Suara.com - Raksasa tekstil Indonesia, PT Sri Rejeki Isman Tbk (Sritex SRIL) mulai meredup di tengah tumpukan utang yang menggunung. Selain utang yang menumpuk, perdagangan saham Sritex juga telah dihentikan. Nasib saham Sritex pun terancam delisting.
PT Sri Rejeki Isman diketahui sudah sejak bertahun-tahun lalu mengalami masalah keuangan. Pada September tahun 2023, ekuitas perusahaan berada pada kondisi negatif yang menandakan defisit modal dan kondisi perusahaan sedang kritis. Tercatat Utang Sritex mencapai US$1,54 miliar atau setara dengan Rp24,3 triliun.
Utang 'Jumbo' Sritex
Jumlah utang Sritex didominasi oleh utang-utang yang mempunyai bunga seperti utang bank dan juga obligasi. Secara lebih rinci utang bank dan obligasi Sritex antara lain yaitu:
• Utang bank jangka panjang yang jatuh tempo dalam satu tahun dengan total US$13,06 juta atau Rp203,67 miliar.
• Utang jangka dengan jatuh tempo kurang dari setahun senilai US$5 juta atau setara Rp78 miliar.
• Utang bank dan obligasi jangka panjang dengan jumlah US$1,33 miliar atau Rp20,57 triliun.
• Utang bank dan obligasi sejumlah US$992 juta atau Rp15,49 triliun.
• Surat utang jangka menengah adalah US$14,58 juta atau Rp227,5 miliar.
• Total obligasi senilai US$368,25 miliar atau sama dengan Rp5,744 triliun.
Baca Juga: 4 Faktor Penyebab Sritex Terancam Bangkrut, Dulu Dipercaya NATO, Mampukah Bangkit dari Keterpurukan?
Total utang tersebut sama dengan 86,88% dari total liabilitas yang dimiliki Sritex per September 2023. Di aman utangnya didominasi masa jatuh tempo dalam jangka panjang. Utang jangka panjang sendiri merupakan utang bernilai mahal karena harus bayarkan jangka waktu yang lebih lama.
Sebagai informasi, utang bank dan obligasi menyebabkan tumbuhnya bunga yang harus di bayar selain jumlah pokok pinjaman. Implikasinya menhakibatkan beban bunga akan menggerus pendapatan sehingga membuat kinerja profitabilitas melemah hingga memburuk.
Utang yang menumpuk ini membuat Sritex mengalami masalah serius. Jumlah utang bank dan obligasi yang dimilikinya jauh lebih tinggi dari jumlah aset yang hanya senilai US$653,51 juta (Rp10,33 triliun), sehingga perusahaan ini mengalami defisit modal.
Penurunan drastis hasil produksi Sritex ini dipicu oleh beberapa faktor, antara lain seperti pandemi Covid-19 yang menghantam industri tekstil secara global. Persaingan ketat yang terjadi di pasar internasional dan pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS sangat mempengaruhi kondisi keuangan perusahaan.
Nasib Saham Sritex
Perdagangan saham SRIL telah dihentikan sejak 18 Mei 2021 lalu. Itu artinya pada Juni 2024 ini telah memasuki bulan ke-37. Sementara menurut situs resmi perusahaan, laporan keuangan terakhir yang dilaporkan yaitu pada bulan September 2022.
BEI menjelaskan, bursa bisa menghapus pencatatan saham perusahaan yang tercatat jika mengalami kondisi, atau peristiwa, yang secara signifikan akan berpengaruh negatif terhadap kelangsungan sehuah usaha, baik itu secara finansial maupun secara hukum.
Berita Terkait
-
Data Perdagangan BEI Sinyal Kuat Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Tahun 2024?
-
4 Faktor Penyebab Sritex Terancam Bangkrut, Dulu Dipercaya NATO, Mampukah Bangkit dari Keterpurukan?
-
Calon Emiten Distributor Alat Kesehatan Ini Mau IPO, Buka Harga Rp100-Rp105 Per Saham
-
Mengintip Produk Sritex, Perusahaan Tekstil Pendukung Prabowo-Gibran yang Kini Diduga Terancam Bangkrut
-
Sritex Pabrik Apa? Pabrik Tekstil Terbesar Se-Asia Tenggara, Terlilit Utang hingga Terancam Bangkrut
Terpopuler
- Pentagon Gelar Karpet Merah, Sjafrie Sjamsoeddin Dituding Bawa Agenda Akses Bebas di Langit RI
- 6 Sabun Cuci Muka yang Bagus untuk Memutihkan Wajah dan Harganya
- AS Blokade Semua Pelabuhan Iran Senin Hari Ini, Harga BBM Langsung Naik
- 7 HP Murah di Bawah Rp1 Juta Paling Layak Beli di 2026, Performa Oke Buat Harian
- 7 HP Samsung Seri A yang Sudah Kamera OIS, Video Lebih Stabil
Pilihan
-
Rivera Park Tebo Terancam Lagi, Tambang Ilegal Kembali Beroperasi Saat Wisatawan Membludak
-
Bukan Merger, Willy Aditya Ungkap Rencana NasDem-Gerindra Bentuk 'Political Block'
-
Habis Kesabaran, Rossa Ancam Lapor Polisi Difitnah Korban Operasi Plastik Gagal
-
Konflik Geopolitik Tak Pernah Belanja di Warung, Tapi Pelaku UMKM Semarang Dipaksa Akrobat
-
Kenapa CFD di Kota Lain Lancar, Tapi Palembang Macet? Ini Penyebab yang Terungkap
Terkini
-
Negosiasi Pasokan BBM dan LPG dari Rusia, Menteri ESDM: Hasilnya Memuaskan
-
Pasar Modal Lebih Sehat dan Kredibel Berkat Reformasi OJK
-
Ketahanan Ekonomi Indonesia Raih Pengakuan Internasional di Tengah Ujian Geopolitik
-
IHSG Terus Menguat Bukti Reformasi Pasar Modal OJK Berbuah Manis
-
Reformasi OJK Sukses Tingkatkan Transparansi Pasar Modal Indonesia
-
Berlayar Sampai ke Pulau Sumbawa, Pertamina Pastikan Kompor Warga Tetap Menyala
-
Pertamina Sebaiknya Segera Naikkan Harga BBM Nonsubsidi, Awas Merugi
-
PT PGE dan PT PLN IP Sepakati Tarif Listrik, PLTP Lahendong Bottoming Unit Mulai Operasi 2028
-
Bukan KPR Biasa, Ini Rahasia Punya Properti dengan Biaya Terjangkau di BRI
-
Aturan Baru Purbaya, APBN Tanggung Cicilan Utang Kopdes Merah Putih