Mulai tahun depan, PT Bukit Asam Tbk (PTBA) akan menggenjot ekspansi di kawasan regional. Perseroan ini membidik tiga proyek pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) di Myanmar.
"PTBA tengah melakukan negosiasi serius dengan perusahaan BUMN listrik Myanmar," kata Analys Recapital Securities, Adi Kiswoyo Joe, Selasa (13/12/2016).
Kapasitas PLTU yang dijajaki di Myanmar cukup besar, bisa mencapai 1.000 megawatt (MW), nilai investasi proyek tersebut bisa mencapai 1,2 miliar Dolar AS. Lantaran masih banyak ketidakpastian di negara tersebut, PTBA memilih tidak langsung membidik porsi mayoritas. Perusahaan pelat merah ini lebih mengandalkan kerjasama dengan pemerintah setempat guna meminimalisir risiko. Nantinya, PTBA bakal melakukan kerjasama dengan perusahaan listrik milik pemerintah Myanmar. Diharapkan dengan mengambil proyek di PLTU Myanmar, PTBA bisa mendorong pasokan batubara ke negara tersebut.
Kepastian soal proyek-proyek tersebut ditargetkan pada tahun 2017 mendatang, sehingga proses konstruksi bisa dilakukan dalam dua tahun ke depan. Selain di Myanmar, PTBA juga membidik ekspansi di Vietnam. Namun, model bisnisnya sedikit berbeda. Kemungkinan besar, PTBA hanya akan melakukan penyertaan saham di anak usaha BUMN listrik milik Vietnam. Kalau di Vietnam kemungkinan masuk sebagai ekuitas saja. Jadi proyeknya tetap dari Vietnam, nanti batubaranya dari PTBA.
Rencana ekspansi regional ini memang dilakukan untuk memaksimalkan produksi batubara perseroan dalam jangka panjang. Tahun depan, PTBA optimistis meraih produksi 28 juta ton batubara, naik dari proyeksi tahun ini yang sekitar 25,75 juta ton. Emiten pelat merah ini menyiapkan belanja modal sebesar Rp5,8 triliun, termasuk dana akuisisi tambang batubara di Kalimantan sebesar 100 juta Dolar Amerika Serikat (AS).
"Rencana ekspansi PTBA dalam proyek pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) di Myanmar dan Vietnam adalah strategi yang bagus untuk meningkatkan penjualan PTBA ke depannya. Sehingga dengan ikut terlibat dalam PLTU di Myanmar dan Vietnam, PTBA bisa memasok batubara yang dibutuhkan oleh PLTU tersebut. Hanya saja proyek pembangunan PLTU membutuhkan waktu sekitar 2 sampai 3 tahun sehingga dibutuhkan waktu sekitar 3—4 tahun ke depan untuk bisa melihat efek positifnya di laporan keuangan PTBA," tutup Adi.
Berita Terkait
Terpopuler
- Jokowi Sembuh dan Siap Keliling Indonesia, Pengamat: Misi Utamanya Loloskan PSI ke Senayan!
- Promo Long Weekend Alfamart, Diskon Camilan untuk Liburan sampai 60 Persen
- 6 Warna Pakaian yang Dipercaya Bawa Keberuntungan untuk Shio di Tahun Kuda Api 2026
- 5 HP Xiaomi RAM Besar Termurah, Baterai Awet untuk Multitasking Harian
- Siapa Ayu Aulia? Bongkar Ciri-ciri Bupati R yang Membuatnya Kehilangan Rahim
Pilihan
-
Di Tengah Maraknya Klitih, Korban Kejahatan di Jogja Harus Cari Penjamin Biaya Medis Sendiri
-
Admin Fansbase Bawa Kabur Duit Patungan Voting, Rio Finalis Indonesian Idol Tereliminasi
-
Menilik Sepatu Lari 'Anak Jaksel' di Lapangan Banteng: Brand Lokal Mulai Mendominasi?
-
SMAN 1 Pontianak Tolak Ikut Lomba Ulang, Sampaikan Salam: Sampai Jumpa di LCC Tahun Depan!
-
Keluar Kau Setan! Ricuh di Pertemuan Donald Trump dan Xi Jinping
Terkini
-
Serbu Promo Superindo Weekend, Ada Beli 1 Gratis 1 Minyak Goreng sampai Produk Bayi
-
Harga Minyak Terus Naik, DEN: Pembatasan BBM Akan Berdasarkan CC dan Jenis Kendaraan
-
Pasar Properti Ditopang Rumah Kecil dan Menengah
-
Dari Piutang hingga Tata Kelola, Ini PR Besar Perusahaan Sebelum IPO
-
Tarif Listrik Tak Naik sejak 2022, Kok Tagihan Bisa Membengkak?
-
QRIS Masuk Sektor Logistik, UMKM Agen Paket Ikut Kecipratan Manfaat
-
India Akhirnya Naikkan Harga BBM Setelah 4 Tahun Bertahan
-
Begini Ramalan Nilai Tukar Rupiah dalam Waktu Dekat, Bisa Tembus Rp 20.000?
-
Pemerintah Klaim Potensi Resesi RI Lebih Rendah dari AS, Jepang, dan Kanada
-
Bukan Belanja Pemerintah, Purbaya Klaim Konsumsi Rumah Tangga Dorong Ekonomi Tumbuh 5,61%