- Harga minyak Brent dan WTI melemah pada Selasa 10 Februari 2025 karena ketegangan AS-Iran di Selat Hormuz.
- Pasar fokus pada Selat Hormuz karena panduan navigasi AS dan potensi gangguan pasokan minyak global penting.
- Uni Eropa berencana perluasan sanksi terhadap Rusia, menyasar pelabuhan di negara ketiga termasuk Indonesia.
Suara.com - Harga minyak sedikit melemah pada Selasa 10 Februari 2025, di tengah kekhawatiran gangguan pasokan akibat ketegangan AS-Iran.
Fokus pasar tertuju pada Selat Hormuz setelah pemerintah AS merilis panduan navigasi bagi kapal di wilayah tersebut.
Mengutip dari Investing, harga minyak mentah Brent turun 18 sen, atau 0,26 persen, menjadi 68,85 dolar AS per barel pada pukul 03.53 GMT (10.53 WIB). Minyak mentah West Texas Intermediate AS turun 21 sen, atau 0,33 persen, menjadi 64,15 dolar AS.
Sebelumnya, harga minyak melonjak lebih dari 1 persen pada Senin akibat imbauan otoritas maritim AS agar kapal komersial menjauhi perairan Iran.
Kapal berbendera AS juga diinstruksikan untuk menolak permintaan akses masuk oleh pasukan Iran.
Setidaknya, sekitar seperlima minyak yang dikonsumsi secara global melewati Selat Hormuz antara Oman dan Iran, sehingga setiap peningkatan ketegangan di wilayah tersebut merupakan risiko besar bagi pasokan minyak global.
Iran, bersama dengan anggota OPEC lainnya seperti Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Kuwait, dan Irak, mengekspor sebagian besar minyak mentah mereka melalui selat tersebut, terutama ke Asia.
Pedoman tersebut dikeluarkan meskipun diplomat tertinggi Iran pekan lalu mengatakan bahwa pembicaraan nuklir yang dimediasi Oman dengan AS telah dimulai dengan "baik" dan akan berlanjut.
Analis IG, Tony Sycamore, menyatakan bahwa premi risiko pasar tetap terjaga akibat ketidakpastian terkait eskalasi konflik, pengetatan sanksi, dan potensi gangguan pasokan di Selat Hormuz.
Baca Juga: Nilai Tukar Rupiah Menguat Tipis di Senin Sore
"Meskipun pembicaraan di Oman menghasilkan nada yang hati-hati namun positif, ketidakpastian yang masih ada mengenai potensi eskalasi, pengetatan sanksi, atau gangguan pasokan di Selat Hormuz telah mempertahankan premi risiko yang moderat," tulis Tony Sycamore.
Sementara itu, menurut dokumen proposal yang ditinjau oleh Reuters, Uni Eropa memiliki rencana perluasan sanksi terhadap Rusia, dengan menyasar pelabuhan di negara ketiga, termasuk Indonesia dan Georgia, yang melayani distribusi minyak Rusia.
Hal itu akan menjadi kali pertama Uni Eropa menjatuhkan sanksi pada fasilitas pelabuhan di di negara ketiga.
Langkah ini merupakan bagian dari upaya untuk memperketat sanksi terhadap minyak Rusia, sumber pendapatan utama bagi Moskow, terkait perang di Ukraina.
Indian Oil Corp membeli enam juta barel minyak mentah dari Afrika Barat dan Timur Tengah, kata para pedagang, karena negara Asia tersebut menghindari minyak Rusia dalam upaya New Delhi untuk mencapai kesepakatan perdagangan dengan Washington.
Berita Terkait
-
Rupiah Kian Loyo di Rp16.876, Imbas Sentimen Domestik dan Downgrade Moodys
-
Pencabutan Insentif Mobil Listrik Perlu Kajian Matang di Tengah Gejolak Harga Minyak
-
Efek Domino Logam Mulia, Harga Minyak Dunia Melandai
-
Ketegangan di Timur Tengah Picu Kenaikan Harga Minyak Mentah
-
Harga Minyak Dunia Naik Didorong Pertumbuhan Ekonomi AS dan Kekhawatiran Risiko Pasokan
Terpopuler
- Hadir ke Cikeas Tanpa Undangan, Anies Baswedan Dapat Perlakuan Begini dari SBY dan AHY
- 7 Rekomendasi Bedak Tabur yang Bagus dan Tahan Lama untuk Makeup Harian
- 30 Kode Redeem FF 25 Maret 2026: Klaim Bundle Panther Gratis dan Skin M14 Sultan Tanpa Top Up
- 5 Rekomendasi HP Samsung Terbaru Murah dengan Spek Gahar, Mulai Rp1 Jutaan
- 10 Potret Rumah Baru Tasya Farasya yang Mewah, Intip Detail Interiornya
Pilihan
-
Mengamuk! Timnas Indonesia Hantam Saint Kitts dan Nevis Empat Gol
-
Skandal Rudapaksa Turis China di Bali: Pelaku Ditangkap Saat Hendak Kembalikan iPhone Korban!
-
Arus Balik Susulan, 14 Ribu Kendaraan Diprediksi Lewat GT Purwomartani Sabtu Ini
-
Fokus Timnas Indonesia, John Herdman Ogah Ikut Campur Polemik Paspor Dean James
-
Video Jusuf Kalla di Pesawat Menuju Iran adalah Hoaks
Terkini
-
Bulog Bantah Isu Dirut Ahmad Rizal Ramdhani Rangkap Jabatan KABAIS TNI
-
Arus Balik Lebaran 2026: ASDP Prioritaskan Mobil Pribadi dan Bus di Ketapang Gilimanuk
-
Izin OJK Dicabut, Bank Neo Commerce : Layanan Nasabah Tetap Aman
-
BRI Hadirkan Tarik Tunai GoPay di 19.000 ATM & CRM
-
Libur Lebaran 2026: Wisata Lokal Banjir Pengunjung, Pendapatan Daerah Naik
-
PNM Hadirkan Harapan Baru: Dari Satu Kegiatan, Tumbuh Mimpi Jadi Garda Pemberdayaan Ultra Mikro
-
Menkeu Purbaya Bantah Indonesia Terancam Resesi: Di Semua Tempat Pada Belanja!
-
Prabowo Bertemu Ray Dalio, Bahas Proyek Energi hingga Danantara
-
Riset NEXT: Daya Beli Masyarakat Meningkat di Lebaran 2026, Uang Beredar Tembus Rp 1.370 T
-
Kapal Pertamina Terjebak di Tengah Perang Iran, Ini Nasib Pasokan BBM Indonesia