Suara.com - Program Food Estate Dadahup yang berada di Kuala Kapuas, Kalimantan Tengah (Kalteng), dinilai layak menjadi role model. Sebabnya, program tersebut mampu menaikkan produktivitas padi secara signifikan per hektarnya, yang berarti mampu memberikan kesejahteraan kepada petani secara optimal.
"Food Estate ini bisa menjadi model bagi semua. Harapannya, nantinya masyarakat mau melanjutkannya. Untuk itu, Food Estate tetap perlu didukung dengan distribusi kebijakan menyeluruh untuk kesejahteraan," ungkap Wakil Ketua Komisi IV DPR RI, Anggia Erna Rini, Kamis (25/3/2021).
Berkolaborasi dengan Kementerian Pertanian, Komisi IV melakukan kunjungan kerja ke Food Estate Dadahup pada Kamis (25/3). Lokasinya berada di lahan milik Kelompok Tani Sang Hyang Seri di Desa Petak Batuah (A2), Dadahup, Kuala Kapuas, Kalteng. Selain berdialog, agenda ini juga menjadi program panen raya padi Impari 42 dengan luas lahan 50 hektar. Adapun luas totalnya mencapai 320 hektar dengan produktivitas 4,5 sampai 5,3 ton per hektar.
"Kami tentu ingin melihat langsung perkembangan Food Estate secara langsung, bukan hanya sekadar mendengarnya saja. Yang jelas, ada banyak hal menarik yang harus dikaji lebih dalam dan dikembangkan lagi," jelas Anggia.
Senada dengan Anggia, anggota Komisi IV Bambang Purwanto menegaskan, program Food Estate mampu memberikan optimalisasi atas potensi lahan. Sebab, lahan Food Estate di Dadahup merupakan program transmigrasi 1.000 hektar.
"Food Estate program yang bagus, karena mampu menaikkan produktivitas lahan dengan signifikan. Kami ucapkan terima kasih karena Food Estate digulirkan di Kalimantan Tengah, mampu menaikkan semangat para petani untuk terus berkarya," tegas Bambang.
Menjadi program unggulan, Food Estate Kalimantan Tengah menempati lahan dengan luas 30.000 hektar. Selain Kuala Kapuas, lokasi lainnya berada di Pulang Pisau. Untuk wilayah Kuala Kapuas, total luas lahan Food Estate mencapai 20.000 hektar dan sudah ditanami 17.000 hektar. Adapun untuk Food Estate di Pulang Pisau memiliki luas 10.000 hektar dan mayoritas sudah ditanami.
"Program Food Estate menjadi ide Presiden Joko Widodo. Progresnya bagus karena sudah ditanami dan mulai menghasilkan seperti di Dadahup ini. Kalau pun masih ada lahan yang belum ditanami, (itu) karena kondisinya tertutup banjir. Untuk lahan yang sudah ditanami, mampu menaikkan produktivitas rata-rata 3 ton per hektar," jelas Direktur Jenderal Prasarana dan Sarana Pertanian (PSP) Kementan, Sarwo Edhy.
Produktivitas maksimal memang telah diberikan program Food Estate. Sebelum program ini digulirkan, produktivitas lahan sawah di Dadahup hanya pada angka 1,5 sampai 2 ton per hektar. Mengacu lahan milik Kelompok Tani Sang Hyang Seri, program Food Estate pun memberikan banyak bantuan. Terkait optimalisasi lahan, petani mendapatkan bantuan 7,5 kuintal per hektar.
Baca Juga: Petani Bolaang Mongondow Dapat Pupuk Subsidi untuk Tingkatkan Produksi
Selain kapur, sebanyak 24 anggota Kelompok Tani Sang Hyang Seri juga mendapat bantuan masing-masing 300 kilogram per hektar pupuk NPK. Ada juga bantuan benih Impari 42 sebanyak 40 kilogram per hektar, 3 liter per hektar pupuk Hayati, hingga herbisida sebanyak 3 liter per hektar. Sarwo memaparkan, Kalimantan Tengah akan menjadi penyangga pangan bagi Indonesia.
"Ada banyak kemajuan dari program Food Estate, karena mereka kini bisa menanam dua kali. Tentu akan ditingkatkan lagi menjadi tiga kali setahun. Kalau produksinya naik, maka provisitas dan produktivitasnya tentu akan naik juga. Kalimantan Tengah akan menjadi penyangga pangan untuk wilayah timur. Jadi, Presiden Joko Widodo sangat fokus dengan Food Estate ini," ungkap Sarwo.
Berita Terkait
-
Importir Sepakat Jaga Harga Kedelai Rp11.500/Kg untuk Pengrajin Tahu Tempe
-
CELIOS: Ambisi Biofuel Bisa Korbankan Kedaulatan Pangan di Papua
-
CELIOS Ungkap Biofuel Tak Hanya Mahal, Tapi Berisiko bagi Fiskal Negara: Mengapa?
-
Pemerintah Akan Larang Alih Fungsi Sawah, Sedang Siapkan Sanksi
-
600 Ribu Lahan Sawah Beralihfungsi, Pemerintah Susun RPP untuk Atur Sanksi Denda
Terpopuler
- 7 Sabun Cuci Muka dengan Kolagen untuk Kencangkan Wajah, Bikin Kulit Kenyal dan Glowing
- Tak Perlu Mahal! Ini 3 Mobil Bekas Keluarga yang Keren dan Nyaman
- Dapat Status Pegawai BUMN, Apa Saja Tugas Manajer Koperasi Merah Putih?
- 5 HP Xiaomi yang Awet Dipakai Bertahun-tahun, Performa Tetap Mantap
- Oki Setiana Dewi Jadi Kunci Kasus Pelecehan Syekh Ahmad Al Misry Terbongkar Lagi, Ini Perannya
Pilihan
-
Iran Tutup Lagi Selat Hormuz, IRGC: Amerika Serikat Perompak!
-
Selat Hormuz Kembali Ditutup? Iran Dituding Tembak Kapal Tanker di Dekat Oman
-
BREAKING NEWS! Iran Resmi Buka Blokade Selat Hormuz Sepenuhnya
-
Kisah di Balik Korban Helikopter Sekadau, Perjalanan Terakhir yang Tak Pernah Sampai
-
DPR Minta Ombudsman RI Segera Konsolidasi Internal Usai Ketua Jadi Tersangka Korupsi Nikel
Terkini
-
Viral Gerakan Tutup Rekening, BNI Janji Kembalikan Dana Gereja di Aek Nabara
-
Skandal Dana Umat di Aek Nabara, BNI Janji Dana Gereja Dikembalikan Sepenuhnya
-
Iran Kembali Tutup Selat Hormuz Sampai Waktu yang Tak Ditentukan, Gegara Ulah Trump
-
Pemerintah Segera Tutup Praktik Open Dumping di Seluruh TPA
-
Pemerintah Mulai Kaji Kereta Papua, Rute Sentani-Kota Jayapura Jadi Proyek Awal
-
Harga BBM Naik, Ini Warga RI yang 'Halal' Beli Bensin Subsidi
-
Permudah Akses Keuangan Pedagang, BTN Ekspansi Bisnis ke Ekosistem Koperasi Pasar
-
Lawan Imunitas Algoritma, Prof Harris: Masa Rokok Bisa Digugat, Kode Digital Tidak?
-
Ambisi Swasembada Gula 2028 Terganjal Mesin Tua dan Kiamat Lahan
-
Bos-bos BCA Kompak Serok Saham Sendiri Saat Harga Diskon, Apa Dampaknya?