Permintaan serat optik (optical fibre) semakin meningkat seiringkebutuhan industri digital global yang terus mengikuti perkembangan teknologi terkini. Untuk itu, industri serat optik berperan penting dalam memberikan nilai tambah yang signifikan bagi sektor pendukungnya.
“Optical fibreini untuk modernisasi jaringan operator telekomunikasi yang sebelumnya menggunakan kabel tembaga dan pengembangan jaringan ke perumahan baru,” kata Dirjen Industri Logam, Mesin Alat Transportasi, dan Elektronika (ILMATE) Kemenperin I Gusti Putu Suryawirawan pada peresmian PT Yangtze Optical Fiber Indonesia (YOFI) di Karawang, Jawa Barat, Kamis (8/9/2016).
Putu memberikan gambaran, untuk koneksi pita lebar (broad-hand) rumah tangga, saat ini terdapat 70 juta rumah tangga yang membutuhkan sambungan internet jenis fiber to the home (FTTH). "Permintaan serat optik juga menjadi besar dengan adanya proyek Palapa Ring yang butuh hingga 36.000 km meter," tuturnya.
Dengan beroperasinya PT YOFI, naiknya kebutuhan kabel serat optik diharapkan dapat dipasok oleh industri dalam negeri karena selama ini masih dibanjiri produk impor. Dalam hal ini, Kementerian Perindustrian akan menerapkan aturan SNI wajib untuk seluruh produk serat optik di Indonesia.
PT YOFI merupakan perusahaan patungan antara Yangtze Optical Fibre and Cable (YOFC) asal Tiongkok dengan PT Monas Permata Persada. “PT YOFI sebagai pabrik optical fibre pertama dan satu-satunya di Indonesia, bahkan pertama di Asia Tenggara yang mampu memenuhi 50 persen kebutuhan nasional dan regional Asia Tenggara,” jelas Putu.
Ditambahkannya, kehadiran YOFI membuat tingkat komponen dalam negeri industri kabel serat optik akan melonjak drastis. Terlebih lagi adanya program Peningkatan Penggunaan Produksi Dalam Negeri (P3DN). “Program tersebut menyatakan instansi pemerintah dan BUMN wajib menggunakan produk dengan TKDN lebih dari 40 persen,” tegas Putu.
Sementara itu, Presiden Komisaris YOFC Jan Bongaerts mengatakan, Indonesia sebagai negara tujuan investasi dan akan menjadikan basis produksinya karena industri kabel di Tanah Air jauh lebih berkembang dibandingkan industri serupa di negara lain di ASEAN.
“Permintaan serat optik di Indonesia mencapai 8–9 juta kilometer (km) per tahun dan berpotensi naik tinggi dalam jangka waktu pendek. Namun, kapasitas produksi kami saat ini mencapai 3 juta km per tahun,” paparnya.
Menurut Jan, dengan populasi Indonesia yang mencapai 250 juta penduduk, permintaan broadband untuk internet pasti akan terus bertumbuh. Apalagi, pemerintah tengah gencar memperluas jaringan internet hingga ke pelosok. “Kami mengharapkan tahun depan bisa menaikkan kapasitas menjadi double hingga 6 juta km,” tuturnya.
Tambah investasi
Bahkan, Presiden Direktur PT Monas Permata Persada Santoso meyakinkan, kapasitas pabrik PT YOFI bisa dikembangkan mencapai 12 juta km serat optik per tahun tanpa harus memperluas area produksi. “Pada tahap pertama pabrik baru bisa produksi dengan kapasitas 3 juta km serat optik per tahun melalui investasi awal senilai USD 23 juta untuk pembangunan pabrik dan USD 7 juta untuk modal kerja,” ungkapnya.
Santoso menambahkan, PT YOFI berencana menggandakan produksinya mencapai 6 juta km serat optik per tahun pada 2017. Kapasitas produksi tersebut setara kebutuhan untuk tujuh produsen kabel serat optik di Indonesia. “Saat ini, 100 persen masih untuk memenuhi kebutuhan di Indonesia. Kemudian naik ke 8–9 juta kilometer pada tahap ketiga dan pada tahap keempat maksimal di 12 juta km,” ujar Santoso.
