Suara.com - Harga minyak dunia memperpanjang penurunan mereka pada Selasa (Rabu pagi WIB 6/1/2016), karena kelebihan pasokan minyak mentah global dibayangi pertikaian diplomatik antara produsen utama Arab Saudi dan Iran.
Patokan AS, minyak mentah light sweet atau West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Februari, merosot 79 sen menjadi berakhir di 35,97 dolar AS per barel di New York Mercantile Exchange.
Di London, minyak mentah Brent North Sea untuk pengiriman Februari kehilangan 80 sen menjadi menetap di 36,42 dolar AS per barel.
Ketegangan antara dua produsen minyak utama atas eksekusi seorang ulama Syiah terkemuka Arab Saudi telah meletus menjadi krisis diplomatik yang meluas setelah Riyadh dan sekutu Sunni Arab-nya memutuskan atau menurunkan hubungan mereka dengan Iran, memicu keprihatinan global.
Namun para analis mengatakan bahwa dampak dari risiko geopolitik di Timur Tengah di pasar minyak sedang diimbangi oleh kelebihan pasokan dan produksi yang lebih tinggi dari produsen minyak di bagian lain dunia.
Persediaan minyak AS berdiri di dekat tingkat rekornya dan pasar memperkirakan peningkatan lagi dalam laporan mingguan Rabu dari Departemen Energi AS.
"Pasar umumnya memperkirakan akan ada penambahan sekitar satu juta barel," kata Bob Yawger, analis di Mizuho Securities.
"Itu mungkin alasan utama bahwa pasar telah mendiskon semua latar belakang kebisingan yang terjadi antara Arab Saudi dan Iran." Penurunan harga minyak juga didorong oleh penguatan dolar AS yang membuat minyak mentah yang dihargakan dalam dolar lebih mahal dan kurang menarik bagi pembeli yang memegang mata uang lainnya.
Dolar AS menguat terhadap sebagian besar mata uang lainnya pada Selasa, karena perbedaan kebijakan antara Federal Reserve dan bank sentral lainnya telah mendorong arus investasi ke AS dan mengangkat greenback.
(Antara)
Berita Terkait
-
AS Mau Angkat Kaki dari Iran, Harga Minyak Dunia Meluncur 2,5%
-
BYD Mengaku Bakal Cuan dari Naiknya Harga Minyak Akibat Konflik Timur Tengah
-
Purbaya Pastikan APBN Aman Hadapi Harga Minyak Meski Tembus 100 Dolar AS per Barel
-
Digilas Harga Minyak Dunia, Nilai Tukar Rupiah Terus Lemas
-
Harga Minyak Makin Mendidih: Iran Serang Tanker, Israel Intens Serbu Lebanon
Terpopuler
- 5 HP Xiaomi dengan Snapdragon 8 Elite Gen 5, Terkencang di 2026!
- 7 Sepatu Lari Tahan Air Selevel Nike Vomero 18 GTX, Kualitas Top
- Sunscreen SPF 50 Apa yang Bagus? Ini 5 Pilihan untuk Perlindungan Maksimal
- Harga Pertamax Naik Nyaris Rp18.000 di April Besok? Ini Kata Pertamina
- Foto Pangakalan Militer AS di Arab Saudi Hancur Beredar, Balas Dendam Usai Trump Hina MBS
Pilihan
-
Mulai Besok! BPH Migas Resmi Batasi Pembelian Pertalite dan Solar, Cek Aturan Mainnya
-
Masyarakat Diminta Tak Resah, Mensesneg Prasetyo Hadi Tegaskan Harga BBM Belum Ada Kenaikan
-
Clara Shinta Minta Tolong, Nyawanya Terancam karena Suami Bawa Senjata Api
-
Harga Pertamax Naik Nyaris Rp18.000 di April Besok? Ini Kata Pertamina
-
Petir Bikin Duel Kepulauan Solomon vs Saint Kitts and Nevis di Stadion GBK Ditunda
Terkini
-
Bank Bangkrut di Indonesia Tambah Lagi, Ini Daftar Terbarunya
-
Emas Antam Tiba-tiba Mahal Lagi, Harganya Tembus Rp 2,9 Juta/Gram
-
Rupiah Kembali Bangkit, Dolar AS Lemas ke Level Rp16.983
-
APBN Mulai Ngos-ngosan! Anggaran Rapat Hotel dan Perjalanan Dinas PNS Mau di Hemat, MBG Gas Terus
-
Dikuasai Asing, Pemerintah Mulai Benahi Industri Gim Lokal
-
Bidik Peluang ARA, IPO BSA Logistics (WBSA) Jadi Magnet Baru Investor Ritel
-
HIPMI Perkirakan Harga Pertamax Capai Rp 13.500, Begini Hitungannya
-
IHSG Dibuka Menghijau 1,43%, Simak Saham-saham yang Naik Pagi Ini
-
BPR Pembangunan Nagari Bangkrut, LPS Mulai Bayarkan Klaim Simpanan Nasabah
-
IHSG Berpeluang Rebound Hari Ini Usai Trump Sebut AS 'Tinggalkan' Perang Iran