Suara.com - Ketua Kadin Bidang Konstruksi dan Infrastruktur Dandung Harninto menganggap wajar jika impor cangkul cukup banyak masuk ke Indonesia karena harga jualnya yang lebih murah ketimbang harga jual di Indonesia.
"Harga cangkul produksi Indonesia dengan China itu jauh lebih murah China. Kalau kontraktor di sini jadi lebih senang ambil dari China dong," kata Dandung saat acara diskusi Membedah Pembiayan Infrastruktur Tanpa APBN di Gedung BEI, Jakarta, Kamis (14/11/2019).
Dia bilang harga satu unit cangkul asal negeri tirai bambu sebesar Rp 40 ribu sampai Rp 50 ribu per unit, bandingkan dengan harga cangkul yang di jual di Indonesia bisa mencapai Rp 90 ribu per unit.
"Dibuat di Indonesia pengerajin kita tapi justru lebih mahal, selesai dong industri nasional mati," katanya.
Menurut data BPS yang dikeluarkan, jumlah impor cangkul sebanyak 505,5 ton dengan nilai 330.030 dolar AS sejak 2015 hingga September 2019. Dari total berat impor cangkul yang berasal dari Jepang hanya 7 kg dengan nilai 65 dolar AS dan sisanya dari Tiongkok.
Periciannya, pada 2015 seberat 14,2 ton dengan nilai 6.589 dolar AS. Pada tahun 2016 totalnya 142,7 ton dengan nilai 187.000 dolar AS. Pada tahun 2017 sebesar 2,3 ton dengan nilai 794 dolar AS. Sedangkan pada tahun 2018 seberat 78,1 ton dengan nilai 33.889 dolar AS. Pada tahun 2019 tercatat dari Januari sampai September totalnya 268,2 ton dengan nilai 101.600 dolar AS.
"Kita yang sedang mengalami deinsutrulsaisi itu dibalikan bahwa infrasturktur bisa membangkitkan industri nasional. Kalau konstruksi ya kontrsuksi nasional. swasta punya kapasitas dan bisa diajak membangun, jadi cangkul kita gak lebih mahal dari China," katanya.
Dia bilang semakin besar angka importasi kita akan semakin menguntungkan negara lain, karena yang menikmati ekonominya adalah negara penjual barang.
"Kalau produk beli impor impact ekonomi disana, efek ekonmi dalam negeri jauh. Harus sebaliknya, jadinya efek ekonomi baut swasta juga bagus," katanya.
Baca Juga: Kejam! Yogi Bunuh Gadis ABG Pakai Cangkul dan Perkosa Jasadnya
Berita Terkait
-
Belum Tentu Untung, Swasta Ngeri Bangun Infrastruktur Bareng Pemerintah
-
Disentil Jokowi soal Impor Cangkul, Kemendag: Baru Satu Kali
-
Ekonomi Lesu, Pengusaha Terpaksa Lakukan Efisiensi
-
Sandiaga ke Bos Kadin: Menteri Gerindra Bos, Gak Bisa Main Lagi soal Ikan
-
Pidato di Acara Kadin, Sandiaga: Saya Pengangguran, Gak Punya Kerjaan
Terpopuler
- Daftar Prodi Berpotensi Ditutup Imbas Fokus Industri Strategis Nasional
- Promo Alfamart Hari Ini 30 April 2026, Tebus Suka Suka Diskon 60 Persen
- 5 Rekomendasi HP POCO RAM Besar dan Kamera Bagus, Cek di Sini!
- 7 Cushion Wudhu Friendly dengan Hasil Flawless Seharian, RIngan dan Aman di Kulit
- Heboh Lagi, Ahmad Dhani Klaim Punya Bukti Perselingkuhan Maia Estianty dengan Petinggi Stasiun TV
Pilihan
-
10 Spot Wisata Paling Hits di Solo 2026: Paduan Sempurna Budaya, Estetika, dan Gaya Hidup Modern!
-
7 Sabun Mandi Cair Wangi Mewah yang Bikin Rileks Setelah Pulang Kerja, Ada yang Mirip Aroma Spa
-
Mantan Istri Andre Taulany Dilaporkan ke Polisi, Diduga Aniaya Karyawan
-
Stasiun Bekasi Timur akan Kembali Beroperasi Lagi Siang Ini
-
Truk Tangki BBM Meledak Hebat di Banyuasin, 4 Pekerja Terbakar saat Api Membumbung Tinggi
Terkini
-
Harga Solar Vivo Melonjak! Diesel Primus Kini Rp30.890 per Liter Mulai Mei 2026
-
SIG Bukukan Laba Rp80 Miliar pada Kuartal I 2026, Penjualan Semen Naik di Tengah Tekanan Industri
-
Harga Emas Pegadaian Hari Ini 2 Mei 2026: Antam Melonjak, UBS Turun, Galeri24 Naik Tipis
-
Indef Nilai KUR Bunga 5 Persen Yang Dicanangkan Presiden Prabowo Efektif Bantu UMKM
-
Titah Sultan HB IX untuk Mbah Carik, Terbukti Jadi Rezeki Anak Cucu
-
Rencana KUR Bunga 5 Persen, Presiden Probowo Diingatkan Tak Salah Sasaran
-
Sah! Dokumen Digital Kini Makin Sakti, Ini Cara Pakai E-Meterai Agar Lolos Rekrutmen Kerja
-
PLN Mulai Tender Raksasa PLTS 1,225 GW, Tersebar dari Jawa hingga Papua
-
Pidato di hadapan Buruh, Prabowo Janji Kucurkan KUR Bunga 5 Persen per Tahun
-
BRI Imbau Masyarakat Waspada Modus Penipuan KUR, Ingatkan Masyarakat Jaga Data Pribadi