Pada kesempatan yang sama, Dirjen Ketahanan dan Pengembangan Akses Industri Internasional (KPAII) Kemenperin Harjanto memberikan apresiasi kepada PT YOFI atas realisasi investasinya dalam upaya mengembangkan industri di Indonesia.
“Pada tahap pertama, total nilai investasi mereka sebesar 30 juta Dolar Amerika Serikat (AS). Setelah pada tahap penyelesaian pembangunan nantinya, total nilai investasi akan menjadi 80 Juta Dolar AS dengan total kapasitas sebesar 12 juta km optical fibre,” paparnya.
Harjanto berharap akan semakin besar investasi masuk pada sektor-sektor industri strategis yang akan memberikan kontribusi positif bagi perekonomian nasional. “Pada kuartal II tahun 2016, total nilai investasi asing di Indonesia mencapai 8,01 miliar Dolar AS atau meningkat 49,11 persen dibandingkan periode yang sama pada tahun 2015,” ungkapnya.
Dengan telah dilaksanakannya Indonesia Business Forum di Shanghai pada tanggal 3 September 2016, Harjanto meyakinkan, minat investor dari Republik Rakyat Tiongkok akan semakin meningkat untuk berinvestasi di Indonesia pada sektor industri strategis.
Berita Terkait
-
Kemenperin Sinkronisasi Roadmap Industri Hulu-Hilir
-
Airlangga Minta Kawasan Industri Dapat Harga Gas yang Kompetitif
-
Panasonic Targetkan Bisnis Pompa Air Capai 15 Miliar Yen di 2020
-
Pasokan Baja Nasional Belum Mampu Memenuhi Kebutuhan Dalam Negeri
-
Barata Indonesia Kolaborasi dengan Siemens Aktiengesellschaft
Terpopuler
- Mengenal Lisda Cancer, Perwira Tinggi Polri yang Pensiun Tak Lama Usai Jadi Brigjen
- Skenario Timnas Indonesia Jika Imbang atau Kalah dari Vietnam di Piala AFF 2026
- Sunscreen Apa yang Bagus untuk Menghilangkan Flek Hitam di Wajah? Ini 3 Rekomendasi sesuai Review
- Fortuna Sittard Ogah Jual Justin Hubner ke Klub Super League
- 4 Shio Beruntung Hari Ini 4 Agustus 2026: Macan hingga Babi Berpeluang Dapat Kabar Baik
Pilihan
-
Pagar Besi di Mal-mal, Benarkah untuk Antisipasi Plot Kerusuhan Agustus?
-
Desa Kecil, Mimpi Mendunia: Ketika Kolaborasi Mengubah Wajah Kemiren
-
Kejagung Geledah Rumah Eks Jampidsus Febrie yang Pernah Dijaga TNI
-
Kematian Sutrimo dan Rangkaian Kejanggalan yang Muncul dari Kampung Halaman
-
Pengintai Misterius dan CCTV Mendadak, Kejanggalan di Rumah Sutrimo
Terkini
-
Link Nonton Gerhana Matahari Total dan Hujan Meteor Perseid Agustus 2026
-
Dewa 19 Janjikan Setlist Berbeda di Panggung HUT ke-3 Garuda TV, Lagu 'Langka' Siap Dibawakan
-
Timnas Indonesia Dibantai, Nguyen Xuan Son Singgung Gelar Juara Piala AFF 2026
-
Laba SSIA Berbalik Positif Rp262,6 Miliar, Bisnis Kawasan Industri Jadi Mesin Pertumbuhan
-
Viral Pasien BPJS Harus Menunggu 8 Jam di IGD, IDI: RS Tidak Bisa Mendeteksi Emergensi?
-
Singgung Era SBY-Jokowi, Purbaya: Mesin Ekonomi Kita Pincang 20 Tahun Terakhir
-
2 Raksasa Maskapai Penerbangan Mulai Goyang karena Perang AS-Iran dan BBM Naik
-
Harga Pangan Kompak Turun, Cabai Anjlok hingga 43%, Daging dan Minyak Goreng Ikut Melemah
-
Cara Cek Data Siswa Penerima PIP 2026, Mudah Lewat SIPINTAR Pakai NISN dan NIK
-
Pasien Menunggu 8 Jam di IGD Jadi Alarm Perbaikan Layanan Rumah Sakit