Dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2016, pemerintah mematok pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 5,3 persen. Angka ini mengalami kenaikan jika dibandingkan tahun lalu 4,79 persen.
Menanggapi hal tersebut, Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Muliaman D Hadad mengatakan, target pertumbuban tersebut tidak cukup untuk mencukupi kebutuhan di Indonesia. Pasalnya, Indonesia memiliki jumlah warga negara sebesar 250 juta penduduk.
"Kenapa, untuk negara sebesar Indonesia itu nggak cukup, karena kan selalu ada pertumbuhan tenaga kerja, yang pasti lapangan pekerjaan harus tumbuh terus. Jadi angka pertumbuhan ini harus dibawa ke level yang lebih tinggi supaya memenuhi kebutuhan masyarajatnya," kata Muliaman saat ditemui di kantor Bank Indonesia,Jakarta Pusat, Kamis (28/4/2016).
Oleh sebab itu, untuk membawa angka pertumbuhan ke level yang lebih tinggi, maka sinergi koordinasi, kolaborasi serta kepemimpinan dalam proses jadi satu hal fundamental. Pasalanya untuk menjaga reformasi struktural bukan hal yang mudah.
"Di sisi lain ada kebutuhan penting yaitu mendorong pertumbuhan ekonomi. Saya kira ini tidak bisa ditunda. Makanya mewujudkan reformasi struktural. Tanpa itu, sulit mencapai tingkat pertumbuhan lebih tinggi," kata Muliaman.
OJK memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia akan tumbuh lebih baik pada 2016 dibanding 2015. Sejalan membaiknya ekonomi, OJK menargetkan pertumbuhan kredit berada di rentang 12-14 persen.
Adapun Laporan Perekonomian Indonesia 2015 yang diluncurkan BI berisi kajian menyeluruh kondisi ekonomi domestik, yang hampir sepanjang tahun dibayangi dampak negatif perlambatan ekonomi global, dan juga ketidakpastian kebijakan moneter negara-negara maju, yang telah memicu pelarian modal asing.
Turut hadir dalam peluncuran laporan itu Gubernur BI Agus Martowardojo, Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Rosan Roeslani, serta sejumlah pengamat ekonomi seperti Raden Pardede, Anggito Abimanyu dan Joshua Pardede.
Berita Terkait
-
5 Jenis KPR untuk Solusi Cicilan Nasabah dan Dampaknya Jika BI Naikkan Suku Bunga
-
Suku Bunga BI Naik Jadi 5,25%, Apakah Semua Cicilan KPR Bakal Ikut Melonjak?
-
OJK Terbitkan Dua Aturan Baru Efek dan Manajer Investasi, Update Modal Minimal
-
Bank Himbara hingga Bank Asing Kebanjiran Dana BI, Total Likuiditas Tembus Rp424,7 Triliun
-
Dana Nganggur Perbankan Tembus Rp2.551 Triliun, Bank Indoensia Ungkap Penyebabnya
Terpopuler
- Profil Ahmad Bahar, Penulis 'Gibran The Next President' yang Rumahnya Digeruduk GRIB Jaya
- 4 HP RAM 12 GB Memori Besar Harga Rp2 Jutaan, Gaming dan Edit Video Lancar Jaya
- Bawa Energi Positif, Ini 7 Warna Cat Tembok yang Mendatangkan Hoki Menurut Feng Shui
- 5 HP Snapdragon untuk Budget Rp2 Juta, Multitasking Stabil dan Hemat Baterai
- 3 Bedak yang Mengandung Niacinamide, Bantu Cerahkan Wajah dan Kontrol Sebum
Pilihan
-
Modus Oknum Ustad di Lubuk Linggau Ajak Santri ke Kebun Sawit, Berujung Kasus Pencabulan
-
Bawa Bukti ke Istana, Purbaya 'Bongkar' 10 Perusahaan Sawit Manipulasi Harga Ekspor
-
Beredar Salinan Dokumen Danantara Sumberdaya Indonesia Perusahaan Swasta Bukan BUMN
-
Bertambah Dua, 7 WNI Kini Ditangkap Israel dalam Misi Kemanusiaan Flotilla Gaza
-
Eks Wamenaker Noel Ebenezer Dituntut 5 Tahun Penjara!
Terkini
-
Operasi CANTVR Dihentikan, Diduga Tawarkan Investasi Ilegal
-
Produk Ekspor Indonesia Bisa Laku di Karena Rupiah Melemah, Tapi Ada Syaratnya
-
Rupiah yang Memble Jadi Tantangan Industri Logistik, Ini Strategi SiCepat Ekspres
-
Panasonic GOBEL Hadirkan ART with HEART: Pamerkan 70 Karya Seniman Difabel dan Senior
-
Danantara Minta Pengusaha Tenang, Kontrak Ekspor Tak Diutak-atik
-
IHSG Rontok Gegara Danantara Sumberdaya? Ini Jawaban Pandu Sjahrir
-
Emiten CRSN Bidik Pendapatan Naik 22%, Begini Strateginya
-
Kemenko Perekonomian Bidik Sektor Digital demi Pertumbuhan Ekonomi 8 Persen
-
Emiten Grup Djarum SUPR Lebih Pilih Cabut dari Bursa Ketimbang Free Float
-
Kemendag Klaim Ekspor Produk Kreatif RI Tumbuh Positif