Suara.com - Dewan Minyak Sawit Indonesia (DMSI) mengusulkan pendirian badan atau lembaga khusus yang akan mengurus seluruh sektor industri kelapa sawit di Indonesia, dari awal hingga akhir rantai produksi, dengan tujuan memperkuat tata kelola industri kelapa sawit nasional.
Menurut Plt. Ketua Umum DMSI, Sahat Sinaga, usulan ini didasari oleh pengalaman historis dari komoditas karet Indonesia yang saat ini mengalami penurunan karena kalah bersaing dengan karet sintetis.
DMSI ingin mencegah hal serupa terjadi pada industri kelapa sawit di Indonesia. Oleh karena itu, diperlukan badan atau lembaga khusus yang akan mengurus bisnis kelapa sawit dan bertindak sebagai regulator untuk industri sawit di Indonesia.
Sahat menambahkan bahwa badan atau lembaga khusus yang menangani bisnis kelapa sawit sangat diperlukan agar konflik kepentingan dan persaingan sektoral dapat diminimalisir.
Selain itu, pemerintah melalui Menko Marves dan Kemaritiman Luhut Panjaitan telah menargetkan produksi kelapa sawit mencapai 100 juta ton pada tahun 2045, saat Indonesia memasuki masa keemasannya.
Melansir dari Antara, saat ini, produktivitas kelapa sawit rata-rata hanya sekitar 3,5 ton per hektar per tahun, padahal angka tersebut dapat ditingkatkan menjadi 6,5 ton per hektar per tahun dengan luas kebun yang mencapai 16,38 juta hektar saat ini. Maka dari itu, badan khusus untuk kelapa sawit sebagai regulator sangat penting untuk mendukung pencapaian target tersebut.
Deputi Bidang Koordinasi Pangan dan Pertanian Kemenko Perekonomian, Musdalifah Mahmud, memberikan apresiasi terhadap usulan pembentukan badan khusus kelapa sawit untuk mendorong keberlanjutan industri kelapa sawit ke depan.
Ia menyarankan agar usulan tersebut diajukan melalui proposal yang komprehensif, terutama mengingat akan terbentuknya kabinet baru setelah pemilu 2024. Ia berharap badan khusus tersebut dapat menjaga keberlanjutan industri kelapa sawit di Indonesia.
Direktur Utama Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS), Eddy Abdurrachman, menyatakan bahwa upaya pembentukan badan komoditas kelapa sawit sudah dimulai dengan pendirian Badan Layanan Umum (BLU) yang mengelola dana kelapa sawit.
Baca Juga: Lahan Sawah Indragiri Hilir Terluas di Riau, Gubernur Syamsuar Siap Bantu Petani
Namun, masih diperlukan banyak perbaikan dalam industri kelapa sawit, termasuk perbaikan tata kelola perkebunan kelapa sawit rakyat yang berpotensi meningkatkan produktivitas usaha perkebunan kelapa sawit nasional. Dengan adanya badan khusus, ia berpendapat akan terbuka peluang yang lebih besar di pasar domestik untuk kelapa sawit.
Saat ini, sebagian besar produksi kelapa sawit nasional (67% dari total produksi) dikonsumsi di pasar domestik, memberikan kekuatan tawar yang lebih besar bagi Indonesia sebagai penentu harga perdagangan kelapa sawit global.
Ketua Bidang Komunikasi dan Promosi Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (APKASINDO), Qayuum Amri, berharap badan khusus kelapa sawit dapat membantu menyelesaikan masalah petani terkait legalitas kebun.
Menurutnya, petani kelapa sawit membutuhkan kepastian status hak kepemilikan kebun untuk menjaga keberlanjutan usaha pertanian, serta menghadapi penurunan harga tandan buah segar (TBS) kelapa sawit. Ia berpendapat bahwa peran badan khusus kelapa sawit sebagai regulator sangat penting untuk mencegah terulangnya masalah harga di masa mendatang.
Berita Terkait
-
GAPKI Ingatkan Kebakaran Hutan Tidak Identik dengan Kebun Sawit
-
Aplikasi Bank Benih Perkebunan Dukung Program Peremajaan Sawit Rakyat
-
Bio Inti Agrindo Beberkan Rencanan Pengembangan Masyarakat Sekitar Perkebunan
-
Menko Luhut Bakal 'Gebuk' Pengusaha Sawit Yang Bandel
-
Lahan Sawah Indragiri Hilir Terluas di Riau, Gubernur Syamsuar Siap Bantu Petani
Terpopuler
- Lipstik Warna Apa yang Cocok di Usia 50-an? Ini 5 Pilihan agar Terlihat Fresh dan Lebih Muda
- 5 Rekomendasi Sampo Kemiri Penghitam Rambut dan Penghilang Uban, Mulai Rp10 Ribuan
- 5 Sampo Uban Sachet Bikin Rambut Hitam Praktis dan Harga Terjangkau
- 5 Rekomendasi Sepatu Adidas untuk Lari selain Adizero, Harga Lebih Terjangkau!
- 5 Cat Rambut yang Tahan Lama untuk Tutupi Uban, Harga Mulai Rp17 Ribuan
Pilihan
-
Duduk Perkara Ribut Diego Simeone dengan Vinicius Jr di Laga Derby Madrid
-
5 HP Xiaomi RAM 8GB Paling Murah Januari 2026, Harga Mulai Rp2 Jutaan
-
Rupiah Terkapar di Level Rp16.819: Kepercayaan Konsumen Lesu, Fundamental Ekonomi Jadi Beban
-
Kala Semangkok Indomie Jadi Simbol Rakyat Miskin, Mengapa Itu Bisa Terjadi?
-
Emiten Ini Masuk Sektor Tambang, Caplok Aset Mongolia Lewat Rights Issue
Terkini
-
Perpanjangan PPN DTP 100 Persen, Rumah Tapak di Kota Penyangga Jadi Primadona
-
Sinergi Strategis Hilirisasi Batu Bara, Wujudkan Kemandirian Energi Nasional
-
OJK Blokir 127 Ribu Rekening Terkait Scam Senilai Rp9 Triliun
-
Bulog Gempur Aceh dengan Tambahan 50.000 Ton Beras: Amankan Pasokan Pasca-Bencana dan Sambut Ramadan
-
Swasembada Beras Sudah Sejak 2018, Apa yang Mau Dirayakan?
-
Kemenperin Adopsi Sistem Pendidikan Vokasi Swiss untuk Kembangkan SDM
-
Dukung Ekonomi Kerakyatan, Bank Mandiri Salurkan KUR Rp 41 Triliun hingga Desember 2025
-
Realisasi Konsumsi Listrik 2025 Tembus 108,2 Persen dari Target
-
Rupiah Terkapar di Level Rp16.819: Kepercayaan Konsumen Lesu, Fundamental Ekonomi Jadi Beban
-
Kementerian PU Percepat Pembangunan Huntara di Aceh Tamiang, 7 Blok Rampung untuk 84 KK