Tekno / Sains
Senin, 27 Juli 2026 | 14:17 WIB
Planet mirip Bumi LHS 1140 b yang memiliki atmosfer. [Melissa Weiss/Center for Astrophysics | Harvard & Smithsonian]
Baca 10 detik
  • Planet Mirip Bumi bernama LHS 1140b terbukti memiliki lapisan pelindung atmosfer.
  • Komponen atmosfer melindungi Planet Mirip Bumi LHS 1140b dari bahaya radiasi.
  • Spektrograf teleskop menangkap sinyal atmosfer helium di Planet Mirip Bumi LHS 1140b.

Karakteristik bintang yang cukup pasif ini sukses menjadikan kawasan orbit planet tersebut sebagai lokasi terbaik untuk mencari tanda-tanda kehidupan biologis.

Deteksi Sinyal Helium lewat Teleskop

Tim peneliti internasional memanfaatkan instrumen spektrograf inframerah pada teleskop Magellan Clay di Observatorium Las Campanas, Cile, untuk melakukan serangkaian pengamatan teknis.

Laporan riset yang telah diterbitkan secara global di jurnal Science ini sukses mendeteksi keberadaan elemen gas helium yang terlepas dari planet.

Data observasi kosmik yang ditangkap pada tahun 2024 menunjukkan sinyal helium kuat yang dipastikan bukan berasal dari kontaminasi silang peralatan di Bumi.

Hal yang sempat mengejutkan sekaligus membingungkan tim peneliti adalah sinyal gas tersebut justru tidak terdeteksi pada pengamatan lanjutan di tahun 2025.

Meskipun sempat menumbuhkan keraguan ilmiah, para ilmuwan telah berhasil mengesampingkan berbagai potensi kesalahan positif secara meyakinkan lewat proses analisis ulang nan mendalam.

Di sisi lain, sebuah planet berbatu tetangganya yang diberi nama LHS 1140c justru terbukti tidak memiliki selubung perisai gas apa pun.

Implikasi bagi Dunia Astrobiologi

Baca Juga: NASA Ungkap Temuan Awal Trappist-1 e, Planet Mirip Bumi

Profesor astrofisika dari Universitas Oxford, Jayne Birkby, menyambut sangat baik temuan krusial yang mengungkap dinamika adaptasi planet berbatu di dekat bintang katai merah.

Bintang jenis ini lazimnya sangat aktif memancarkan radiasi sehingga kerap menyapu bersih secara paksa perisai pelindung dari planet yang mengorbit di sekitarnya.

Variasi sinyal helium yang tertangkap instrumen menunjukkan secara akurat gambaran perisai perlindungan eksoplanet ini bereaksi terhadap paparan radiasi ultraviolet ekstrem.

Birkby pun mulai mempertanyakan spesifikasi perlengkapan pelindung alami seperti apa yang dibutuhkan jika siklus kehidupan nyata benar-benar berkembang biak di sana.

Dr. Yamila Miguel dari Observatorium Leiden turut menegaskan bahwa prosedur mendeteksi unsur gas yang terlepas dari planet berbatu berukuran kecil amatlah menantang.

Fakta mencengangkan bahwa planet ini secara aktif melepaskan cukup banyak komponen udaranya ke ruang angkasa berhasil menjadikannya temuan paling menarik saat ini.

Namun, fokus target pengamatan tim peneliti masa kini baru mampu mencakup area pergerakan zat gas yang terlepas dari wilayah udara paling atas.

Oleh karena itu, Miguel menilai bahwa sekumpulan bukti ilmiah ini belum mampu memberikan implikasi langsung mengenai konfirmasi evolusi kehidupan di permukaan bawahnya.

Penemuan berharga di wilayah konstelasi Cetus ini terbukti secara nyata mampu mendobrak batasan limitasi teknologi pengamatan tata surya milik umat manusia.

Para pakar antariksa dunia menaruh harapan besar pada instrumen penelitian generasi masa depan untuk sanggup membedah struktur iklim eksoplanet ini secara mendetail.

Load More