Bisnis / Makro
Kamis, 01 Januari 2015 | 18:25 WIB
Ilustrasi. (Shutterstock)

Suara.com - Harga minyak dunia di sepanjang 2014 anjlok 46 persen. Turunnya harga minyak dunia di sepanjang tahun lalu menjadi yang terbesar sejak 2008, ketika krisis finansial melanda Amerika Serikat. Negara-negara penghasil minyak yang tergabung dalam OPEC masih tetap memproduksi minyak mentah melebihi kuota sehingga membuat stok berlimpah sementara permintaan berkurang.

Analis dari Goldman Sachs Group Inc memprediksi harga minyak dunia pada 2015 sulit untuk naik lebih tinggi. Turunnya harga minyak dunia hingga di bawah 60 dolar Amerika per barel telah membuat nilai tukar sejumlah negara ‘gonjang-ganjing.’ Mata uang Rusia yaitu Rubel dan mata uang Nigerua Naira ikut anjlok seiring turunnya harga minyak dunia.

Negara-negara OPEC bersikeras tidak menurunkan produksi minyak karena tidak mau pangsa pasarnya diambil oleh negara produsen minyak non OPEC seperti Amerika, Rusia, Brasil dan juga Nigeria. Kepala energi OTC di perusahaan minyak LPS Partners di New York, Michae; Hiley mengatakan, anjloknya harga minyak dunia memberikan dampak negatif kepada perekonomian Rusia, Iran dan Venezuela namun justru memberikan dampak positif kepada perekonomian dunia.

Harga minyak dunia West Texas Intermediate di Amerika Serikat turun 85 sen dan ditutup pada 53,27 dolar Amerika per barel pada penutupan perdagangan terakhir di 2014. Angka itu merupakan yang terendah sejak Mei 2009. Harga minyak dunia di Amerika Serikat sempat mencapai posisi tertinggi yaitu 107,73 dolar Amerika per barel pada 20 Juni 2014. (Bloomberg)

Load More