Suara.com - Saat ini musim kemarau tiba, bahkan terjadi kekeringan di sejumlah daerah. Kementerian Pertanian (Kementan) mendorong petani memanfaatkan Asuransi Usaha Tani Padi (AUTP) sebelum mulai menanam padi.
Dengan membayar premi Rp 36 ribu per hektare per musim, petani yang sawahnya terkena bencana banjir dan serangan organisme pengganggu tumbuhan (OPT) dapat klaim (ganti) Rp 6 juta per hektare, bila mengalami gagal panen akibat kekeringan.
Dirjen Prasarana dan Sarana Pertanian (PSP) Kementan, Sarwo Edhy mengatakan, harga premi AUTP ini relatif sangat murah. Manfaatnya sangat besar bagi petani, terutama di musim kemarau seperti saat ini.
"Sebelum mulai menanam sebaiknya didaftarkan asuransi dulu. Bayarnya tidak mahal, karena disubsidi Ppmerintah. Petani yang sawahnya kekeringan dapat ganti Rp 6 juta per hektare," ujarnya, Jakarta, Sabtu (28/6/2019).
Menurut Sarwo Edhy, AUTP merupakan cara Kementan untuk melindungi usaha tani agar mereka masih bisa melanjutkan usahanya ketika terkena bencana banjir, kekeringan atau serangan OPT. Premi asuransi tani tersebut, sampai saat ini masih disubsidi pemerintah, yaitu Rp 144 ribu per hektare.
“Kami harap, semua petani padi bisa mendaftar sebagai anggota AUTP, karena harga preminya murah dan sangat bermanfaat," ujarnya.
AUTP saat ini tak hanya diperuntukkan bagi petani yang lahan sawahnya berada di kawasan rawan bencana dan serangan OPT. Tetapi juga untuk petani yang lahan sawahnya aman dari bencana. Sebab, yang namanya bencana atau serangan OPT itu tak bisa diduga.
“AUTP akan terus kami sosialisaikan ke petani, karena ini menjadi bentuk perlindungan kepada mereka, dan saat ini sudah banyak petani yang sudah menjadi anggota AUTP, " papar Sarwo Edhy.
Data Kementan menyebutkan, jumlah petani peserta AUTP dari tahun ke tahun terus meningkat. Adapun dari target 1 juta hektaree, realisasi AUTP pada tahun 2018 tercapai 806.199,64 hektare, atau 80,62 persen. Sementara itu, klaim kerugian yang diajukan petani mencapai 12.194 hektare atau sebesar 1,51 persen.
Baca Juga: Jalankan Amanat Presiden Jokowi, Kementan efesiensi Belanja Alistan
Sarwo Edhy mengatakan, pengembangan AUTP pun tak menemui banyak kendala. Artinya, pembayaran klaim yang dilakukan PT Jasindo sampai saat ini berjalan lancar.
Bahkan untuk mempermudah pendaftaran dan pendataan asuransi, Kementan bersama PT Jasindo menerbitkan layanan berbasis online melalui Sistem Informasi Asuransi Pertanian (SIAP).
Untuk informasi, hasil pemantauan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), curah hujan hingga tanggal 20 Juni 2019 dan prakiraan peluang curah hujan sangat rendah (< 20 milimeter per 10 hari), telah terjadi hari tanpa hujan (HTH) berturutan pada beberapa wilayah yang berdampak pada potensi kekeringan meteorologis (iklim) dengan status SIAGA hingga AWAS di beberapa daerah.
Status AWAS (telah mengalami HTH >61 hari dan prospek peluang curah hujan rendah <20milimeter per dasarian pada 20 hari mendatang >80 persen ). Ini terjadi di sebagian besar Yogyakarta - Jawa Timur (Sampang dan Malang), Nusa Tenggara Timur, Jawa Barat (Indramayu), dan Bali (Buleleng).
Sedangkan status SIAGA (telah mengalami HTH >31 hari dan prospek peluang curah hujan rendah <20milimeter per dasarian pada 20 hari mendatang >80 persen) terjadi di Jakarta Utara, Banten (Lebak dan Tangerang), Nusa Tenggara Barat dan sebagian besar Jawa Tengah
Berita Terkait
-
Jalankan Amanat Presiden Jokowi, Kementan efesiensi Belanja Alistan
-
Dam Parit Girimukti Buktikan Bisa Antisipasi Kemarau
-
Ditjen PSP Bahas Pengembangan Sumber Daya Pertanian untuk Trans Papua
-
Selandia Baru Apresiasi Indonesia Cetak Generasi Muda Pertanian
-
Atasi Kekeringan di Magetan, Kementan Ambil Langkah-langkah Antisipasi
Terpopuler
- Dicukur Timnas Indonesia 5-1, Pemain Naturalisasi Kamboja Jadi Sasaran Kemarahan Fans
- 4 Serum Wardah untuk Mengecilkan Pori, Kulit Halus dan Mulus Bertahap
- Daftar Harga Motor Listrik dengan Subsidi Pemerintah, Ada yang Cuma Rp5 Jutaan!
- Nasib Berubah, Ini 4 Shio yang Panen Keberuntungan dan Rezeki pada 29 Juli 2026
- Siapa Ipda Ambarita? Ini Profil Polisi yang Viral Saat Pengamanan Bentrok Matraman
Pilihan
-
Kematian Sutrimo dan Rangkaian Kejanggalan yang Muncul dari Kampung Halaman
-
Pengintai Misterius dan CCTV Mendadak, Kejanggalan di Rumah Sutrimo
-
Banyak Air Galon Isi Ulang di Bangka Barat Belum Diuji, Amankah Dikonsumsi Setiap Hari?
-
Dicecar 23 Pertanyaan Penyidik KPK, Ini Kata Plt Bupati Sukoharjo
-
Cuma Sisa Rp200 Juta! Perampok Rp1,2 Miliar di Kalideres Diciduk Usai Habiskan 1 M Dalam 8 Hari
Terkini
-
WNA Kembali Berulah Indikasi Diskriminasi WNI di Bali, Imigrasi Diminta BertindakTegas
-
Gran Turismo: Kisah Inspiratif Seorang Gamer Menuju Dunia Balap Profesional
-
Puluhan Warga Tulungagung Tumbang Keracunan MBG, Kasus Sengaja Ditutup-tutupi?
-
Wuling Aira ev Bertema Toy Story Curi Perhatian di GIIAS 2026
-
Bea Cukai Pamer Kawasan Berikat Serap 20 Ribu Tenaga Kerja, Setoran Pajak Tembus Rp 21,41 T
-
Bea Cukai Ungkap 80% Nilai Ekspor CPO Berasal dari Kawasan Berikat
-
Powerbank Penumpang Batik Air Terbakar Saat Terbang
-
5 Tanaman Hias Pembawa Rezeki di Depan Rumah Menurut Feng Shui, Penarik Energi Positif
-
Kasus Obesitas RI Bisa Ancam Beban Ekonomi Puluhan Triliun per Tahun
-
Perbanas: Nominal Tabungan Masyarakat Terus Menurun, Rata-rata Hanya Punya Rp1,7 Juta