Suara.com - Kripto dengan pasar terbesar berada di level terendah sepanjang siklus pada level tertinggi sebelumnya di angka 18,570 dolar AS.
Meski terus mengusahakan berada di atas level 20.000 dolar AS, namun kesulitan likuidasi dan likuiditas yang melanda pasar membuat BTC tertekan.
Dalam beberapa pekan ini, melansir Bitcoin Megazine, Bitcoin telah kehilangan lebih dari 30% dari nilai dolar AS hingga catat rekor baru sejak awal pandemi COVID pada Maret 2020 ketika BTC mengalami penurunan harga sebesar 33,45% per data TradingView. Bitcoin diperdagangkan di bawah $18.000 pada waktu pers.
Kenaikan suku bunga di AS dengan laju tercepat dalam beberapa dekade membuat investor waspada dengan pasar investasi termasuk Bitcoin, hingga memicu penurunan tajam.
The Fed menaikkan suku bunga sebesar 0,75% pada pekan ini, kenaikan terbesar oleh sistem bank sentral Amerika sejak 1994, karena inflasi terus meningkat selama setahun terakhir.
Indeks harga konsumen (CPI) AS untuk tahun yang berakhir pada Mei 2022 mencapai 8,6%, lebih tinggi dari bulan sebelumnya (8,3%) dan mewakili level tertinggi baru dalam 40 tahun.
Sementara suku bunga naik, neraca Fed mulai menyusut. Bank sentral mengumumkan bulan lalu bahwa mereka akan memulai periode pengetatan kuantitatif pada 1 Juni, mengurangi pembelian dan kepemilikan asetnya – sebuah putaran pada kebijakan yang telah dimulainya beberapa tahun lalu.
Bitcoin sejauh ini telah ada dalam periode pertumbuhan neraca Fed. Sejak 2008, pada awal krisis subprime, bank sentral mulai secara agresif menggelembungkan kepemilikan asetnya. Masih harus dilihat apa yang akan terjadi dengan mata uang P2P saat The Fed melakukan pengetatan.
Baca Juga: Pakar Ekonomi: Panja DPR Soal Investasi Telkomsel ke GoTo Bisa Ganggu Rencana Bisnis BUMN
Berita Terkait
-
El Salvador, Negara yang Legalkan Mata Uang Kripto Sebagai Alat Bayar Sah
-
Pakar: Panja DPR dalam Investasi GOTO Menghambat Perkembangan Telkomsel
-
Pengamat: Investasi Telkomsel di GOTO Jangan Masuk Ranah Politik!
-
5 Perusahaan Terbesar yang Sahamnya Terdaftar di BEI, Didominasi BUMN
-
Pakar Ekonomi: Panja DPR Soal Investasi Telkomsel ke GoTo Bisa Ganggu Rencana Bisnis BUMN
Terpopuler
- Apakah Jateng Tak Punya Gubernur? Ketua TPPD: Buktinya Pertumbuhan Ekonomi Jateng Nomor Dua di Jawa
- Ayatollah Ali Khamenei Diklaim Tewas, Foto Jasadnya Ditunjukkan ke Benjamin Netanyahu
- Terpopuler: 5 HP Samsung RAM 8 GB Termurah, Sinyal Xiaomi 17T Series Masuk Indonesia
- Promo Indomaret 26 Februari Sampai 1 Maret 2026, Diskon Besar Minyak Goreng dan Pampers
- PERANG DIMULAI: Amerika dan Israel Serang Ibu Kota Iran
Pilihan
-
Ahok Adu Mulut dengan Pengacara Kasus LNG, Hakim Sampai Harus Turun Tangan
-
Kabar Duka, Wakil Presiden ke-6 RI Try Sutrisno Meninggal Dunia di RSPAD Pagi Ini
-
Terungkap! Begini Cara CIA Melacak dan Mengetahui Posisi Ayatollah Ali Khamenei
-
Iran Klaim Hantam Kapal Induk USS Abraham Lincoln Pakai 4 Rudal, 3 Tentara AS Tewas
-
BREAKING: Mantan Presiden Iran Mahmoud Ahmadinejad Dilaporkan Tewas dalam Serangan Israel
Terkini
-
Perang Makin Memanas, IHSG Langsung Terkapar 2,66% dan 704 Saham Merosot
-
BPS Pantau Dampak Perang AS-Israel Vs Iran ke Perdagangan RI
-
Gas Mako Masuk Tahap Implementasi FID, Sinyal Investasi Hulu Migas Kembali Bergairah
-
Wujudkan Hunian Layak dan Berkualitas, BRI Perkuat Program Gentengisasi melalui Skema KUR Perumahan
-
Kena Sentimen Perang AS-Iran, Rupiah Ambruk ke Rp 16.868/USD
-
Emiten Properti LPKR Bukukan Laba Bersih Rp 470 Miliar Sepanjang 2025
-
BEI Umumkan Ketentuan Liquidity Provider Saham, Termasuk Regulasi Free Float
-
BPS: 33 Provinsi Inflasi, Tekanan Terbesar dari Ayam dan Cabai
-
Perang Timur Tengah, Harga BBM RI Bakal Naik Drastis?
-
Purbaya Mau Audit Wajib Pajak Buntut Restitusi Tembus Rp 360 Triliun