Suara.com - Bank Indonesia (BI) menilai target pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 5,3 persen masih memungkinkan dicapai hingga akhir 2016 dengan memerlukan dorongan salah satunya percepatan pencairan anggaran.
"Pada kuartal I pencairan anggaran di daerah masih rendah, harus didorong terus mudah-mudahan kuartal III dan kuartal IV bisa lebih baik sehingga untuk mencapai 5,2-5,3 persen masih sesuatu yang mungkin dicapai. Kalau untuk mencapai 5,6 persen saat ini masih terlalu awal," kata Deputi Gubernur Senior BI Mirza Adityaswara pada peluncuran BINDESIA di Cilangkap, Depok, Jawa Barat, Sabtu (14/5/2016).
Mirza mengatakan percepatan pencairan anggaran harus didorong oleh setiap departemen, kementerian dan pemerintah daerah sehingga ada harapan pertumbuhan ekonomi lebih baik pada kuartal II dibandingkan kuartal I yang hanya mencapai 4,92 persen.
Menurut dia, perlambatan ekonomi pada kuartal I tidak hanya terjadi di Indonesia, misalnya saja negara tetangga seperti Singapura hanya tumbuh sekitar 1 persen, Thailand di bawah 2 persen, bahkan Tiongkok hanya sekitar 6,5 persen.
Pertumbuhan ekonomi Tiongkok ini turut berimbas pada turunnya harga komoditas secara signifikan seperti pada tambang dan perkebunan hingga 70-80 persen.
Turunnya harga komoditas pun berpengaruh pada wilayah penghasil komoditas sejenis, seperti Sumatra dan Kalimantan yang masing-masing menyumbang 20 persen dan 9 persen perekonomian Indonesia.
Selain perekonomian Tiongkok yang melambat, pengaruh perlambatan ekonomi Indonesia juga dipengaruhi oleh bank sentral Amerika Serikat The Fed yang menaikkan suku bunga sehingga menyebabkan gejolak moneter di berbagai negara.
"Perlambatan terlalu dalam ini ditambah gejolak suku bunga Amerika yang terjadi pada 2013-2015. Kedua faktor ini yang membuat perlambatan ekonomi," ujar Mirza.
Meski demikian, ia tetap optimistis target pertumbuhan ekonomi 5,3 persen dapat tercapai karena perekonomian Tiongkok mulai menunjukkan tanda-tanda pemulihan sehingga harga sejumlah komoditas, seperti kelapa sawit, karet, nikel dan timah mulai meningkat walaupun belum signifikan.
Penundaan kenaikan suku bunga The Fed juga membuat kurs lebih stabil sehingga industri manufaktur di Pulau Jawa yang memerlukan barang impor dapat beraktivitas kembali dan menyumbang 60 persen perekonomian Indonesia. (Antara)
Tag
Berita Terkait
-
5 Jenis KPR untuk Solusi Cicilan Nasabah dan Dampaknya Jika BI Naikkan Suku Bunga
-
Suku Bunga BI Naik Jadi 5,25%, Apakah Semua Cicilan KPR Bakal Ikut Melonjak?
-
Bank Himbara hingga Bank Asing Kebanjiran Dana BI, Total Likuiditas Tembus Rp424,7 Triliun
-
Dana Nganggur Perbankan Tembus Rp2.551 Triliun, Bank Indoensia Ungkap Penyebabnya
-
IHSG Anjlok Usai Kenaikan BI-Rate, Pengamat Ungkap Peluang Technical Rebound
Terpopuler
- Profil Ahmad Bahar, Penulis 'Gibran The Next President' yang Rumahnya Digeruduk GRIB Jaya
- 4 HP RAM 12 GB Memori Besar Harga Rp2 Jutaan, Gaming dan Edit Video Lancar Jaya
- Bawa Energi Positif, Ini 7 Warna Cat Tembok yang Mendatangkan Hoki Menurut Feng Shui
- 5 HP Snapdragon untuk Budget Rp2 Juta, Multitasking Stabil dan Hemat Baterai
- 6 Sunscreen Moisturizer Terbaik untuk Anti Aging, Kulit Kencang dan Bebas Kerutan
Pilihan
-
Modus Oknum Ustad di Lubuk Linggau Ajak Santri ke Kebun Sawit, Berujung Kasus Pencabulan
-
Bawa Bukti ke Istana, Purbaya 'Bongkar' 10 Perusahaan Sawit Manipulasi Harga Ekspor
-
Beredar Salinan Dokumen Danantara Sumberdaya Indonesia Perusahaan Swasta Bukan BUMN
-
Bertambah Dua, 7 WNI Kini Ditangkap Israel dalam Misi Kemanusiaan Flotilla Gaza
-
Eks Wamenaker Noel Ebenezer Dituntut 5 Tahun Penjara!
Terkini
-
Asing Kabur Bawa Dana Rp 51,42 T dari Pasar Saham Hari Ini, ANTM Paling Banyak
-
Pemerintah Resmi Perpanjang Kebijakan WFH 2 Bulan Imbas Perang AS vs Iran
-
Impor Minyak Rusia Tanpa Pertamina, Pemerintah Siapkan BLU Khusus
-
PGN Amankan Kesepakatan Strategis Pasokan Gas Bumi di IPA Convex 2026
-
IHSG dan Rupiah Ambruk, Luhut ke Investor Global: Saya Minta Maaf Karena Situasi Ini!
-
Aturan DHE SDA Resmi, Pemerintah Wajibkan Devisa Hasil Ekspor Disimpan ke Bank Negara
-
Gaji Seret dan Biaya Hidup Naik, Gen Z Kini Tak Bermimpi Punya Rumah
-
Pertamina Bagikan Strategi Jaga Ketahanan Energi di Hadapan Mahasiswa
-
Danantara Sumberdaya Jadi Biang Kerok, IHSG Masuk Level 6.000
-
Status Danantara Sumberdaya Indonesia Bukan BUMN