Suara.com - PT Panca Mitra Multiperdana Tbk (PMMP) perusahaan pengolah makanan beku berbasis udang meraih laba bersih sebesar USD 6,1 juta sepanjang semester I 2021. Raihan laba bersih ini naik 16,7% dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Perseroan juga meraih pendapatan pada semester I 2021 sebesar USD 85,8 juta atau naik 2,9% dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Direktur Utama PMMP, Martinus Soesilo mengatakan, knerja positif Perseroan selama pertengahan tahunan 2021 ini didukung dari meningkatnya penjualan ekspor Perseroan, terutama ke Amerika Serikat, yang meningkat sebesar 11,2%, menjadi USD 74,3 juta.
Selain itu, volume penjualan Perseroan juga meningkat dari tahun lalu, menjadi 9.677 ton per Juni 2021 dari tahun sebelumnya sebesar 9.412 ton, atau naik sebesar 2,8% secara YoY.
Pertumbuhan profitabilitas Perseroan ini sejalan dengan strategi Perseroan untuk meningkatkan porsi penjualan produk varian Cooked Shrimp dan Value Added Shrimp yang masih memiliki demand yang sangat tinggi.
"Per bulan Juni 2021, volume penjualan produk Cooked Shrimp kami mencapai 57% dari total penjualan, sedangkan untuk produk Value Added Shrimp kami mencapai 21% dari total penjualan kami Hal ini dapat dilihat dari peningkatan marjin laba kotor kita dari 20,1% meningkat menjadi 21,5% pada Juni 2021, atau meningkat sebesar 150bps secara YoY," ujar Martinus dalam paparan publik secara virtual, Senin (30/8/2021).
Selain hal diatas, PMMP juga menyampaikan sejumlah ekspansi dan strategi bisnis pada tahun 2021, mulai dari pembangunan pabrik baru, ekspansi pasar menuju Uni Eropa, peluncuran brand baru Perseroan untuk pasar domestik, dan juga meningkatkan porsi penjualan produk Value Added.
Martinus menyampaikan progress pembangunan konstruksi pabrik baru telah mencapai 95%, dan nantinya akan diperuntukkan untuk meningkatkan kapasitas produksi Perseroan dan juga untuk menambah varian produk yang akan dipasarkan Perseroan.
"Pabrik yang berlokasi di Situbondo tersebut rencananya akan memproduksi produk-produk Value Added, khususnya produk pre-fried breaded shrimp," jelas Martinus.
Baca Juga: Terjadi Penurunan Nilai Tukar Dolar AS, Harga Emas Naik
Pada kesempatan yang sama, Sekretaris Perusahaan PMMP, Christian Jonathan Sutanto juga menyampaikan pada tahun ini Perseroan telah berhasil menambah segmen ekspor baru, yakni Uni Eropa.
"Akhir tahun lalu, kami sudah mendapatkan sertifikasi ASC, sertifikasi yang dibutuhkan untuk melakukan ekspor ke Uni Eropa. Pada awal tahun 2021, kami telah mendapatkan kontrak baru dari Uni Eropa, sebesar USD 8 juta," kata Christian.
Selain itu, pada awal tahun, PMMP juga telah melaksankan grand launching brand milik Perseroan, bernama Ebinoya. Ebinoya sendiri rencananya akan dipasarkan pada pasar domestik untuk menangkap potensi peningkatan permintaan pasar domestik ke depannya.
Terakhir, PMMP juga telah menerapkan strategi bisnis untuk meningkatkan porsi penjualan produk Value Added untuk meningkatkan profitabilitas Perseroan.
"Kami ingin mengurangi porsi penjualan produk commodity kami, khususnya Raw Shrimp, karena kompetisi di variasi ini sangat ketat, terutama dari India dan Ekuador yang berfokus pada produk Raw Shrimp. Sedangkan untuk produk Value Added ini, supply nya masih sangat sedikit dan demandnya sangat tinggi, sehingga memiliki marjin yang lebih baik," tutur Christian.
"Melalui penerapan strategi - strategi ini, Perseroan optimis mencapai target untuk meningkatkan volume penjualan sebesar 11% menjadi kurang lebih 20.000 ton dan peningkatan penjualan sebesar 11% menjadi sekitar USD 190 juta di 2021 dan laba bersih mencapai sekitar USD 11 juta pada tahun 2021," pungkas Christian.
Tag
Berita Terkait
Terpopuler
- 5 Sampo Penghitam Rambut di Indomaret, Hempas Uban Cocok untuk Lansia
- 5 Mobil Kecil Bekas yang Nyaman untuk Lansia, Legroom Lega dan Irit BBM
- 7 Mobil Bekas untuk Grab, Mulai Rp50 Jutaan: Nyaman, Irit dan Tahan Lama!
- 5 Mobil Suzuki dengan Pajak Paling Ringan, Aman buat Kantong Pekerja
- 5 Mobil Bekas Rekomendasi di Bawah 100 Juta: Multiguna dan Irit Bensin, Cocok Buat Anak Muda
Pilihan
-
Rupiah Terkapar di Level Rp16.819: Kepercayaan Konsumen Lesu, Fundamental Ekonomi Jadi Beban
-
Kala Semangkok Indomie Jadi Simbol Rakyat Miskin, Mengapa Itu Bisa Terjadi?
-
Emiten Ini Masuk Sektor Tambang, Caplok Aset Mongolia Lewat Rights Issue
-
Purbaya Merasa "Tertampar" Usai Kena Sindir Prabowo
-
Darurat Judi Online! OJK Blokir 31.382 Rekening Bank, Angka Terus Meroket di Awal 2026
Terkini
-
Swasembada Beras Sudah Sejak 2018, Apa yang Mau Dirayakan?
-
Kemenperin Adopsi Sistem Pendidikan Vokasi Swiss untuk Kembangkan SDM
-
Dukung Ekonomi Kerakyatan, Bank Mandiri Salurkan KUR Rp 41 Triliun hingga Desember 2025
-
Realisasi Konsumsi Listrik 2025 Tembus 108,2 Persen dari Target
-
Rupiah Terkapar di Level Rp16.819: Kepercayaan Konsumen Lesu, Fundamental Ekonomi Jadi Beban
-
Kementerian PU Percepat Pembangunan Huntara di Aceh Tamiang, 7 Blok Rampung untuk 84 KK
-
Purbaya Yakin MBG Paling Cepat Habiskan Anggaran di Awal 2026
-
Beban Impor LPG Capai 8,4 Juta Ton, DME Diharapkan Jadi Pengganti Efektif
-
Defisit APBN 2025 Hampir 3 Persen, Purbaya Singgung Danantara hingga Penurunan Pajak
-
Target IHSG Tembus 10.000, OJK: Bukan Tak Mungkin untuk Dicapai