Seluruh Siswa dan Guru SDN 15 Srengseh Sawah Dipulangkan
Terkini
-
Bye Kulit Kering! Ini 5 Pilihan Body Wash Mengandung Hyaluronic Acid
-
Rumah Digeledah KPK, Apa Peran Anggota BPK Bobby Rizaldi di Skandal WTP Muara Enim?
-
Masuki Tahun ke-10, Seluruh Anggota NCT 127 Resmi Memperpanjang Kontrak
-
Perajin Menjerit! Batik Indonesia Dibajak Vietnam, Merek Lebih Dulu Didaftarkan di Luar Negeri
-
Serum atau Moisturizer Dulu? Panduan untuk Kulit Sehat dan Glowing
-
Beban Usaha Meningkat, DPR Usul Omzet UMKM Bebas Pajak Naik Jadi Rp75 Juta
-
Kakanwil Pastikan Layanan Imigrasi Lebih Dekat untuk Masyarakat Padangsidimpuan
-
Bos BCA Sindir Penemuan Emas 74Kg di Rumah Eks Jampidsus: Kurang Pintar
-
Bro Ron Sindir Keras OTT Bupati Sukoharjo: Mungkin Mau Ikuti Sekjennya
-
Target PLTS 100 GW: Bisakah Bali, NTB, dan NTT Memimpin Transisi Energi Indonesia?