Suara.com - Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengatakan pemerintah telah menambah anggaran subsidi energi dan kompensasi mencapai Rp520 triliun untuk tahun 2022.
Pengajuan tambahan ini adalah konsekuensi langkah pemerintah yang tidak menaikkan harga BBM, LPG, dan tarif listrik meski harga energi dunia naik tinggi.
"Pak Pahala (Wakil Menteri BUMN) itu bisa menghabiskan anggaran untuk subsidi dan kompensasi diatas Rp500 triliun untuk tahun ini saja, karena harga energi sekarang naik luar biasa," kata Sri Mulyani dalam acara Kongres Kehutanan Indonesia VII secara daring, Selasa (28/6/2022).
"Rp500 triliun itu uang beneran Bapak, yang kita bakar untuk listrik, LPG 3 Kg, pertalite, diesel, minyak tanah dan pertamax meski naik kemarin tapi belum merefleksikan harga keekonomian," tambah Sri Mulyani.
Makanya kata mantan Direktur Pelaksana Bank Dunia ini pemsaat ini tengah berubah kebijakan peraturan untuk menuju era energi baru dan terbarukan, sehingga tidak lagi mengandalkan dengan energi fosil.
"Saat ini industri kita akan difokuskan pada baterai, baterainya dari listrik, nah listriknya itu dari energi baru terbarukan. Kita masih butuh energi banyak tapi kita turunkan emisinya kita turunkan CO2-nya," katanya.
Per Mei 2022 pemerintah mencatat sudah menggelontorkan anggaran subsidi sebesar Rp75,3 triliun, anggaran subdisi membengkak cukup tinggi karena kenaikan harga energi dunia yang terus melambung sejak invasi Rusia ke Ukraina pada akhir Februari 2022 lalu.
Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menjelaskan belanja Non Kementerian/Lembaga (K/L) per akhir Mei 2022 adalah Rp334,7 triliun, didominasi oleh subsidi dan kompensasi.
"Untuk subsidi mencapai Rp65,24 triliun plus pembayaran kurang bayar Rp10,17 triliun. Jadi lebih dari Rp75,3 triliun yang merupakan pembayaran subsidi, kompensasi, atau kurang bayar," kata Sri Mulyani dalam konferensi pers APBN Kita secara virtual, Kamis (23/6/2022).
Baca Juga: Sri Mulyani Sindir Industri Kehutanan RI: Kaya Hutan Tropis, Tapi Sumbangsih ke PDB Kecil
Kenaikan harga energi ini utamanya didorong kenaikan harga minyak global yang sudah tembus lebih dari USD110 per barel, sehingga ikut mendongkrak harga jual BBM dalam negeri.
Namun ada beberapa jenis BBM yang harganya masih disubsidi oleh pemerintah salah satunya Pertalite, dimana harga jual yang tidak mengalami kenaikan, sementara untuk harga Pertamax sudah mengalami kenaikan.
Sehingga kata dia inilah perbedaan APBN 2022 dengan 2020 dan 2021. Pada 2020 dan 2021, APBN lebih berperan dalam menunjang aspek kesehatan dalam rangka penanganan pandemi Covid-19. Namun saat ini APBN berperan untuk meredam gejolak kenaikan harga komoditas global.
"APBN menjadi shock absorber, harga tinggi namun tidak dilakukan perubahan harga di dalam negeri," katanya.
"Di luar ini, masih ada yang sudah dibahas DPR untuk menambah subsidi dan kompensasi Rp275 triliun. Ini angka yang besar untuk barang-barang yang mengalami kenaikan namun tidak dilakukan kenaikan," pungkasnya.
Tag
Berita Terkait
Terpopuler
- Mengapa Pertalite Mau Dihapus?
- Apa Itu Sepatu Hybrid? Ini 5 Rekomendasi Buatan Lokal Terbaik dan Serbaguna
- Soal TNI-Komcad Dikerahkan di Demo Mahasiswa, Ini Reaksi Komisi I DPR
- Neymar Dipastikan Absen di Piala Dunia 2026, Kesalahan Pertama Ancelotti
- Motor Mirip Harley-Davidson Harga Rasa Matic: Mending Morbidelli C252V atau QJ Motor SRV250?
Pilihan
-
Aksi di DPR Memanas! Peserta Demo Cipayung Menggugat Ngaku Dianiaya Polisi usai Ditangkap
-
Wasit Liga Indonesia 'Berulah', FIFA Investigasi Kemenangan Timnas Jerman vs Curacao
-
Mahasiswa Gelar Demo di DPR, Tagih Janji 19 Juta Lapangan Kerja dan Desak Hentikan MBG
-
Mau Aksi di Patung Kuda, Mahasiswa UBK Sempat Dihadang di Tugu Tani
-
Anggaran Kunjungan Luar Negeri Prabowo Tembus Rp1,1 T! Lebih Besar dari TKD Satu Kabupaten di NTB
Terkini
-
Masih Perkasa, Nilai Tukar Rupiah Naik Paling Tinggi di Asia ke Level Rp17.708
-
Momen Purbaya Mau Tebus Harley Davidson Sitaan Kejagung, Cita-cita Punya Moge Tapi Dilarang Istri
-
Purbaya Terima PNBP Rp 1,029 T dari Kejagung, Ada Sitaan Aset Kasus Eddy Tansil
-
Purbaya Ajukan Anggaran Kemenkeu 2027 Sebesar Rp 49,8 Triliun ke DPR
-
Ibu Dian, Nasabah PNM Lampung yang Menggerakkan Perempuan untuk Berani Berdaya
-
Harga Minyak Dunia Anjlok, Kapan Harga Pertamax Turun?
-
IHSG Meroket 5 Persen: Transaksi Rp17 Triliun, Ini Saham-saham yang Diborong
-
Kunjungi Sekolah Rakyat Jabar II, Komisi V DPR Optimistis Siap Beroperasi Tahun Ajaran Baru
-
Prajogo Pangestu Full Senyum, Saham TPIA Paling Diburu Investor Asing di Sesi I
-
IHSG Meroket 5%, Begini Nasib Saham-saham BUMN