Bisnis / Makro
Selasa, 22 September 2015 | 15:13 WIB
Presiden Joko Widodo [Antara]

Suara.com - Pimpinan Pusat Muhammadiyah yang dipimpin Haedar Nashir bersama PP Aisyiyah di bawah pimpinan Yunahar Ilyas, Selasa (22/9/2015), menghadap Presiden Joko Widodo di Istana Merdeka, Jakarta, untuk bersilaturahim sekaligus memperkenalkan pengurus baru hasil muktamar di Makassar, Sulsel, bulan Agustus lalu.

Dalam kesempatan itu, PP Muhammadiyah menyampaikan komitmen pada negara Pancasila sebagai negara hasil kesepakatan bersama. Muhammadiyah dengan semangat Islam berkemajuan dan Indonesia berkemajuan ingin agar negara Pancasila NKRI ini tidak statis.

“Harus ada ikhtiar-ikhtiar yang sifatnya memajukan, mengisi, dan membawa Indonesia ini menjadi negara yang unggul, maju, adil, makmur, bermartabat dan berdaulat sejajar dengan bangsa lain,” kata Haedar, dikutip dari situs resmi Sekretariat Kabinet.

Terkait dengan kondisi ekonomi, Haedar menyampaikan hasil kajian tim ekonomi Muhammadiyah bahwa Indonesia dengan pelambatan ekonomi sekarang ini memang belum termasuk dalam kategori krisis.

Tetapi, lanjut Haedar, bisa berpotensi krisis jika tidak ada kebijakan-kebijakan yang strategis yang komprehensif dan langkah-langkah yang berani untuk mencari solusi.

“Kami juga menghargai Presiden sudah mengambil langkah paket pertama yang diluncurkan beberapa waktu lalu,” ujar Haedar.

Terkait masukan Muhammadiyah, menurut Haedar, Presiden Jokowi berpesan bahwa ada dua hal yang perlu menjadi kerangka berpikir bersama. Pertama soal persepsi yang harus tetap konstruktif, yang kedua optimisme bisa keluar dari situasi pelambatan ekonomi.

Load More