Badan Pusat Statistik (BPS) menyatakan bahwa pertumbuhan produksi industri manufaktur besar dan sedang triwulan II-2016 naik sebesar 5,54 persen (y-on-y) terhadap triwulan II-2015. Kenaikan tersebut terutama disebabkan naiknya produksi industri farmasi, produk obat kimia dan obat tradisional, naik 12,21 persen, industri alat angkutan lainnya, naik 8,92 persen dan industri mesin dan perlengkapan ytdl, naik 7,01 persen.
"Sedangkan jenis-jenis industri yang mengalami penurunan produksi adalah industri karet, barang dari karet dan plastik, turun 11,33 persen, industri peralatan listrik, turun 9,86 persen dan industri pengolahan lainnya, turun 7,68 persen," kata Kepala BPS Suryamin dalam keterangan resmi, Senin (1/8/2016).
Pertumbuhan produksi industri manufaktur besar dan sedang triwulan II-2016 naik sebesar 3,54 persen (q-to-q) terhadap triwulan I-2016. Jenis-jenis industri yang mengalami kenaikan terbesar adalah industri makanan, naik 10,39 persen, jasa reparasi dan pemasangan mesin dan peralatan, naik 10,32 persen dan industri kertas dan barang dari kertas, naik 7,86 persen. Sedangkan jenis-jenis industri yang mengalami penurunan produksi adalah industri tekstil, turun 7,12 persen, industri logam dasar, turun 4,59 persen dan industri barang logam, bukan mesin dan peralatannya, turun 4,33 persen.
Pertumbuhan produksi industri manufaktur besar dan sedang triwulan II-2016 (y-on-y) pada tingkat provinsi yang mengalami pertumbuhan tertinggi adalah Provinsi Riau, naik 18,08 persen, Provinsi Sumatera Barat, naik 16,95 persen dan Provinsi D.K.I Jakarta, naik 12,94 persen. Provinsi-provinsi yang mengalami penurunan pertumbuhan adalah Provinsi Papua Barat, turun 13,64 persen, Provinsi Jambi, turun 6,76 persen dan Provinsi Bali, turun 5,89 persen.
Pertumbuhan produksi industri manufaktur besar dan sedang triwulan II-2016 (q-to-q) pada tingkat provinsi yang mengalami pertumbuhan tertinggi adalah Provinsi Riau, naik 15,62 persen, Provinsi Sumatera Barat, naik 10,81 persen dan Provinsi Aceh, naik 9,98 persen. "Provinsi-provinsi yang mengalami penurunan pertumbuhan adalah Provinsi Sulawesi Barat, turun 6,90 persen, Provinsi Papua Barat, turun 5,74 persen dan Provinsi Papua, turun 3,66 persen," tutup Suryamin.
Berita Terkait
Terpopuler
- Kecil tapi Lega: Hatchback Bermesin Avanza Kini Cuma 50 Jutaan, Makin Layak Dilirik?
- Promo JCO Mei 2026, Paket Hemat Donat dan Kopi yang Sayang Dilewatkan
- 5 Rekomendasi Bedak Wardah Colorfit yang Warnanya Auto Menyatu di Kulit
- 4 Rekomendasi Parfum Lokal Wangi Tidak Lebay dan Tahan Lama untuk Perempuan
- 6 Rekomendasi Sepatu Lokal Rp 200 Ribuan, Kualitas Bintang Lima
Pilihan
-
16 Korban Tewas Bus ALS Terbakar di Muratara Berhasil Dievakuasi, Jalinsum Masih Mencekam
-
'Celana Saya Juga Hancur', Cerita Saksi yang Kena Sisa Air Keras Saat Bantu Andrie Yunus
-
Kala Harga Kebutuhan Meroket, Menulis Jadi Andalan Saya untuk Nambal Dompet
-
Hakim Gemas Anggota BAIS Siram Air Keras ke Andrie Yunus: Amatir Banget, Malu-maluin!
-
10 WNI Diamankan di Arab Saudi Terkait Haji Ilegal, Kemenhaj Pastikan Tak Akan Intervensi
Terkini
-
Prioritaskan Transparansi, BRI Dukung Proses Hukum Kasus KoinWorks
-
Rupiah Menguat ke Rp 17.333/US$, Harapan Damai di Timur Tengah Jadi Tenaga
-
Segini Jumlah Uang yang Diterima Para Bos Bea Cukai di Hotel Borobudur
-
Purbaya Akui Kebobolan soal Pengadaan Motor Listrik BGN, Anggaran Bakal Diperketat
-
Fokus Jualan Pulsa Hingga Token Listrik, Bukalapak PHK 594 Karyawan
-
Aliansi Strategis Pertamina Dorong Teknologi dan Efisiensi Operasi Hulu Migas
-
Krakatau Osaka Steel Tutup Pabrik, 200 Buruh Terkena PHK
-
Purbaya Tak Berhentikan Posisi Dirjen Bea Cukai Usai Namanya Terseret Dakwaan Suap KPK
-
Penjualan Tanah Komersial CBDK Naik 492 Persen
-
Ini 5 Investasi Aman yang Cocok untuk Pemula, Modal Mulai Rp10 Ribuan Saja!