Suara.com - Evergrande Group, raksasa properti asal China kini dipastikan tamat usai Pengadilan Hong Kong meminta mereka untuk segera melikuidasi aset karena utang yang terlalu besar.
Kputusan ini jadi pukulan berat bagi sektor real estat di China yang sedang mengalami perlambatan. Pengadilan mengambil langkah ini setelah upaya Evergrande untuk mencapai kesepakatan restrukturisasi utang dengan kreditur internasional tidak berhasil.
Tiga tahun lalu, Evergrande sempat mengalami kesulitan finansial dengan akumulasi utang yang besar dan kegagalan untuk membayar utang yang turut berdampak pada ekonomi China.
Secara spesifik, pada akhir Juni 2023, total utang perusahaan mencapai 333 miliar dolar AS. Jumlah ini setara dengan sekitar Rp 5.267 triliun jika dikonversikan dengan kurs pertukaran sebesar Rp 15.817 per dolar AS.
Nantinya, aset tersebut akan dijual untuk melunasi hutang untuk kemudian Evergrande dipastikan untuk pailit. Aset Evergrande di luar negeri juga sudah dihitung secara keseluruhan sebelum likuidasi.
"Namun, hal ini masih dianggap sebagai langkah mundur yang signifikan bagi sektor real estat domestik yang sudah mengalami masalah, yang kemungkinan akan lebih merusak sentimen investor," kata Kepala Investasi Kaiyuan Capital, Brock Silvers, seperti yang dilaporkan oleh CNN pada Senin (29/1/2024).
Hingga saat ini, masalah ekonomi China masih berkutat pada deflasi dan utang. Sementara, mereka juga mengalami penurunan angkatan kerja.
Ekonomi China mengalami tekanan setelah tumbuh pesat selama beberapa dekade didukung oleh tingginya minat terhadap aset properti.
Pertumbuhan ini sebagian besar dipicu oleh laju urbanisasi yang tinggi, yang pada satu titik menyumbang sekitar 30 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB) negara tersebut.
Baca Juga: Viral Lowongan Kerja Jadi Raja Kera Digaji Rp13 Juta, Tertarik Melamar?
Namun, sektor properti mengalami kendala setelah pemerintah membatasi pinjaman berlebihan kepada pengembang pada tahun 2020, dengan tujuan untuk mengatasi gelembung properti yang sedang terjadi. Sejak saat itu, puluhan pengembang properti di China mengalami kesulitan untuk membayar utang mereka.
Pada bulan Desember 2023, terjadi penurunan harga rumah baru dengan jumlah penurunan tertinggi dalam hampir sembilan tahun terakhir.
Di samping itu, investasi dalam sektor properti juga turun sebesar 9,6 persen pada tahun 2023 dibandingkan dengan tahun sebelumnya, menandai penurunan untuk tahun kedua secara berturut-turut.
Berita Terkait
-
Mobil Listrik Murah China akan Gilas Industri Barat? Begini Kata Elon Musk
-
Teknologi Masa Depan yag Ditunggu, Baterai Tahan Hingga 50 Tahun Mulai Diuji Coba
-
Siap Bikin Toyota Land Cruiser Goyah, Pabrikan Otomotif China Hadirkan SUV Kekar
-
China Beri Peringatan Keras kepada AS: Jangan Campuri Urusan Taiwan
-
Viral Lowongan Kerja Jadi Raja Kera Digaji Rp13 Juta, Tertarik Melamar?
Terpopuler
- 4 HP RAM 8 GB Harga di Bawah Rp1,5 Juta: Kamera Bagus, Performa Juara
- 4 Mobil Bekas Rp50 Jutaan yang Ideal untuk Harian: Irit, Gesit Pas di Gang Sempit
- 5 Cat Rambut untuk Menutupi Uban: Hasil Natural, Penampilan Lebih Muda
- Kronologi Pernikahan Aurelie Moeremans dan Roby Tremonti Tak Direstui Orang Tua
- Bukan Sekadar Estetika, Revitalisasi Bundaran Air Mancur Palembang Dinilai Keliru Makna
Pilihan
-
Nama Orang Meninggal Dicatut, Warga Bongkar Kejanggalan Izin Tanah Uruk di Sambeng Magelang
-
Di Reshuffle Prabowo, Orang Terkaya Dunia Ini Justru Pinang Sri Mulyani untuk Jabatan Strategis
-
Akun RHB Sekuritas Milik Wadirut Dijebol, Ada Transaksi Janggal 3,6 Juta Saham BOBA
-
Danantara Janji Bangkitkan Saham Blue Chip BUMN Tahun Ini
-
Gurita Bisnis Adik Prabowo, Kini Kuasai Blok Gas di Natuna
Terkini
-
Pemerintah Siapkan Insentif Lebaran 2026, Ada Diskon Tiket Pesawat
-
Airlangga Klaim Indonesia Resmi Swasembada Solar, Tak Perlu Impor Lagi
-
Jurus Purbaya Ciptakan Indonesia Emas 2045 lewat Ekonomi
-
Rupiah Masih Keok Lawan Dolar AS, Ditutup di Level Rp 16.876
-
Fenomena Kelebihan Bayar Pajak Membengkak
-
Tugas Sri Mulyani Usai Dapat Jabatan dari Bill Gates
-
Bikin Gonjang-ganjing Global, RI Bakal Pangkas Produksi Batu Bara ke 600 Juta Ton di 2026
-
Purbaya Heran Kapal Bantuan Bencana Sumatra Ditagih Bea Cukai Rp 30 Miliar
-
Purbaya Tambah Rp 3 Triliun Anggaran Satgas Jembatan: Kalau Enggak Beres, Keterlaluan
-
Produksi Meroket, Mentan Amran Bidik Serapan Gabah 2026 Tembus 4 Juta Ton