- Menteri Keuangan Purbaya yakin defisit APBN akan turun didorong pertumbuhan pajak 30,8% per Januari 2026.
- Strategi utama adalah stimulus ekonomi, bukan menaikkan tarif pajak, untuk memulihkan kinerja usaha.
- Beberapa kebijakan pajak ditunda, seperti e-commerce dan cukai minuman berpemanis, untuk mendukung stimulus ekonomi.
Suara.com - Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa percaya diri defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) bisa turun tahun ini dari yang sebelumnya tekor 2,92 persen.
Menkeu Purbaya beralasan kalau saat ini penerimaan negara dari pajak mulai tumbuh. Per Januari 2026, penerimaan pajak naik 30,8 persen dibanding periode yang sama tahun lalu.
“Hasil awal di bulan Januari, pajak tumbuh 30 persen dibanding Januari tahun lalu. Kalau kita tahan 30 persen terus, itu saja sudah melebihi target APBN, defisitnya akan turun,” katanya, dikutip dari Antara, Jumat (13/2/2026).
Bendahara Negara mengungkapkan bahwa strategi menambah penerimaan negara bukan dari menaikkan tarif pajak, tetapi memaksimalkan pertumbuhan ekonomi nasional.
Ia berkilah jika perekonomian yang melambat bakal berdampak pada terhambatnya kinerja dunia usaha. Pada akhirnya kemampuan membayar pajak ikut turun.
Maka dari itu, dia mengatur strategi menyuntikkan stimulus ke perekonomian untuk memutarbalikkan kondisi ekonomi dengan seluruh instrumen yang tersedia.
Purbaya juga menunda beberapa kebijakan pajak seperti e-commerce hingga minuman berpemanis dalam kemasan (MBDK).
“Saya enggak menaikkan tarif pajak, pajak yang daring saya tunda dulu, cukai minuman berpemanis dalam kemasan (MBDK) saya tunda juga, karena saya tahu ketika ekonomi jatuh, pemerintah bukan mencekik ekonomi, harusnya memberi stimulus,” papar dia.
Tak hanya itu, Purbaya juga membenahi instansi di bawah Kemenkeu seperti Direktorat Jenderal Pajak (DJP) maupun Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC) untuk memaksimalkan penerimaan negara.
Baca Juga: Purbaya Yakin Ekonomi RI Tumbuh 5,6% di Q1 2026 Berkat Stimulus Ekonomi Rp 911 M
“Jadi, ekonomi yang lebih cepat adalah modal saya untuk mengendalikan pendapatan, rasio pajak (tax ratio), maupun defisit anggaran,” jelasnya.
Berdasarkan laporan Kementerian Keuangan, penerimaan pajak tumbuh tinggi mencapai 30,8 persen dengan nilai sebesar Rp116,2 triliun, setara 4,9 persen dari target APBN 2026 sebesar Rp2.357,7 triliun.
Kinerja penerimaan pajak menjadi penopang utama penerimaan negara yang tercatat mencapai Rp172,7 triliun per 31 Januari 2026, tumbuh 9,8 persen dibandingkan realisasi Januari tahun lalu senilai Rp157,3 triliun.
Realisasi penerimaan per Januari itu setara dengan 5,5 persen target Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026 sebesar Rp3.153,6 triliun.
Berita Terkait
-
Purbaya Yakin Ekonomi RI Tumbuh 5,6% di Q1 2026 Berkat Stimulus Ekonomi Rp 911 M
-
Purbaya Sebut Rating Moody's Offside, Klaim Ekonomi RI Akan Ekspansif hingga 2031
-
Luhut Soroti Praktik Pengusaha Pecah Usaha Demi Hindari Pajak
-
Prabowo Tegaskan Defisit APBN Tetap Terkendali di Bawah 3% dari PDB
-
Kenapa Pajak Kendaraan Jateng Naik, tapi Jogja Tidak? Ini Penjelasannya
Terpopuler
- Catat Tanggalnya! Ribuan Warga Badui Bakal Turun Gunung Temui Gubernur Banten Bulan April
- 5 Rekomendasi Smartwatch yang Bisa Balas WhatsApp, Mulai Rp400 Ribuan
- 7 Sepatu Lari Tahan Air Selevel Nike Vomero 18 GTX, Kualitas Top
- Donald Trump: Pangeran MBS Kini Mencium Pantat Saya
- 5 HP Xiaomi dengan Snapdragon 8 Elite Gen 5, Terkencang di 2026!
Pilihan
-
Harga Pertamax Naik Nyaris Rp18.000 di April Besok? Ini Kata Pertamina
-
Petir Bikin Duel Kepulauan Solomon vs Saint Kitts and Nevis di Stadion GBK Ditunda
-
Sesaat Lagi! Ini Link Live Streaming Timnas Indonesia vs Bulgaria
-
Melihat 3 Pemain yang Bakal Jadi Senjata Utama Timnas Indonesia Hadapi Bulgaria
-
Profil Sertu Farizal Rhomadhon, Prajurit TNI asal Kulon Progo yang Gugur di Lebanon
Terkini
-
Pemerintah Akan Larang Alih Fungsi Sawah, Sedang Siapkan Sanksi
-
Mentan Optimistis Stok Pangan Aman Hadapi Fenomena El Nino Godzilla
-
Beredar Info Harga Pertamax Tembus Rp17.850 per Liter 1 April, Pertamina: Belum Pasti
-
Dari Limbah Jadi Energi, Biomassa Sawit RI Kuasai Pasar Jepang
-
Aset Kripto Jadi Pelarian Saat Saham Loyo, Tapi Tetap Berisiko
-
Negara-negara Asing Mulai Antre Beli Pupuk dari Indonesia
-
Wacana Kemasan Polos Disorot, Rokok Ilegal Diprediksi Melonjak Tajam
-
RI Dapat Berkah dari Perang AS dan Iran, Bisa Jadi Raja Eksportir Pupuk Urea
-
Pegadaian Tembus Pasar Global, Ekspansi ke Timor Leste di Usia 125 Tahun
-
Harga Pertamax Naik Nyaris Rp18.000 di April Besok? Ini Kata Pertamina