Bisnis / Energi
Selasa, 10 Februari 2026 | 12:04 WIB
Ilustrasi harga minyak dunia turun. [Shutterstock]
Baca 10 detik
  • Harga minyak Brent dan WTI melemah pada Selasa 10 Februari 2025 karena ketegangan AS-Iran di Selat Hormuz.
  • Pasar fokus pada Selat Hormuz karena panduan navigasi AS dan potensi gangguan pasokan minyak global penting.
  • Uni Eropa berencana perluasan sanksi terhadap Rusia, menyasar pelabuhan di negara ketiga termasuk Indonesia.

Suara.com - Harga minyak sedikit melemah pada Selasa 10 Februari 2025,  di tengah kekhawatiran gangguan pasokan akibat ketegangan AS-Iran

Fokus pasar tertuju pada Selat Hormuz setelah pemerintah AS merilis panduan navigasi bagi kapal di wilayah tersebut.

Mengutip dari Investing, harga minyak mentah Brent turun 18 sen, atau 0,26 persen, menjadi 68,85 dolar AS per barel pada pukul 03.53 GMT (10.53 WIB). Minyak mentah West Texas Intermediate AS turun 21 sen, atau 0,33 persen, menjadi 64,15 dolar AS.

Sebelumnya, harga minyak melonjak lebih dari 1 persen pada Senin akibat imbauan otoritas maritim AS agar kapal komersial menjauhi perairan Iran. 

Kapal berbendera AS juga diinstruksikan untuk menolak permintaan akses masuk oleh pasukan Iran.

Setidaknya, sekitar seperlima minyak yang dikonsumsi secara global melewati Selat Hormuz antara Oman dan Iran, sehingga setiap peningkatan ketegangan di wilayah tersebut merupakan risiko besar bagi pasokan minyak global.

Ilustrasi Opec

Iran, bersama dengan anggota OPEC lainnya seperti Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Kuwait, dan Irak, mengekspor sebagian besar minyak mentah mereka melalui selat tersebut, terutama ke Asia.

Pedoman tersebut dikeluarkan meskipun diplomat tertinggi Iran pekan lalu mengatakan bahwa pembicaraan nuklir yang dimediasi Oman dengan AS telah dimulai dengan "baik" dan akan berlanjut.

Analis IG, Tony Sycamore, menyatakan bahwa premi risiko pasar tetap terjaga akibat ketidakpastian terkait eskalasi konflik, pengetatan sanksi, dan potensi gangguan pasokan di Selat Hormuz.

Baca Juga: Nilai Tukar Rupiah Menguat Tipis di Senin Sore

"Meskipun pembicaraan di Oman menghasilkan nada yang hati-hati namun positif, ketidakpastian yang masih ada mengenai potensi eskalasi, pengetatan sanksi, atau gangguan pasokan di Selat Hormuz telah mempertahankan premi risiko yang moderat," tulis Tony Sycamore. 

Sementara itu, menurut dokumen proposal yang ditinjau oleh Reuters, Uni Eropa memiliki rencana perluasan sanksi terhadap Rusia, dengan menyasar pelabuhan di negara ketiga, termasuk Indonesia dan Georgia, yang melayani distribusi minyak Rusia. 

Hal itu akan menjadi kali pertama Uni Eropa menjatuhkan sanksi pada fasilitas pelabuhan di di negara ketiga. 

Langkah ini merupakan bagian dari upaya untuk memperketat sanksi terhadap minyak Rusia, sumber pendapatan utama bagi Moskow, terkait perang di Ukraina.

Indian Oil Corp membeli enam juta barel minyak mentah dari Afrika Barat dan Timur Tengah, kata para pedagang, karena negara Asia tersebut menghindari minyak Rusia dalam upaya New Delhi untuk mencapai kesepakatan perdagangan dengan Washington.

Load More