Suara.com - Harga minyak dunia menguat pada perdagangan Rabu kemarin, memperpanjang reli untuk hari kesembilan, kenaikan beruntun terpanjang dalam dua tahun.
Kenaikan ini didukung pengurangan pasokan produsen dan harapan peluncuran vaksin akan mendorong pemulihan permintaan.
Mengutip CNBC, Kamis (11/2/2021) minyak mentah berjangka Brent, patokan internasional, ditutup menguat 38 sen atau 0,6 persen, menjadi 61,47 dolar AS per barel setelah menyentuh level tertinggi 13-bulan, yakni 61,61 dolar AS per barel.
Sementara itu, patokan Amerika, minyak mentah berjangka West Texas Intermediate, menetap 32 sen, atau 0,55 persen lebih tinggi, menjadi 58,68 dolar AS per barel, setelah menyentuh 58,76 dolar AS per barel, juga tingkat tertinggi dalam 13 bulan.
Brent kini menguat selama sembilan sesi berturut-turut, periode kenaikan terpanjang sejak Desember 2018 hingga Januari 2019. Ini adalah kenaikan harian kedelapan untuk minyak mentah WTI.
Beberapa analis mengatakan harga telah bergerak terlalu jauh di depan fundamental yang mendasarinya.
"Tingkat harga saat ini lebih sehat ketimbang pasar sebenarnya dan sepenuhnya bergantung pada pengurangan pasokan, karena permintaan masih harus pulih kembali," kata Bjornar Tonhaugen, analis Rystad Energy.
Minyak mentah melonjak sejak November karena pemerintah memulai program vaksinasi untuk Covid-19 sambil memberlakukan paket stimulus yang besar guna meningkatkan aktivitas ekonomi, dan produsen utama dunia membatasi pasokan.
Eksportir terbesar, Arab Saudi, secara sepihak mengurangi pasokan pada Februari dan Maret, melengkapi pemotongan yang disepakati oleh anggota lain dari Organisasi Negara Eksportir Minyak ( OPEC ) dan sekutunya, yang dikenal sebagai OPEC Plus.
Baca Juga: Harga Minyak Dunia Terus Menguat, Kini Sentuh 61 Dolar AS per Barel
Kini, sejumlah analis memperkirakan terjadi defisit pasokan pada 2021 karena lebih banyak populasi yang divaksinasi dan mulai melakukan aktivitas perjalanan serta bekerja di kantor, yang berpotensi meningkatkan permintaan bahan bakar.
"Ini bakal menjadi semester kedua 2021 yang kuat dan harga minyak adalah cerminan dari itu," kata Craig Erlam, analis OANDA Eropa.
Berita Terkait
Terpopuler
- 4 HP Murah Terbaru 2026 untuk Anak Sekolah: Baterai 7000 mAh hingga Koneksi 5G
- 3 Rekomendasi Bedak Padat di Indomaret untuk Makeup Halus dan Tahan Lama
- 5 Shio yang Menarik Keberuntungan 28 Juni 2026, Hari Penuh Hoki dan Kesempatan
- 4 Sepatu Kanky Terlaris di Shopee, Nyaman Dipakai Seharian Sesuai Review Pembeli
- Keunggulan Pompa Air Shimizu PL-138 BIT, Solusi Air Jernih Anti Karat
Pilihan
-
Sejarah! Timnas Voli Indonesia Kalahkan Korsel dan Juara AVC Mens Volleyball Cup 2026
-
Bumi Berguncang! Gempa 6,2 M Hantam Afghanistan, Getaran Terasa Hingga India
-
Perang Meletus Lagi! Iran Hantam Basis AS di Teluk, Gencatan Senjata Runtuh
-
Pelatih Timnas Iran Desak Infantino Tegas Terhadap AS: Perlakuan Mereka Buruk!
-
Korban Meninggal Latsarmil SPPI Bertambah Menjadi 5 Orang, Ini Penjelasan Kemhan
Terkini
-
Prediksi Harga Emas Pekan Ini, Perang AS-Iran Bisa Picu Penguatan?
-
Susah Cari Beras? Ini Penyebab Rak Retail Modern Mulai Kosong
-
Dirut Bulog Hadiri Pengukuhan Profesor Kehormatan Anggota VII BPK RI
-
Buruh Kena Pajak Dobel, Said Iqbal Usul 'Potongan' Pencairan JHT Dihapus
-
Heboh Asisten Raffi Ahmad Jadi Komisaris, Ini Daftar Pemegang Saham Krakatau Posco
-
Daftar 24 Wamen Rangkap Jabatan di BUMN, Viral Sorotan 'Orang Dekat' Jadi Komisaris
-
Kabar 60.000 Calon Mahasiswa Mundur, Imbas Biaya Kuliah Mahal?
-
Harga Beras Makin Mahal, Program SPHP Pemerintah Tidak Efektif?
-
Krakatau Posco Milik Siapa, Apakah BUMN? Asisten Raffi Ahmad Jadi Komisaris
-
Harga Emas Antam Terus Melemah dalam Sepekan, Buyback Anjlok Lebih Dalam