Suara.com - Pemerintah China kembali menyuntikkan dana untuk pelaku usaha dan masyarakat untuk mencegah keterpurukan pasca bangkrutnya raksasa properti negeri tirai bambu Evergrande.
Pemerintah menggulirkan dana hingga USD 188 miliar. Keputusan ini, setelah organisasi partai komunis Politbiro China baka mengambil tindak yang lebih agresif untuk melindungi ekonomi pada tahun 2022
Tim kepemimpinan Partai Komunis China, yang diketuai oleh Presiden Xi Jinping, mengatakan dalam sebuah pernyataan yang memastikan stabilitas ekonomi akan menjadi prioritas utama di tahun depan.
Sementara, menurut kepala ekonomi China untuk Grup Macquarie Larry Hu, pernyataan tersebut merupakan pertama kalinya Politbiro melakukan stabilitas ekonomi.
"Dengan kata lain, para pemimpin puncak sangat prihatin dengan risiko potensi ketidakstabilan," ujar Hu seperti dikutip dari CNN Bussiness, Rabu (8/12/2021).
Dalam hal ini, negara yang beribukota Beijing ini sangat berhati-hati dalam mengintervensi pemulihan ekonomi China selama pandemi virus corona.
Namun, negara dengan ekonomi terbesar kedua di dunia itu mengungguli negara-negara besar lainnya selama pandemi, dan merupakan satu-satunya ekonomi global utama yang tumbuh tahun lalu.
Tetapi China telah menghadapi banyak tantangan untuk pertumbuhan pada tahun 2021, termasuk kekurangan listrik, penundaan pengiriman dan krisis di real estat.
Hu mencatat bahwa selama pertemuan Politbiro Desember lalu, kepemimpinan mengisyaratkan bahwa mereka akan memperketat peraturan tentang bisnis swasta.
Baca Juga: Ancam Warga Bogor, Dua Pegawai Pinjol Jaringan China Ditangkap Polisi
"Kali ini, rapat Politbiro menyarankan bahwa prioritas telah bergeser dari pengetatan regulasi menjadi mendukung pertumbuhan," tambahnya.
Krisis real estat mungkin tampak paling besar bagi China. Evergrande salah satu pengembang terbesar dan paling berhutang di negara itu telah tertatih-tatih di ambang gagal bayarselama berbulan-bulan.
Analis telah lama khawatir bahwa runtuhnya Evergrande dapat memiliki efek riak di seluruh sektor properti di China, yang menyumbang sebanyak 30% dari PDB.
Berita Terkait
Terpopuler
- 4 HP Terbaru 2026 Harga Rp2 Jutaan, Kamera Bagus dan Baterai Besar hingga 7000 mAh
- Silsilah Keluarga Lim Xin Rui yang Resmi Jadi Menantu Hasto Kristiyanto
- Lirik Lagu 'MBG Mas Bahlil Ganteng' yang Viral, Lengkap Asal Usulnya
- 3 Klub Pemain Timnas Indonesia Berhasil Raih Tiket Promosi Musim Ini
- 5 Sunscreen Wardah Terlaris di Shopee Mulai Rp30 Ribuan, Ini Kandungan dan Manfaatnya
Pilihan
-
BREAKING NEWS! Persija Resmi Tidak Perpanjang Kontrak Mauricio Souza
-
Eks Wamenaker Noel Ebenezer: Hukum Mati Saja Saya!
-
Staf Ahli Gubernur Kaltim Bawa-Bawa Status 'Cucu Nabi' demi Redam Demo Massa
-
Cara Buka Tabungan Pesirah Bank Sumsel Babel dari HP, Tak Perlu Antre di Bank
-
Nathalie Holshcer Sebut Pengawal Pribadinya Ditembak Polisi, Minta Tanggung Jawab Polri
Terkini
-
Tokopedia Perkuat Bisnis Kesehatan Digital
-
Konflik di Selat Hormuz Bikin Ekspor Perhiasan Indonesia Terancam Rontok
-
Rupiah Tembus Rp17.803, Pengusaha Dilema: Naikkan Harga atau Menyerah
-
Ini Cara Miliki Rumah Lelang BTN, Harga Bisa 40% di Bawah Pasar
-
ESDM Bersiap Implementasi B50 pada 1 Juni, Jamin Tak Ganggu Stabilitas Industri Sawit
-
ESDM Segel Perusahaan Pengolahan BBM di Banten, Gali Unsur Pidana
-
Ekonomi Digital RI Diproyeksi Tembus Rp 5.500 Triliun, Tapi UMKM Masih Kurang Dana
-
Saham Konglomerasi Jadi Incaran Investor Asing Lakukan Aksi Jual Rp 1,88 Triliun Hari Ini
-
Buruh Indomaret Tuntut Upah Lembur Dibayar Penuh, Begini Respon Menaker
-
Emiten MDLA Mulai Ekspansi, Cari Cuan Bisnis Healthcare di Kamboja