Sementara itu, Direktur Eksekutif Core Indonesia, Mohammad Faisal, mengemukakan sejalan dengan perbaikan ekonomi setelah pandemi, regulator perlu melakukan penyesuaian rencana pengurangan insentif sebagai bagian dari normalisasi kebijakan pada 2023.
Dia menilai perlu diterapkan skala prioritas pada sektor-sektor belum sepenuhnya pulih dan yang rentan terkena dampak guncangan ekonomi global, khususnya sektor padat karya yang banyak mengandalkan pasar ekspor, seperti tekstil dan produk tekstil, industri alas kaki.
“Prioritas insentif dipertahankan pada sektor-sektor yang belum sepenuhnya pulih akibat pandemi, seperti transportasi dan akomodasi. Akibat lonjakan inflasi dan tekanan permintaan global, insentif baru juga diperlukan pada sektor-sektor yang rentan,” ujar Faisal.
Seperti diketahui, saat ini OJK sedang mematangkan rencana untuk memperpanjang program restrukturisasi kredit di tahun 2023. Rencananya, kebijakan perpanjangan restrukturisasi ini akan menyasar pada sektor dan wilayah tertentu yang masih terdampak pandemi Covid-19.
Lebih dalam, Ketua Komite Analis Kebijakan Ekonomi Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo), Ajib Hamdani, mengatakan program restrukturisasi kredit memang sangat dibutuhkan dunia usaha untuk keluar dari dampak pandemi.
Dia menilai fasilitas ini menopang peningkatan penyaluran kredit UMKM, sejalan dengan pemulihan kegiatan usaha. Kredit investasi pada April 2022 tumbuh 13% (yoy), sementara kredit modal kerja tumbuh 18,2% (yoy) pada periode yang sama.
Ke depan, Ajib mengatakan sejalan dengan pemulihan ekonomi, dalam roadmap kebijakan UMKM periode 2019 hingga 2024 Apindo mendorong penguatan jaringan kemitraan untuk memperluas akses informasi, best practices atau pengetahuan, modal dan pembiayaan, standardisasi produk, kelembagaan bisnis, serta pasar bagi UMKM.
Apindo, ujarnya lagi, merekomendasikan adanya sebuah acuan Credit Scoring System (CSS) yang terintegrasi untuk dapat dilakukan instant approval atas suatu pengajuan kredit, dapat mengolah keseluruhan data-data tersebut dalam big data dengan menggunakan AI, sehingga output yang dihasilkan oleh sistem dari waktu ke waktu akan semakin akurat.
“Pemberian KUR perlu dipertajam pada wirausahawan UMKM yang inovatif dan produktif, terutama yang berorientasi ekspor. Artinya segmen UMKM eksportir yang inovatif dan produktif ini harus lebih besar dibandingkan segmen sektor jasa,” ujarnya.
Saat membuka acara, Mohammad Jibriel Avessina, Ketua Forum Diskusi Salemba ILUNI UI, mengatakan kebijakan pro-terhadap UMKM sangat dibutuhkan. Untuk itu, Forum Diskusi Salemba sangat mendukung adanya regulasi yang menopang usaha kecil, sehingga UMKM bisa menjadi penggerak kegiatan ekonomi Indonesia.
Berita Terkait
Terpopuler
- 5 Bedak Lokal yang Awet untuk Kondangan, Tahan Hingga Belasan Jam
- 7 Cushion Anti Oksidasi untuk Usia 50 Tahun, Ringan di Wajah dan Bikin Tampak Lebih Muda
- Awal Keberuntungan Baru, 4 Shio Ini Akhirnya Bebas dari Masa Sulit pada 11 Mei 2026
- Berapa Harga Sewa Pendopo Soimah? Ini Fasilitas Pendopo Tulungo
- Lipstik Merek Apa yang Mengandung SPF? Ini 5 Produk untuk Atasi Bibir Hitam dan Kering
Pilihan
-
Jauh di Bawah Tuntutan Jaksa, Eks Konsultan Kemendikbud Kasus Chromebook Hanya Divonis 4 Tahun
-
Tok! Eks Konsultan Kemendikbudristek Ibam Divonis 4 Tahun Penjara dalam Kasus Chromebook
-
Fenomena Tim Musafir Masih Hiasi Super League, Ketegasan PSSI dan I.League Dipertanyakan
-
Nyanyi Bareng Jakarta: Melodi Penenang bagi Jiwa yang Terpapar Debu Ibu Kota
-
Salah Satu Korban Dikunci dari Luar, Dengar Kiai Ashari Lakukan Aksi Bejat di Kamar Sebelah
Terkini
-
Qavah Group Mau Lipat Gandakan Investasi China ke RI
-
Harga Minyakita di Wilayah Timur Masih Melambung, Kemendag Soroti Kendala Logistik
-
Kadin China Kirim Surat Protes ke Prabowo, Keluhkan Royalti Tambang, RKAB Nikel hingga Satgas PKH
-
Pemerintah Waspadai Lonjakan Harga Gula Pasir, Skema SPHP Diusulkan
-
Siloam Tutup RUPST Tahun Buku 2025, Lanjutkan Pertumbuhan Berkelanjutan Lewat Diferensiasi Arketipe
-
Rupiah Ambruk ke Rp17.500, Pedagang Elektronik Pasar Minggu Ungkap Penjualan Telah Anjlok 50 Persen
-
Paradoks Beras: Stok Melimpah 5,19 Juta Ton, Harga di 105 Daerah Masih Melonjak
-
Rupiah Tembus di Rp17.500, Pedagang Elektronik: Harga Sudah Naik 5 Persen
-
Rupiah Tembus Rp17.528, Harga Laptop dan Ponsel di Mall Ambasador Terancam Melonjak
-
Siap-siap! Dana Rp 31,5 Triliun Bakal Hilang dari Pasar Modal RI