Suara.com - Pemerintah diminta untuk mengantisipasi adanya defisit anggaran BPJS Kesehatan yang makin membengkak. Guru Besar FKM UI Hasbullah Thabrany menilai, masalah defisit tersebut disebabkan adanya peningkatan masyarakat yang jatuh sakit.
"Kalau (dana) BPJS defisit, masalahnya yang diperkirakan akan berobat lebih banyak dari perhitungan semula. Misalnya ada 100 orang yang berobat, ternyata yang berobat 150. Jadi beban biayanya lebih banyak," kata Hasbullah saat ditemui di Gedung Dewan Pers, Jakarta, Kamis (6/8/2015).
Untuk itu, dia meminta pemerintah untuk menyediakan dana cadangan BPJS lantaran rentang waktu masyarakat yang sakit tidak bisa diprediksi.
"Itu saja yang mesti dihitung pemerintah. Berapa sebenarnya yang berobat. Yang sakitkan memang tidak ada jadwalnya. Oleh karena itu yang terbaik adalah menyediakan dana kalau diperhitungkan 150 orang yang berobat, sediakan dana cadangan untuk 180-200 orang. Sehingga begitu ada yang sakit lebih tinggi masih ada cadangan," katanya.
Adapun mengenai anggaran BPJS, Ia menyarankan agar pemerintah menaikkan anggaran BPJS sebesar 10 persen.
"Tahap awal itu harus lebih tinggi minumum 10 persen dari perkiraan klaim. Kalo misalkan nanti klaimnya Rp7 triliun, minimum Rp7 triliun cadangan. Ke depan semua surplus dari dana JKN harus diakumulasi dengan dana cadangan. Begitulah praktek jaminan sosial di berbagai negara," katanya.
Selain itu, pemerintah juga dianggap kurang mensosialisasikan kepada masyarakat mengenai BPJS.
"Sosialisasi BPJS ini masih kurang, yang saya selalu kritik bahwa dalam hal sosialisasi saya belum kasih nilai lulus. Dari segi jumlah sosialisasinya yang kurang, intensitas komunikasinyta masih kurang, karena banyak dikerjakan sendiri atau lewat media," katanya.
Dia pun berharap, agar pemerintah bisa menggangdeng seluruh pihak terkait untuk bisa menyebarkan informasi BPJS kepada masyarakat yang kurang mengetahui pelaksanaan BPJS.
"Harus banyak sosialisasi ke pemangku kepentingan, khususnya lewat provider, akademisi dan juga organisasi-organisasi. Harus disediakan juga informasi yang bisa diakses seperti zaman dulu itu KB. Karena berbagai organisasi diminta untuk disosialisasikan," katanya.
Terpopuler
- 4 Seri MacBook yang Harganya Terjun Bebas di Awal 2026, Mulai Rp8 Jutaan
- Daftar Lokasi ATM Pecahan Rp20 Ribu Terdekat di Jakarta
- Ayatollah Ali Khamenei Diklaim Tewas, Foto Jasadnya Ditunjukkan ke Benjamin Netanyahu
- Prabowo-Gibran Beri Penghormatan Terakhir di Pemakaman Try Sutrisno: Momen Khidmat di TMP Kalibata
Pilihan
-
Kedubes AS Diserang, Cristiano Ronaldo Tinggalkan Arab Saudi
-
Bukan Cuma Bupati! KPK Masih Kejar Sosok Penting Lain Terkait OTT Pekalongan
-
Terjaring OTT KPK, Bupati Pekalongan Fadia Arafiq Langsung Dibawa ke Jakarta
-
Iran Bombardir Kantor Benjamin Netanyahu Pakai Rudal Hipersonik, Kondisinya Belum Diketahui
-
Istri Ayatollah Ali Khamenei Juga Gugur Sehari Setelah Sang Suami, Dibom Israel-AS
Terkini
-
Pemerintah Rogoh Rp911,16 Miliar untuk Diskon Transportasi Lebaran 2026
-
Selat Hormuz Membara, Bahlil Putar Haluan Impor Minyak ke Amerika
-
OJK Ungkap Banyak Masyarakat Masih Tertipu Pinjol Ilegal
-
Gawat! Utang Pinjol Warga RI Tembus Rp98,54 Triliun, Kredit Macet Mulai Menghantui
-
Diproyeksi Tumbuh 7%, Perusahaan Asuransi Mulai Siapkan Ribuan Agen Hadapi Aturan Baru
-
Timur Tengah Membara, Bahlil Garansi Harga BBM Subsidi Gak Bakal Naik
-
OJK Keluarkan 3 Jurus Hadapi Ancaman Perang AS-Iran
-
Cara Harita Nickel Gerakkan Roda Ekonomi Kerakyatan
-
Kilau Berkah Ramadan: Tring! by Pegadaian Hadirkan Festival Seru di 10 Kota Besar Indonesia
-
Perang Iran-AS Terus Bergulir, IHSG Makin Merosot ke Level 7.939