IHSG Jumat 6 Januari 2017 ditutup naik sebesar 21 poin atau 0,40 persen ke level 5.347 setelah bergerak di antara 5.249-5.312. Sebanyak 177 saham naik, 110 saham turun, 113 saham tidak bergerak. Investor bertransaksi Rp 4.938 triliun. Di pasar reguler, investor asing membukukan transaksi beli bersih (net buy) Rp 52 miliar.
Pasar Amerika ditutup lebih tinggi dipimpin oleh sektor teknologi, di saat investor mencerna data kerja AS. Dow Jones menguat 0,32 persen ke level 19,963 dengan Goldman Sachs dan Walt Disney berkontribusi terhadap sebagian besar penguatan. S&P menguat 0.35 persen ke level 2,276.
"Nasdaq ditutup menguat 0,85 persen ke level 5,007. Indeks juga mencapai level tertinggi dan penutupan tertinggi sepanjang masa," kata Direktur PT Investa Saran Mandiri, Hans Kwee, dalam keterangan resmi, Senin (9/1/2017).
Pasar Eropa ditutup lebih tinggi pada akhir perdagangan di pekan pertama tahun 2017 setelah perilisan laporan non farm payroll AS untuk periode Desember. Laporan non farm payroll untuk bulan Desembernya hasilnya di bawah ekspektasi untuk pertumbuhan 156.000, namun nilai upah melonjak pada tingkat ter-cepat dalam tujuh tahun. Angka kerja bulan November di revisi naik tajam. Indeks FTSE menguat 0.20 persen ke level 7,210.
"DAX ditutup sedikit lebih tinggi naik 0.12 persen di level 11,599. dan indeks CAC juga menguat 0.19 persen di tutup di level 4,909," pungkas Hans.
Inflasi indeks harga konsumen (IHK) pada tahun 2016 tercatat sebesar 3,02 persen. Bank Indonesia (BI) memandang, ada beberapa alasan yang membuat inflasi tahun 2016 cenderung rendah. Deputi Gubernur BI menjelaskan, alasan pertama adalah adanya koordinasi antara pemerintah dengan bank sentral dalam hal pengendalian inflasi. Selain itu, alasan lain adalah adanya permintaan masyarakat yang naik, namun pada saat bersamaan kapasitas produksi nasional secara keseluruhan belum optimal.
Alasan lainnya adalah dampak harga komoditas internasional dan pengen-dalian stabilisasi nilai tukar. Ia menjelaskan, dengan kata lain, meskipun sejumlah harga komoditas naik pada tahun 2016 namun kurs tetap terkendali. Hal lain yang menjadi faktor rendahnya inflasi adalah terjaga ekspektasi inflasi. Menurut Nya, masyarakat memiliki kepercayaan bahwa inflasi akan terkendali. Meskipun sudah mencapai target, namun demikian pemerintah maupun bank sentral akan terus memantau risiko inflasi ke depan.
Berita Terkait
Terpopuler
- Rumor Cerai Nia Ramadhani dan Ardi Bakrie Memanas, Ini Pernyataan Tegas Sang Asisten Pribadi
- 5 Sepeda Murah Kelas Premium, Fleksibel dan Awet Buat Goweser
- 5 HP Murah RAM Besar di Bawah Rp1 Juta, Cocok untuk Multitasking
- 5 City Car Bekas yang Kuat Nanjak, Ada Toyota hingga Hyundai
- Link Epstein File PDF, Dokumen hingga Foto Kasus Kejahatan Seksual Anak Rilis, Indonesia Terseret
Pilihan
-
CV Joint Lepas L8 Patah saat Pengujian: 'Definisi Nama Adalah Doa'
-
Ustaz JM Diduga Cabuli 4 Santriwati, Modus Setor Hafalan
-
Profil PT Sanurhasta Mitra Tbk (MINA), Saham Milik Suami Puan Maharani
-
Misi Juara Piala AFF: Boyongan Pemain Keturunan di Super League Kunci Kekuatan Timnas Indonesia?
-
Bukan Ragnar Oratmangoen! Persib Rekrut Striker Asal Spanyol, Siapa Dia?
Terkini
-
IES 2026 Menjadi Ruang Dialog Ekonomi, Energi, dan Daya Saing Indonesia
-
Kemenperin Akui Baja China Jadi Masalah di Indonesia
-
Permintaan Obligasi Indonesia Turun ke Titik Terendah dalam Setahun Terakhir
-
Profil PT Sanurhasta Mitra Tbk (MINA), Saham Milik Suami Puan Maharani
-
Pertamina Gagalkan Pencurian 10 Ton Minyak Mentah di Prabumulih
-
Arief Muhammad Rambah Bisnis Baru, Portofolio Usaha Makin Besar
-
Pandu Sjahrir Beberkan Mekanisme Danantara Investasi di Pasar Saham
-
Danantara Tak Mau Ikut Campur Soal Saham Gorengan yang Diusut Bareskrim
-
Tak Lagi Andalkan Listrik, Bisnis Beyond kWh Didorong Jadi Sumber Pertumbuhan
-
Setelah Perbaiki KRAS, Danantara Bangun Pabrik Baja Baru