Bisnis / Keuangan
Senin, 04 April 2022 | 08:11 WIB
Perkembangan harga minyak dunia. (Shutterstock)

Suara.com - Harga minyak dunia melemah di awal perdagangan Asia, Senin pagi, setelah Uni Emirat Arab dan kelompok Houthi menyambut gencatan senjata yang akan menghentikan operasi militer di perbatasan Saudi-Yaman.

Kondisi ini mengurangi beberapa kekhawatiran tentang potensi masalah pasokan.

Penurunan awal pekan ini terjadi setelah harga minyak anjlok sekitar 13 persen minggu lalu, pelemahan mingguan terbesar dalam dua tahun.

Mengutip CNBC, Senin (4/4/2022) minyak mentah berjangka Brent, patokan internasional, turun 76 sen atau 0,73 persen menjadi USD103,63 per barel.

Sementara itu, patokan Amerika Serikat, minyak mentah berjangka West Texas Intermediate, menyusut 70 sen, atau 0,71 persen menjadi USD98,57 per barel.

UEA menyambut baik pengumuman gencatan senjata yang ditengahi PBB di Yaman, pada Sabtu. Kelompok Houthi yang bersekutu dengan Iran, yang memerangi koalisi termasuk UEA di Yaman, juga menyambut baik gencatan senjata tersebut.

Gencatan senjata tersebut adalah yang pertama selama bertahun-tahun dalam konflik tujuh tahun Yaman, dan akan memungkinkan impor bahan bakar ke daerah-daerah yang dikuasai Houthi serta beberapa penerbangan beroperasi dari bandara Sanaa, ungkap utusan PBB, Jumat.

"Ini adalah ancaman terhadap pasokan, dan gencatan senjata akan mengurangi ancaman itu terhadap pasokan," kata Phil Flynn, analis Price Futures Group.

Pelaku pasar mengkhawatirkan pasokan global sejak invasi Rusia ke Ukraina pada akhir Februari.

Baca Juga: Harga Minyak Dunia Naik, Ekspor Mobil Toyota Indonesia Diprediksi Meningkat

Sanksi yang dikenakan pada Rusia atas invasi tersebut mengganggu pasokan minyak dan mendorong harga minyak ke hampir USD140 per barel, level tertinggi dalam sekitar 14 tahun.

Kamis pekan lalu, Biden mengumumkan pelepasan 1 juta barel per hari (bph) minyak mentah selama enam bulan dari Mei, yang pada 180 juta barel adalah pelepasan terbesar yang pernah ada dari Strategic Petroleum Reserve (SPR) Amerika.

Sementara itu, BUMN energi Rusia, Gazprom, Minggu, mengatakan pihaknya terus memasok gas alam ke Eropa melalui Ukraina sejalan dengan permintaan dari konsumen Eropa. 

Load More