Suara.com - Penggunaan produk jasa keuangan di Indonesia terbilang masih rendah dengan mencatat angka 28,4 persen untuk strata sosial terbawah dan 51,6 persen untuk kelompok masyarakat teratas berdasarkan hasil survei Otoritas Jasa Keuangan (OJK).
Direktur Eksekutif Kepala Departemen Literasi dan Inklusi Keuangan OJK Agus Sugiarto di Palembang, Selasa (19/5/2015), mengatakan, dari hasil survei 2013 itu terlihat bahwa penetrasi jasa keuangan di Indonesia masih sangat rendah jika dibandingkan negara-negara di Asia Tenggara, terutama Singapura dan Malaysia.
"Ini yang mendasari OJK fokus meningkatkan literasi keuangan masyarakat karena penggunaan produk jasa keuangan (finansial inklusi) rendah sekali. Mengapa finansial inklusi ini menjadi demikian penting? Karena berdasarkan penelitian, hal ini berhubungan erat dengan kemakmuran suatu negara," kata Agus seusai menjadi pembicara pada acara peningkatan literasi keuangan bagi guru di Sumsel.
Berdasarkan hasil survei OJK dua tahun lalu terkait dengan literasi keuangan masyarakat diketahui bahwa perbankan yang berada di peringkat teratas yakni 21,8 persen (terdapat 22 orang dalam seratus orang), disusul asuransi 17,08 persen, pegadaian 14,85 persen, pembiayaan 9,8 persen, dana pensiun 7,13 persen, dan pasar modal 3,7 persen.
Sementara, penggunaan produk dan jasa keuangan masyarakat tertinggi adalah di sektor perbankan, yakni 57,28 persen, diikuti asuransi 11,81 persen dan pembiayaan 6,33 persen. sementara Pegadaian 5,04 persen, dana pensiun 1,53 persen, dan pasar modal 0,11 persen.
Berdasarkan data ini, maka OJK menilai pemahaman mengenai jasa keuangan ini mutlak diberikan ke masyarakat untuk menciptakan finansial inklusi.
"Setelah tahu dan melek jasa keuangan, harapannya masyarakat mau membeli (finansial inklusi) produk sehingga menumbuhkan industri jasa keuangan karena adanya suatu permintaan," kata dia.
Ia melanjutkan, namun yang terpenting dari literasi keuangan ini yakni tidak sebatas mau memanfaatkan produk jasa keuangan (mau membeli) tapi mau mengubah prilaku dalam menggunakan uang yang dimiliki.
"Dulu ada yang suka boros, setelah mengerti manfaat industri jasa keuangan jadi gemar menabung dan investasi, atau mulai menyiapkan masa datang dengan ikut program dana pensiun. Intinya mengubah perilaku, untuk tidak konsumtif tapi mulai merencanakan keuangan," kata dia.(Antara)
Berita Terkait
Terpopuler
- 6 Mobil 7 Seater yang Jarang Rewel untuk Jangka Panjang, Solusi Cerdas Keluarga
- REDMI 15 Resmi Dijual di Indonesia, Baterai 7.000 mAh dan Fitur Cerdas untuk Gen Z
- 5 Motor Irit tapi Bukan Honda BeAT, Mesin Awet untuk Jangka Panjang, Cocok untuk Pejuang Nafkah
- Appi Sambangi Satu Per Satu Kediaman Tiga Mantan Wali Kota Makassar
- Bos Go Ahead Eagles: Dean James Masih Gunakan Paspor Belanda!
Pilihan
-
Iran Angkat Mohammad Bagher Zolghadr sebagai Pengganti Ali Larijani
-
Heboh Wanita Muda Hendak Akhiri Hidup di Depan Istana Merdeka, Untung Ketahuan Paspampres
-
Kasus Dean James Memanas, Pundit Belanda: Efeknya Bisa Guncang Eredivisie
-
BTS ARIRANG Pecahkan Rekor Netflix! Comeback Global Tak Terkalahkan di 77 Negara
-
Yaqut Kembali Ditahan di Rutan KPK
Terkini
-
Hari Air Sedunia: Ini Sederet Kisah Pertamina dari Ujung Papua hingga Wilayah Bencana
-
Jadwal Operasional BRI Pasca Libur Lebaran 2026
-
Harga Minyak Naik, Prabowo Kebut Proyek PLTS buat Gantikan Tenaga Diesel
-
Seluruh Rest Area di Tol Cipali Akan Berlakukan Sistem Buka Tutup
-
Biang Macet Saat Mudik Terungkap! 21 Ribu Kehabisan Saldo E-Toll
-
Jangan Lupa! Besok Pasar Saham RI Kembali Dibuka, IHSG Diproyeksi Anjlok
-
Gegara Selat Hormuz Tutup, Harga BBM di AS Tembus Rp 68.000
-
BRILink Agen Bukukan Transaksi Rp1.746 Triliun: Bukti BRI Percepat Inklusi Keuangan Nasional
-
Aturan Baru Purbaya: Jatim Jadi Provinsi Terbanyak Dapat Jatah Hasil Cukai Tembakau
-
Ekonomi India Mulai Terpukul, Konflik Timur Tengah Bikin Aktivitas Bisnis Melambat