Suara.com - Harga minyak dunia melesat hampir 2 persen pada perdagangan hari Senin, dalam perdagangan yang fluktuatif, naik dari posisi terendah yang disentuh pekan lalu.
Kenaikan ini ditopang data ekonomi yang positif dari China dan Amerika Serikat memberi harapan untuk permintaan meski dibayangi ketakutan resesi.
Mengutip CNBC, Selasa (9/8/2022) minyak mentah berjangka Brent, patokan internasional, ditutup melonjak USD1,73, atau 1,8 persen menjadi USD96,65 per barel.
Sementara itu, patokan Amerika Serikat, minyak mentah berjangka West Texas Intermediate, melejit USD1,75 atau 1,97 persen menjadi menetap di posisi USD90,76 per barel.
Pekan lalu, kekhawatiran resesi dapat mengurangi permintaan energi mendorong harga Brent front-month merosot 13,7 persen ke level terendah sejak Februari. Itu adalah penurunan mingguan terbesar Brent sejak April 2020, dan WTI kehilangan 9,7 persen.
Kedua kontrak tersebut menutup beberapa kerugian pada sesi Jumat setelah pertumbuhan lapangan kerja di Amerika Serikat, konsumen minyak utama dunia, secara tak terduga berakselerasi pada Juli.
"Sekali lagi pengaruh makro merembes kembali ke pasar ini terutama yang berkaitan dengan angka tenaga kerja, Jumat, yang seharusnya memberi kita permintaan bensin yang jauh lebih baik ketimbang yang kita lihat," kata John Kilduff, mitra di Again Capital LLC, New York.
Minggu, China juga mengejutkan pasar dengan pertumbuhan ekspor yang lebih cepat dari perkiraan.
China, importir minyak mentah utama dunia, membawa 8,79 juta barel per hari (bph) minyak mentah pada Juli, naik dari level terendah empat tahun pada Juni, tetapi masih 9,5 persen lebih rendah dari tahun sebelumnya, data bea cukai menunjukkan.
Baca Juga: Minggu Lalu Jadi Pekan yang Buruk Bagi Harga Minyak Dunia
Di Eropa, ekspor minyak mentah dan produk minyak Rusia terus mengalir menjelang embargo yang akan datang dari Uni Eropa yang akan berlaku pada 5 Desember.
Pekan lalu, Bank of England memperingatkan resesi yang berkepanjangan di Inggris.
Dalam hal produksi Amerika, pekan lalu, perusahaan energi memangkas jumlah rig minyak paling banyak sejak September, penurunan pertama dalam 10 minggu.
Analis Goldman Sachs meyakini kasus untuk harga minyak yang lebih tinggi tetap kuat, dengan pasar berada dalam kondisi defisit yang lebih besar ketimbang yang diprediksi dalam beberapa bulan terakhir.
Berita Terkait
Terpopuler
- 5 Cushion Anti Longsor 24 Jam, Makeup Tahan Lama Meski Cuaca Panas
- Film Pesta Babi Bercerita tentang Apa? Ini Sinopsis dan Maknanya
- Bantah Kepung Rumah dan Sandera Anak Ahmad Bahar, GRIB Jaya: Kami Datang Persuasif Mau Tabayun!
- Koperasi Merah Putih Viral, Terekam Ambil Stok dari Gudang Indomaret
- Bagaimana Cara Menonton Film Pesta Babi? Ini Syarat dan Prosedurnya
Pilihan
-
Eks Wamenaker Noel Ebenezer Dituntut 5 Tahun Penjara!
-
'Desa Nggak Pakai Dolar' Prabowo Dikritik: Realita Pahit di Dapur Rakyat Saat Rupiah Tembus Rp17.600
-
Babak Baru The Blues: Menanti Sihir Xabi Alonso di Tengah Badai Pasang Surut Karirnya
-
Maut di Perlintasan! Kereta Hantam Bus di Bangkok hingga Terbakar, 8 Orang Tewas
-
Setahun Menggantung, Begini Nasib PSEL di Kota Tangsel: Pilih Mandiri, Tolak Aglomerasi
Terkini
-
Pertamina dan ASRI Energi Edukasi Bangun Kesadaran Transisi Energi kepada Pelajar Jakarta
-
Masa Bodo Rupiah Melemah, Restrukturisasi BUMN Karya Tetap Gaspol
-
IBC Berharap Pemerintah Beri Insentif untuk Baterai Nikel Buatan Dalam Negeri
-
Pemerintah Pelit Informasi Soal Pembentukan Badan Ekspor
-
Garuda Indonesia Kembali Jadi Maskapai Paling Tepat Waktu di Dunia Versi OAG
-
Kehadiran Dasco Belum Jadi Sentimen Positif, IHSG Makin Ambruk 3,46%
-
Perusahaan Entertaiment Jumbo Mau IPO, Clue-nya Miliki Kebun Binatang
-
Badan Ekspor Mirip Orde Baru? Ekonom CELIOS Wanti-Wanti Risiko Monopoli dan Rente Negara
-
Lampaui Standar IMF, Ini Alasan Cadangan Devisa Indonesia Diklaim Kebal Krisis Global
-
Developer RI Kini Bisa Bangun AI Trading Langsung ke Bursa Kripto